Perbincangan ibadah shaum dalam Alquran terdapat
dalam surah al-Baqarah [2]: 183-188. Dimulai dari perintah shaum (QS 2:
183) dan diakhiri dengan larangan memakan harta orang lain dengan cara
bathil atau korupsi (QS 2: 188) sebagai atsar atau implikasi yang mesti
ada dari orang yang shaum.
Ada yang menarik, di tengahtengah
perbincangan ibadah shaum tiba-tiba ada ayat yang berbunyi, "Dan apabila
hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah),
bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang
berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi
(segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka
selalu berada dalam kebenaran. (QS 2: 186).
Kalau kita membaca
sepintas ayat di atas, sepertinya tidak ada hubungannya dengan ibadah
shaum, sebab tidak ada satu pun kata shaum atau yang berkaitan
dengannya. Namun, jika dicermati lebih dalam, akan diketahui bahwa
hubungan antara shaum dan kedekatan dengan Allah SWT sangat erat.
Untuk memahami keeratan hubungan tersebut dapat dimulai dari memahami
hakikat manusia. Alquran menggambarkan manusia sebagai makhluk mulia (QS
al- Isra [17]: 70) yang terdiri atas dua unsur penting, yaitu jasad dan
ruh. Kedua unsur tersebut tidak bisa dipisahkan tapi bisa dibedakan.
Jasad berasal dari tanah, sedangkan ruh berasal dari Allah SWT (QS Shaad
(38): 71-72).
Secara alami, setiap makhluk Allah memiliki
kecenderungan ingin kembali ke asal. Demikian juga, unsur-unsur yang
membangun manusia. Karena jasad berasal dari tanah, kecenderungannya ke
tanah juga. Manusia menyenangi makanan, minuman, lawan jenis, atau
perhiasan karena berasal dari tanah. Dan jika dibiarkan berlebihan akan
mengotori ruh manusia.
Sama halnya dengan jasad, ruh yang berasal dari Allah SWT maka memiliki kecenderungan ingin kembali dan mendekat ke asalnya, yakni Allah SWT. Menurut QS Shaad [38]: 71-72, setelah jasad manusia disempurnakan, Allah meniupkan ruh-Nya ke dalam jasad tersebut. Ketika ruh berada di dalam jasad, ia terikat dan terpenjara oleh keinginankeinginan rendah dari jasad.
Akibatnya, ia sulit untuk kembali mendekat ke asalnya, yaitu Allah SWT. Ibadah shaum merupakan salah satu upaya melepaskan ruh dari ikatan-ikatan keinginan rendah jasad, sehingga ia dapat mendekat lagi ke asalnya, yaitu Allah SWT.
Shaum pada hakikatnya upaya pengendalian keinginan jasad melalui menahan makan, minum, dan syahwat pada siang hari. Ketika keinginan jasad dapat dikendalikan, keberadaan ruh tidak lagi terikat dan terpengaruh oleh keinginan tersebut.
Dalam kondisi seperti ini, keberadaan roh menjadi relatif bebas tak terikat lagi keinginan rendah jasad sehingga dapat dengan mudah mendekat kepada Allah SWT. Itulah makna ayat, Aku adalah dekat (QS 2: 186). Kedekatan yang dimaksud adalah kedekatan rohiyah. Dan itu terjadi melalui proses ibadah shaum.
Republika
"Setiap manusia memiliki rezeki masing-masing yang sudah ditentukan oleh Allah. Terkadang ada manusia yang diberi harta berkecukupan maupun kekurangan. Namun ada juga yang diberi harta yang berlebihan. Salah satunya adalah Qorun.
"Dikisahkan dalam Surat Al-Qasash ayat 76, seorang hamba bernama Qorun yang merupakan kaum Nabi Musa. Dia dianugerahi harta yang melimpah oleh Allah, sampai-sampai kunci dari harta tersebut sungguh berat meskipun dibawa oleh orang yang kuat. Namun sayangnya, Qorun merupakan orang yang sombong, sehingga Allah memperingatkan kepada Qorun.
Allah berfirman selanjutnya pada ayat 77, "Carilah pada apa yang dianugerahkan padamu dari kebahagiaan akhirat dan janganlah kamu melupakan kebahagiaanmu karena kenikmatan dunia."
Qorun yang sombong menjawab, "Sesungguhnya aku diberi harta karena ilmu yang kumiliki." Tak hanya itu, kemudian Qorun pun menunjukkan kekayaannya dengan iring-iringan pawai. Melihat Qorun, orang-orang yang menghendaki kesenangan dunia berharap bisa kaya seperti dirinya.
Namun, orang-orang saleh justru berkata, "Celakalah bagimu, karena pahala Allah lebih baik bagi mereka yang beriman dan tidak diperoleh pahala kecuali bagi orang yang sabar."
Melihat Qorun yang sombong, akhirnya Allah menenggelamkan Qorun beserta hartanya ke dalam bumi. Tidak ada baginya suatu golongan apa pun yang bisa menolongnya dari azab Allah.
Kisah Qorun memberi kita pelajaran bahwa harta yang banyak belum tentu mampu membawa kita kepada keberkahan apabila tidak disyukuri dan dibayarkan zakat, justru bisa membawa kita kepada azab yang sangat pedih.
"Ada sebuah hadis yang pernah diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, Fa inna umrata fiihi takdilu khajjah. Artinya, umrah di bulan Ramadhan pahalanya seperti ibadah haji.
Dalam riwayat yang lain juga disebutkan, khajjata ma'ii. Artinya, (pahalanya seperti) haji bersamaku. Lalu apakah hadis tersebut dianggap sahih oleh kebanyakan ulama?
Melansir dari laman Muslim.or.id, hadis tersebut tergolong hadis yang shahihain atau sahih. Sehingga hadis itu dijadikan sebagai keutamaan ibadah umrah pada bulan Ramadhan.
Namun,
sebagian ulama juga berpendapat bahwa hadis tersebut eksplisit (khusus)
untuk seorang perempuan yang saat itu berbincang dengan Rasulullah
saja.
Munculnya hadis tersebut dilatarbelakangi saat Rasulullah bertanya kepada seorang perempuan, "Mengapa engkau tidak berhaji bersamaku?".
Perempuan itu menjawab, ia tak berhaji bersama Rasulullah lantaran
harus mengurus rumah tangga untuk menggantikan suaminya yang ikut
berhaji bersama Rasulullah.
Maka kemudian, Rasulullah berkata
kepada perempuan itu, "Apabila nanti datang bulan Ramadhan, pergilah
umrah. Karena umrah di bulan Ramadhan pahalanya sama seperti ibadah
haji."
Dari situlah, pendapat ulama terpecah menjadi dua.
Sebagian ulama menganggap bahwa hadis tersebut khusus ditujukan untuk
perempuan itu saja. Beberapa ulama bersikukuh bahwa hadis itu berlaku
untuk semua orang yang beribadah umrah pada bulan Ramadhan.
Kelompok
ulama yang tidak sepaham, kemudian mengajukan pertanyaan, bagaimana
mungkin pahala ibadah umrah sama seperti haji? Padahal, amalan yang
dilakukan haji lebih banyak?
Ulama ahli hadis dan ahli fikih
menjawab, hadis itu sama seperti hadis Rasulullah tentang keutamaan
membaca surat Al-Ikhlas yang sebanding dengan membaca sepertiga Alquran.
Padahal, surat Al-Ikhlas hanya terdiri dari empat ayat.
Meskipun Rasulullah selalu berumrah pada bulan Dzulqa'dah, tetapi jumhur (kebanyakan) ulama berpendapat bahwa umrah pada bulan Ramadan sangat diutamakan jika membicarakan pahala.
Sedangkan jika berbicara keutamaan mengikuti kebiasaan Rasulullah, maka umrah pada bulan Dzulqa'dah lebih diutamakan.
Yang
pasti, tidak diperbolehkan seseorang membanding-bandingkan dan
menghakimi orang lain. Dalam artikel yang ditulis Amrullah Akadintha
menyebutkan, Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan jika masalah ini adalah masalah pilihan semata.
"Shalat witir artinya shalat ganjil. Shalat witir adalah shalat sunah
malam yang dikerjakan dengan jumlah rakaat ganjil. Baik satu, tiga,
lima, tujuh, sembilan atau 11 rakaat.
Shalat ini hukumnya sunah
muakkad dan dianjurkan Rasulullah untuk dikerjakan setiap malam. Tidak
hanya pada bulan Ramadhan. Sayyidina Ali RA berkata, bahwasanya
Rasulullah SAW bersabda "Berwitirlah hai ahli baca Alquran, karena Allah
itu witir (ganjil) dan menyukai yang ganjil," (HR. Lima ahli hadits dan
dishahihkan oleh Ibnu Huzaimah).
Kemudian Abu Hurairah RA
berkata, bahwasanya Nabi Muhammad SAW pernah bersabda: "Barang siapa
yang tidak mengerjakan shalat witir, maka ia bukan dari golonganku,"
(HR. Ahmad).
Selanjutnya 'Ali bin Abi Thalib RA berkata lagi:
"Shalat witir itu bukan suatu keharusan seperti halnya shalat fardhu,
tetapi itu sunat yang dibiasakan oleh Rasulullah," (HR. Ahmad, An
Nasa'i, dan Tirmidzi).
Sementara itu, Ibu Majah RA meriwayatkan
dengan lafadz: "Sesungguhnya shalat witir itu bukan keharusan, dan tidak
sebagaimana shalatmu yang wajib. Tetapi Rasululah suka mengerjakannya.
Ia
bersabda "Shalat witir itu adalah hak, maka barang siapa yang suka
witir dengan lima rakaat, maka kerjakanlah dan barangsiapa sua witir
tiga rakaat, maka kerjakanlah. Lalu barangsiapa suka shalat witir satu
rakaat, maka kerjakanlah," (HR Lima ahli hadits, kecuali Tirmidzi).
http://www.republika.co.id/berita/ramadhan/shaum-ala-rasulullah-saw/17/06/07/or5ww0313-ini-keutamaan-shalat-witir
"Kisah tentang orang-orang yang beriman dan bertakwa selalu menjadi
pelajaran hingga kapan pun. Salah satunya kisah paman Nabi Muhammad SAW,
Abbas bin Abdul Muththalib yang keberadaannya banyak bermanfaat bagi
banyak orang.
Abbas adalah saudara kandung ayah Rasulullah SAW.
Ia termasuk salah seorang tokoh sahabat yang ikut mengibarkan panji
Islam. Sepak terjangnya dicatat sejarah dengan tinta emas dalam Baiat
Aqabah Kubra.
Ia adalah salah seorang yang paling akrab dan
paling dicintainya Rasulullah SAW. Beliau senantiasa berkata, "Abbas
adalah saudara kandung ayahku. Barang siapa yang menyakiti Abbas sama
dengan menyakitiku."
Semasa kenabian Rasulullah, Abbas selalu
menemani dan membantu. Ia banyak berperan dalam mengurus kemakmuran
Masjidil Haram dan melayani minuman para jamaah haji. Mungkin karena
perbuatan-perbuatan mulianya, maka Allah tak ragu untuk mengabulkan
doa-doanya.
Pada suatu hari dalam pemerintahan Khalifah Umar,
terjadi paceklik hebat dan kemarau ganas. Orang-orang berdatangan kepada
Khalifah untuk mengadukan kesulitan dan kelaparan yang melanda
daerahnya masing-masing.
Umar menganjurkan kepada Muslimin yang
berkemampuan supaya mengulurkan tangan membantu saudara-saudaranya yang
ditimpa kekurangan dan kelaparan. Para penguasa di daerah diperintahkan
supaya mengirimkan kelebihan di daerahnya ke pusat.
Ka'ab
kemudian menemui Khalifah Umar seraya berkata, "Wahai Amirul Mukminin,
biasanya Bani Israel kalau menghadapi bencana semacam ini, mereka
meminta hujan dengan kelompok para nabi mereka."
Umar pun teringat Abbas. Ia berkata,"Ada paman Rasulullah dan saudara kandung ayahnya. Ia pimpinan Bani Hasyim."
Khalifah
Umar pun menemui Abbas dan menceritakan kesulitan besar yang dialami
umat akibat kemarau panjang dan paceklik itu. Ia naik mimbar bersama
dengan Abbas.
Umar berkata, "Ya Allah, kami menghadapkan diri
kepada-Mu bersama dengan paman Nabi kami dan saudara kandung ayahnya,
maka turunkanlah hujan-Mu dan janganlah kami sampai putus asa!"
Abbas lalu meneruskan, memulai doanya dengan puja dan puji kepada Allah SWT, ''Ya
Allah, Engkau yang mempunyai awan dan Engkau pula yang mempunyai air.
Sebarkanlah awan-Mu dan turunkanlah air-Mu kepada kami. Hidupkanlah
semua tumbuh-tumbuhan dan suburkanlah semua air susu.
Ya
Allah, Engkau tidak mungkin menurunkan bencana kecuali karena dosa dan
Engkau tidak akan mengangkat bencana kecuali karena tobat. Kini umat ini
sudah menghadapkan dirinya kepada-Mu, maka turunkanlah hujan kepada
kami..."
Ternyata doanya itu langsung diterima dan diijabah
Allah SWT. Hujan lebat tak lama turun dan tumbuh-tumbuhan tumbuh dengan
suburnya.
Orang-orang bersyukur kepada Allah dan mengucapkan selamat kepada Abbas, "Selamat kepadamu, wahai Saqil Haramain, yang mengurusi minuman orang di Makkah dan Madinah."
Semasa
hidupnya, Abbas berperan sebagai seorang penasihat dan juru runding.
Abbas RA wafat pada hari Jumat, 12 Rajab 32 H, dalam usia 82 tahun. Ia
dikebumikan di Baqi', Madinah.
http://www.republika.co.id
"Bangunan masjid yang indah memberi nilai tambah khususnya dalam sisi pariwisata. Salah satunya seperti Masjid Terapung Arkam Babur Rahman yang terletak di Pantai Talise, Kota Palu, Sulawesi Tengah. Masjid terapung ini tertancap oleh pilar yang mencapai kedalaman 10 meter.
Masjid yang diresmikan sejak tahun 2011 ini mampu menampung sebanyak 200 jamaah. Pada saat malam hari, kubah masjid ini akan memancarkan cahaya sebanyak 7 warna.
"丂eolah sudah jadi salah satu sifat dunia bahwa menilai orang lain jauh lebih mudah dibanding mengetahui aib dalam diri.
Terlebih saat seseorang pernah melakukan kesalahan. Seolah kemudian kesalahan itu kemudian melekat dibenak kita sebagai bagian dari identitas orang tersebut.
Sehingga meski telah berubah sekalipun orang tersebut tetap dikenal dan diingat kesalahannya.
Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Salah seorang dari kalian dapat melihat kotoran kecil di mata saudaranya tetapi dia lupa akan kayu besar yang ada di matanya.” (HR. Bukhari) Parahnya, tak jarang pula pendapat itu membuat kita merasa lebih baik daripada orang yang dimaksud. Sehingga tanpa kita sadari hal itu menjadi penyakit yang merusak hati. Imam hasan Al Bashri pernah ditanya: "Siapakah orang yang paling buruk?" Beliau menjawab: "Orang yang merasa dirinya lebih baik dari orang lain" Dan tatkala prasangka buruk orang mampir tanpa diundang dalam kehidupan kita, dan kemudian membuat ruang dalam hati kecil kita terasa begitu sesak, Sabar sabarlah... Toh Allah tak pernah salah dalam penilaian-Nya. Siapalah yang tahu bahwa sabar itulah yang kelak nanti menyelamatkan kita. Siapalah yang menduga jika sabar itulah yang menyemai bibit dan kemudian berbuah menjadi pahala. Tetaplah untuk berani. Berani berhijrah. Berani menjadi lebih baik. Salam,
"Rasulullah pernah bersabda "Banyak orang membaca Alquran, tapi Alquran
melaknat mereka". Hal ini dikaitkan dengan niat setiap orang dalam
melakukan suatu ibadah.
Beliau kemudian bersabda lagi "Pada hari
Kiamat, seorang yang pertama kali akan dihisab ialah si syahid (yang
gugur di jalan Allah). Ia akan dipanggil dan akan diingatkan kembali
akan nikmat-nikmat yang telah dikaruniakan kepadanya ketika di dunia.
Ia
mengakui segala nikmat tersebut. Kemudian akan ditanyakan kepadanya:
"Apa yang telah kamu lakukan sebagai rasa syukurmu terhadap
nikmat-nikmat yang telah dikaruniakan itu?"
Si syahid menjawab "Aku telah mempergunakan seluruhnya untuk berperang di jalan-Mu, sehingga aku mati syahid".
Lalu
Allah SWT berfirman: "Dusta! kamu berperang di jalan Allah agar
orang-orang menyebutmu sebagai pemberani, dan kamu telah
mendapatkannya".
Kemudian diperintahkan agar ia dilemparkan ke dalam neraka Jahannam dalam keadaan muka tertelungkup.
Kemudian
seorang alim pun akan dipanggil. Dia akan diingatkan dengan
nikmat-nikmat yang telah dikaruniakan padanya. Lalu ia akan ditanya:
"Bagaimana kamu telah mempergunakan nikmat-nikmat yang telah Aku
karuniakan kepadamu?"
Alim akan menjawab "Ya Allah, aku telah
menggunakannya untuk mencari ilmu dan mengajarkannya kepada orang lain,
juga untuk membaca Alquran semata-mata demi ridha-Mu".
Lantas
Allah berfirman: "Dusta! kamu melakukan itu semua semata-mata agar orang
memanggilmu sebagai orang alim, dan kamu telah mendapatkan panggilan
itu".
Kemudian akan diperintahkan agar si Alim pun dilemparkan
ke tanah dalam keadaan muka tertelungkup, selanjutnya ia dilemparkan
pula ke dalam nerakan Jahannam.
Setelah itu dipanggil seorang
hartawan. Dia juga akan diingatkan dengan nikmat-nikmat yang telah
dikaruniakan padanya. Lalu ia akan ditanya: "Bagaimana kamu telah
mempergunakan nikmat-nikmat yang telah Aku karuniakan kepadamu?"
Sang
hartawan akan menjawab "Tidak ada satu kebaikan pun yang aku tidak
turut membelanjakannya dengan niat semata-mata karena-Mu,".
Lalu
Allah berfirman: "Dusta! kamu melakukan itu semua semata-mata agar orang
memanggilmu orang yang sangat dermawan, dan kamu telah mendapatkan
panggilan itu".
Kemudian diperintahkan ia pun dilemparkan dalam
keadaan muka tertelungkup, selanjutnya ia dilemparkan pula ke dalam
nerakan Jahannam."
Semoga Allah menjaga kita dari kejadian
seperti ini. Ini adalah buah dari niat yang tidak baik. Hendaklah juga
orang yang berpuasa agar meluruskan kembali niatnya. Apakah ibadah
istimewa ini akan jadi penerang di surga kelak atau malah jadi pelempar
ke dalam Jahannam.
http://www.republika.co.id/
"Rasulullah juga menganggap penting sahur sebagai saat-saat yang penuh berkah selama Ramadhan. Dalam sebuah hadis riwayat Ahmad, Rasulullah mengimbau umatnya ketika Ramadhan, Bersahurlah, sesungguhnya dalam sahur itu penuh dengan barakah.
Sahur merupakan santap hidangan sebelum jatuh
waktu Subuh sebagai persiapan menjalani puasa seharian. Orang Arab pada
umumnya memakan roti, daging, atau kurma.
Rasulullah
menyarankan umat Islam agar mencukupi sajian sahur sehingga kuat untuk
menjalani puasa: Sahur itu makanan yang barakah, janganlah kalian
meninggalkannya, walaupun hanya meneguk setengah air.
Dalam
masa kini, bangsa Arab tidak jauh berbeda dengan bangsa Indonesia
terkait tradisi membangunkan orang-orang untuk sahur. Seperti disebutkan
dalam Ensiklopedia Peradaban Islam Makkah, penduduk kota tersebut
memiliki kelompok-kelompok yang bertugas membangunkan orang-orang untuk
sahur.
Caranya dengan keliling kampung-kampung dan membawa
lentara khas Arab (fanus) serta menabuh gendang (duf al-bazah) secara
berirama. Mereka juga kerap meneriakkan yel-yel untuk menyemarakkan
suasana.
Akan halnya zaman Rasulullah, upaya membangunkan warga
Muslim untuk menunaikan sahur lebih terpusat. Dalam arti, suara azan
digunakan sebagai tanda dimulainya waktu bersahur. Rasulullah SAW
memerintahkan Bilal bin Rabah untuk mengumandangkan azan sebagai tanda
waktu santap sahur.
Adapun Abdullah bin Ummi Maktum ditugaskan
oleh beliau SAW untuk azan sebagai tanda masuknya waktu Subuh atau
usainya sahur. Sesungguhnya Bilal azan pada waktu malam, maka makan dan
minumlah kalian sampai terdengar azan Ibnu Ummi Maktum, demikian sabda
Rasulullah SAW sebagaimana diriwayatkan Bukhari.
http://www.republika.co.id/
"Megibung adalah kegiatan makan bersama di dalam satu wadah yang dikenal di antara masyarakat Bali dan Lombok Barat. Tradisi ini bukan hanya populer di kalangan umat Hindu, namun juga Muslim.
Megibung berasal dari kata ‘gibung’ yang berarti kegiatan dilakukan banyak orang untuk saling berbagi, yaitu duduk bersama untuk makan sembari berdiskusi. Tradisi ini awalnya diperkenalkan Raja Karangasem, I Gusti Agung Anglurah Ketut Karangasem sekitar 1614 Caka atau 1692 Masehi. Saat itu Kerajaan Karangasem memenangkan perang melawan Kerajaan Sasak di Lombok.
Megibung kini bukan saja dilakukan untuk upacara adat, namun juga acara selamatan, menyambut tahun baru, Maulid Nabi Muhammad SAW, atau menyambut Ramadhan. Muslim di Denpasar menyambut Ramadhan tahun ini juga menggelar acara megibung di rumah saudara atau kerabat.
Penyajiannya kini bukan lagi menggunakan wadah besar dari tanah liat yang dilapisi daun pisang. Namun, diganti dengan nampan bambu berbentuk bulat beralaskan daun pisang atau daun pisang yang langsung ditata memanjang di dalam rumah.
Widia (30 tahun), Muslim kelahiran Denpasar yang sudah tinggal di Bali sejak kecil menggelar acara megibung di rumahnya di kawasan Gatot Subroto Barat, Denpasar. "Makan bersama seperti ini selalu kami adakan menjelang puasa," katanya kepada Republika, Jumat (26/5).
Menu lauk pauk yang disajikan, antara lain ayam bakar, sate lilit khas Bali, ikan asin, nasi putih, sambal terasi, lengkap dengan sayur, tahu, dan tempenya. Nasi putih juga bisa diganti dengan nasi liwet yang tentunya semakin lezat di lidah.
Megibung penuh dengan nilai kebersamaan. Semua orang duduk sama rata, tanpa memandang kasta, dan jenis kelamin. Komunitas Muslim di Karangasem, seperti Kecicang, Saren Jawa, dan Tohpati juga melestarikan megibung sampai hari ini. Teman atau kerabat yang berbeda agama juga boleh makan bersama dan ikut merasakan suasana menyambut puasa atau kegiatan bernapaskan Islam lainnya.
"Penampilannya begitu memesona. Pemuda itu berperawakan tinggi dan atletis. Wajahnya cerah dan ditumbuhi janggut pendek yang tertata rapih. Setiap orang yang melihatnya pastilah senang, dan siapapun yang bersua dengannya akan segera merasakan aura yang positif, bahkan hanya dengan berada di dekatnya saja. Sang pemuda itu berperilaku sangat sopan, rendah hati dan cenderung pemalu. Namun dalam situasi yang sulit, ia bisa terlihat serius dan awas, seperti kilau mata pedang yang tajam.
Diberi gelar “Amin”
Para sahabat Nabi SAW menggelarinya "Amin" (orang yang terpercaya). Nama lengkapnya adalah Aamir ibnu Abdullah ibnu al-Jarrah. Namun ia lebih dikenal sebagai Abu Ubaidah. Abdullah ibnu Umar menggambarkan sosok ini sebagai berikut:
"Ada tiga orang terkemuka di Quraisy, mereka terkenal karena akhlaknya yang baik dan paling bersahaja. Apabila mereka berbicara kepadamu, mereka tidak akan menipumu dan apabila kamu berbicara kepada mereka, ia tidak akan menuduhmu berkata dusta. Mereka adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq, Utsman bin Affan dan Abu Ubaidah bin Jarrah."
Abu Ubaidah termasuk golongan yang pertama kali memeluk Islam. Dia menjadi muslim sehari setelah Abu Bakar, bahkan melalui Abu Bakar lah ia menjadi seorang muslim. Saat itu Abu Bakar Ash-Shiddiq membawanya, bersama Abdur Rahman bin ‘Auf, Utsman bin Mas'un dan Arqam bin Abi Al-Arqam datang ke hadapan Rasulullah SAW, lalu bersama-sama mengucapkan syahadat. Mereka lah pilar-pilar awal dalam bangunan kokoh Islam kala itu.
Berperang melawan ayahnya sendiri
Sebagaimana muslim lainnya, Abu Ubaidah juga mengalami masa yang sulit di Mekkah dalam periode awal perkembangan Islam. Ia harus menelan hinaan dan menghadapi berbagai kekerasan. Akan tetapi, setiap ujian dan kesulitan hidup yang ia alami justru kian menguatkan imannya kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, bahkan tatkala ia harus menjalani salah satu ujian terberatnya, yaitu terlibat di Perang Badar.
Abu Ubaidah termasuk salah satu yang berada di barisan terdepan, bertempur dengan gagah berani, tak bergeming oleh ancaman kematian yang nyata di depan mata. Oleh karenanya, banyak pasukan Quraisy yang takut berhadapan langsung dengannya, kecuali satu orang yang senantiasa membuntuti dan mengejarnya kemana pun dia pergi. Ia lah satu-satunya yang Abu Ubaidah sendiri enggan berhadapan langsung dengannya. Namun kali itu, pertempuran dengan orang tersebut tak dapat dielakkan lagi. Keduanya kini berhadapan satu sama lain dan saling menghunuskan pedangnya. Tak ada pilihan lain bagi Abu Ubaidah di tengah kecamuk perang yang dahsyat tersebut kecuali menuntaskan pertempuran itu. Maka ia melancarkan serangan telak dan mematikan tepat di kepala orang tersebut sehingga tubuhnya jatuh ke tanah dan ia pun meninggal saat itu juga.
Jangan tanya siapa orang yang Abu Ubaidah senantiasa enggan berhadapan dengannya itu. Sungguh, itu adalah pengalaman terberat yang pernah dialami seorang insan, bahkan hampir tak mungkin walaupun untuk sekadar dibayangkan. Pria yang tersungkur mati itu tak lain adalah Abdullah bin Jarrah, ayah dari Abu Ubaidah!
Sebagai seorang anak, tentu tidak pernah terbersit sedikit pun di kepala Abu Ubaidah untuk mengakhiri hidup ayah kandungnya sendiri. Akan tetapi, dalam sebuah perang kebenaran melawan kebatilan, pilihan yang ada baginya amatlah jelas, meski tak mudah untuk dijalani. Pada hakikat kehidupan yang lebih dalam, Abu Ubaidah tidaklah sedang memerankan seorang anak yang membunuh ayahnya, melainkan sebuah representasi dari kebenaran yang harus menumpas habis benih-benih kekafiran yang ada dalam diri ayahnya
"Abu Ubaidah tidaklah sedang memerankan seorang anak yang membunuh ayahnya, melainkan sebuah representasi dari kebenaran yang harus menumpas habis benih-benih kekafiran yang ada dalam diri ayahnya.
Berkaitan dengan peristiwa ini Allah Ta’ala menurunkan sebuah ayat Al-Qur’an sebagai berikut:
َّ لَّا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّـهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّـهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ ۚ أُولَـٰئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُم بِرُوحٍ مِّنْهُ ۖ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ رَضِيَ اللَّـهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ۚ أُولَـٰئِكَ حِزْبُ اللَّـهِ ۚ أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللَّـهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Meraka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung. (Q.S. Al-Mujaadilah [58]: 22)
Sikap yang ditunjukkan Abu Ubaidah saat berhadapan dengan ayahnya itu sebenarnya tidaklah mengejutkan. Abu Ubaidah telah menerima kekuatan Cahaya Iman, keyakinan yang dalam akan jalan Allah dan perhatian yang tinggi dalam membangun umat Nabi yang sangat dicintainya – Muhammad SAW.
Menjadi hakim bagi Kaum Nasrani
Muhammad bin Ja’far, salah seorang sahabat Rasulullah, mengisahkan bahwa suatu ketika sebuah delegasi yang terdiri dari orang-orang Nasrani datang menghadap Rasulullah dan berkata, “Wahai Abu Qasim, utuslah salah satu orang kepercayaanmu kepada kami, seseorang yang engkau senangi, dan dapat menjadi hakim bagi beberapa perkara kepemilikan yang menimbulkan perseteruan di antara kami. Sungguh kami sangat menyegani orang-orang Muslim.”
“Baik, kembalilah kepadaku nanti malam,” jawab Nabi, “aku akan utus kepadamu seorang yang kuat dan dapat diandalkan.”
Umar bin Khattab mendengarnya, lalu mengisahkan, “Aku berangkat lebih awal untuk Shalat Dzuhur berjamaah dengan harapan aku lah orang yang Rasulullah maksudkan itu. Manakala Rasulullah selesai shalat, ia pun mulai menyapu pandangannya ke kiri dan kanan, dan aku pun bangkit dengan maksud agar Rasulullah dapat melihatku. Namun Beliau terus menyebar pandangannya hingga ia menemukan Abu Ubaidah bin Jarrah. Maka Rasulullah pun memanggilnya, 'Pergilah bersama mereka (orang-orang Nasrani) dan berilah keputusan dengan kebenaran mengenai apa-apa yang mereka perselisihkan.' Ternyata, Abu Ubaidah lah yang mendapatkan tugas mulia tersebut."
Kekuatan seorang Abu Ubaidah
Abu Ubaidah tidak hanya menjadi orang yang terpercaya. Kekuatan mental dan fisiknya kerap kali teruji di berbagai kesempatan.
Salah satunya adalah pada saat Perang Uhud, di mana Kaum Muslim mengalami kekalahan. Kala itu kaum musyrik telah sedemikian rupa menguasai medan peperangan dan mulai berteriak, “Di mana Muhammad! Di mana Muhammad!” Suasana sangat mencekam dan Abu Ubaidah merupakan salah satu dari sepuluh sahabat yang secara suka rela menjadi pagar hidup demi melindungi Rasulullah dari serangan tombak kaum musyrik.
Ketika perang telah berakhir, Rasulullah mengalami luka parah berupa gigi geraham yang patah, luka pukulan yang dalam di dahinya serta dua pecahan logam yang berasal dari perisainya yang menancap dalam di pipinya. Abu Bakar mendekati Rasulullah dengan maksud hendak mencabut pecahan-pecahan perisai tersebut, namun Abu Ubaidah mencegahnya seraya berkata, “Izinkan aku yang melakukannya.”
Abu Ubaidah khawatir apabila ia mencabut kepingan logam tajam itu dengan tangannya maka akan mengakibatkan rasa sakit bagi Rasulullah, lantaran sulit menggenggam kepingan logam yang licin itu. Maka digigitnya lah kuat-kuat kepingan logam yang menonjol keluar itu dan manakala logam itu berhasil dikeluarkan, salah satu gigi depannya ternyata patah dibuatnya. Dengan gigi depan yang masih tersisa, Abu Ubaidah mencoba mencabut pecahan logam lainnya yang masih menancap di pipi Rasulullah dan upaya itu pun kembali membuat giginya yang lain patah. Karena peristiwa itu, Abu Bakar berkata, “Abu Ubaidah adalah orang paling mahir dalam mematahkan gigi!”
Pasca Rasulullah wafat dan akhir kehidupan
Setelah Rasulullah SAW wafat, para sahabat berkumpul untuk memilih pengganti beliau yang bertugas sebagai khalifah. Pertemuan tersebut terjadi di Saqifah (tempat pertemuan) Bani Sa’idah dan hari itu tercatat sebagai salah satu momen bersejarah yang dikenal sebagai “Peristiwa Saqifah”. Pada hari itu, Umar bin Khattab berkata kepada Abu Ubaidah, “Rentangkan tanganmu dan aku akan bersumpah menaatimu karena aku telah mendengar Rasulullah bersabda, ‘Setiap umat memiliki seorang amin (penjaga) dan engkau adalah sang amin bagi umat ini.’”
“Aku tidak mau,” tukas Abu Ubaidah, “aku menolak mendahului seorang yang telah ditunjuk oleh Rasulullah untuk menjadi pengganti beliau menjadi imam sholat hingga detik Rasulullah berpulang ke hadirat-Nya.” Maka ia pun memberikan sumpah setianya (bai’at) kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq. Abu Ubaidah tetap menjadi salah satu penasihat terdekat Abu Bakar dan pendukung kuatnya dalam kebenaran dan kebaikan. Hingga kepemimpinan berganti ke tangan Umar bin Khattab, Abu Ubaidah tetap meneruskan dukungannya kepada khalifah dan tak pernah menentang Umar kecuali pada suatu waktu.
Peristiwa itu terjadi tatkala Abu Ubaidah memimpin pasukan Muslim dan meraih kemenangan di Syria. Ia berdiri di sebuah daerah di mana sungai Eufrat berada di sebelah kanannya dan dataran Asia Kecil di sebelah kirinya. Saat itu tengah terjadi wabah besar di tanah Syria, suatu musibah yang tidak pernah terjadi sebelumnya dan telah merenggut banyak korban jiwa. Menyadari gentingnya keadaan kala itu, Khalifah Umar mengutus seseorang kepada Abu Ubaidah dengan membawa surat yang bertuliskan pesan dari Khalifah:
“Wahai Abu Ubaidah, aku sangat membutuhkanmu. Apabila engkau menerima surat ini di malam hari, kusarankan engkau berangkat sebelum fajar. Apabila engkau menerimanya di siang hari, berangkatlah sebelum matahari terbenam dan cepatlah kembali kepadaku!”
Ketika Abu Ubaidah selesai membaca pesan itu, ia berkata, “Aku tahu Amirul Mukminin memerlukanku. Ia ingin menyelamatkan nyawa seseorang, yang bagaimana pun tak akan abadi.” Maka ia menulis surat jawaban kepada Umar:
“Wahai Umar, aku tahu bahwa engkau membutuhkanku. Namun aku berada di antara pasukan Kaum Muslim dan tidak ada keinginanku untuk menyelamatkan diri dan meninggalkan mereka di sini. Aku tidak ingin berpisah dengan mereka hingga Tuhan memutuskan yang lain. Maka saat engkau menerima surat ini, mohon bebaskan aku dari perintahmu dan izinkan aku untuk tinggal bersama pasukanku.”
Saat Umar membaca surat balasan Abu Ubaidah tersebut air mata memenuhi sudut-sudut matanya hingga orang-orang yang berada di dekatnya bertanya, “Apakah Abu Ubaidah telah tiada, wahai Amirul Mukminin?”
“Tidak,” jawab Umar, “akan tetapi kematian tengah datang mendekatinya.”
Tidak berapa lama, penglihatan Umar menjadi kenyataan. Dalam kondisi dilanda penyakit dan mendekati sakaratul maut, Abu Ubaidah menyampaikan wasiat kepada pasukannya:
“Dirikanlah shalat, shaum lah di bulan Ramadhan, keluarkan shodaqoh, laksanakanlah haji dan umrah. Tetaplah bersatu dan saling mendukung satu sama lain. Jujurlah kepada pimpinanmu dan jangan menyembunyikan apapun dari mereka. Jangan sampai dunia dan segala isinya menghancurkanmu dari jalan Allah karena kalaupun seseorang hidup seribu tahun lamanya, ia akan tetap menjelang kematian seperti yang tengah engkau saksikan terjadi kepadaku saat ini. Wassalaamu’alaikum wa rahmatullah.”
Abu Ubaidah kemudian berpaling kepada Mu’adz bin Jabal dan berkata, “Wahai Mu’adz, pimpinlah kami dalam sholat.” Dalam sholat itu, jiwanya pun mangkat.
(Adaptasi dan terjemahan dari Companions of The Prophet, Vol.1, karya Abdul Wahid Hamid)http://www.kadisiyah.org/
Bismillaahi Ar-Rahmaan Ar-Rahiim.
"Dzun-Nun Al-Mishri adalah seorang tokoh sufi besar di abad ketiga Hijriah. Beliau, yang memiliki nama lengkap Abu Al-Faidh Tsauban bin Ibrahim Al-Mishri, dilahirkan di Akhmim, sebuah kota kuno di tepi timur Sungai Nil dan dataran tinggi di Mesir, pada tahun 796 M (180 H).
"Al-Mishri" pada nama belakang Dzun-Nun berarti "Mesir", adalah panggilan atau gelar terhadap Beliau dari orang-orang yang memang banyak berasal dari non-Mesir. Beliau belajar, mengajar, mengembara dan mengadakan banyak perjalanan di berbagai wilayah di Jazirah Arab, Maghreb, Palestina dan Syria (Baghdad). Salah satu murid Beliau adalah Sahl Al-Tustari, seorang sufi Persia yang memperkenalkan khazanah tentang Nur Muhammad (Hakikat Muhammadiyah) di dunia Tasawuf. Disebutkan pula di sebuah riwayat, bahwasanya Dzun-Nun memahami rahasia bahasa hieroglyph, sebuah sistem tulisan Mesir Purba yang banyak terdapat di berbagai piramida Mesir dan peninggalan bangunan kuno di Mesir, yang bahkan sampai kini tak sepenuhnya terkuak makna yang ada di dalamnya. Beliau meninggal di Kairo pada tahun 856 M (246 H).
Nama "Dzun-Nun" dan Huruf "Nun"
"Dzun-Nun" adalah julukan bagi Abu Al-Faidh, di mana nama itu secara harfiah berarti "penguasa ikan (nun)" – sebuah nama yang juga pernah disematkan kepada Nabi Yunus a.s. (lihat Q.S. Al-Anbiyaa' [21]: 87) dengan kisah taubatnya yang luar biasa di dalam perut ikan nun.
Dalam sebuah hikayat rakyat setempat disebutkan kisah ketika Dzun-Nun Al-Mishri menumpang sebuah kapal di suatu perjalanan. Di tengah laut, tiba-tiba seorang saudagar yang ikut serta di kapal tersebut kehilangan permatanya yang amat berharga. Karena suatu alasan tertentu, tuduhan pencurian lalu ditujukan terhadap Dzun-Nun. Beliau pun disiksa dan dianiaya, serta dipaksa mengembalikan permata yang hilang itu. Dalam keadaan tersiksa dan teraniaya itu, ia menengadahkan kepalanya ke langit sambil berdoa, "Duhai Tuhanku, Engkau-lah Yang Maha Tahu." Mendadak seketika itu pula, muncul lah ribuan ekor ikan nun ke permukaan air mendekati kapal sambil membawa permata yang lebih besar dan indah di mulutnya masing-masing. Dzun-Nun lalu mengambil salah satu permata dan menyerahkannya ke saudagar tersebut. Sejak peristiwa aneh itulah, ia digelari "Dzun-Nun", sang pemilik ikan nun.
Namun istilah "dzun-nun", menurut Ibnu Arabi, juga memiliki pengertian yang lain, dan secara harfiah berarti pula "pemilik huruf nun" atau "pemilik dawat" – merujuk pada huruf Arab nun yang menyerupai dawat (tempat tinta), berisikan tinta hitam pekat yang dengannya huruf-huruf dituliskan.
ن ۚ وَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُونَ
Nun — dan demi qalam (pena) dan apa yang mereka tulis. — Q.S. Al-Qalam [68]: 1
Nun, menurut Ibnu Arabi, memiliki arti yang lebih dalam dan menyimbolkan makna tentang sebuah rahasia, sebuah pintu menuju penerimaan taubat, Kemurahan dan Welas Asih-Nya, di mana hanya sedikit orang melalui pintu tersebut: yakni para pemilik nun, dzun-nun.
Huruf "Nun", menurut Ibnu Arabi, memiliki arti yang lebih dalam dan menyimbolkan makna tentang sebuah pintu rahasia menuju penerimaan taubat, Kemurahan dan Welas Asih-Nya.
Ibnu Arabi merujuk pada sebuah kalimat yang pernah diucapkan oleh Dzun-Nun Al-Mishri: "Aku senantiasa berpegang teguh pada pintu Tuhanku sampai Dia menerimaku."
Inilah makna-dalam dari dzun-nun: sebuah skema keteguhan hati yang sangat kuat memohon Kemurahan-Nya, yang di dalam Al-Qur’an disimbolkan melalui kisah Nabi Yunus ketika Beliau a.s. tetap teguh kukuh berpegang pada pintu Tuhannya ("laa ilaha illa anta, subhanaka, inni kuntu minadz-dzalimin" — tiada tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang dzalim) meski terpenjara di dalam perut ikan, hingga kemudian taubatnya diterima: "Kami memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari al-gham" (Q.S. Al-Anbiyaa’ [21]:87-88).
”Al-Gham” di ayat tersebut dalam Bahasa Arab merujuk pada suatu kondisi duka nestapa karena suatu kegelapan yang amat sangat: di dalam perut ikan, di tengah hamparan samudera yang luas, dan pada malam hari di mana tiada secercah cahaya pun yang masuk. Kedua tokoh ini, yang sama-sama dijuluki "Dzun-Nun", adalah para pejalan di pintu nun tersebut. Mereka adalah orang-orang yang senantiasa berpegang teguh pada pintu keridhaan-Nya meski melalui kehidupan yang gelap gulita, al-gham karena kegelapan yang berlapis-lapis bagaikan tercelup di dalam dawat (nun) berisi tinta hitam pekat: sebuah pintu rahasia penerimaan taubat, yang terhubung langsung pada Kemurahan dan Welas-Asih-Nya — karena dari "tinta" kegelapan itulah Dia berkenan hadir dan "menuliskan" asma-asma-Nya yang tiada berbatas.
وَذَا النُّونِ إِذ ذَّهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَن لَّن نَّقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَىٰ فِي الظُّلُمَاتِ أَن لَّا إِلَـٰهَ إِلَّا أَنتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ الظَّالِمِينَ
فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ ۚ وَكَذَٰلِكَ نُنجِي الْمُؤْمِنِينَ
Dan (ingatlah kisah) Dzun-Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya, maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: "Tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau. Sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang dzalim." Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari ‘al-gham’ (duka karena kegelapan yang amat sangat). Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman. — Q.S. Al-Anbiyaa' [21]: 87-88
Ajaran
Buya Hamka, dalam bukunya Tasauf: Perkembangan dan Pemurniannya, mengulas sekelumit tentang pokok-pokok ajaran tokoh sufi yang luar biasa ini.
Dzun-Nun Al-Mishri banyak menambahkan jalan untuk menuju Allah dan memiliki pemahaman yang sangat dalam tentang konsep ma'rifat (mengenal Allah). Apa yang beliau tuju adalah "mencintai Allah, membenci yang sedikit, menuruti garis perintah yang telah diturunkan, dan takut akan terpaling jalan."
Ketika ditanya apa sesungguhnya hakikat cinta tersebut, Beliau menjawab: "Bahwa engkau cinta apa yang dicintai Allah, engkau benci apa yang dibenci-Nya, engkau memohonkan ridha-Nya. Engkau tolak apa-apa yang merintangimu dari jalan menuju Dia. Engkau tidak takut akan kebencian orang yang membenci. Engkau tidak mementingkan diri dan melihat diri sendiri, oleh karena dinding yang sangat tebal untuk melihat-Nya adalah lantaran engkau melihat diri sendiri."
"Orang yang arif adalah orang yang bangga dalam kefakirannya. Bila disebutkan asma Allah, ia bangga. Bila disebutkan nama dirinya, ia merasa fakir."
"Bukanlah orang yang 'berisi' (berpengetahuan) orang yang sungguh-sungguh menuntut dunia, sementara meringankan urusan akhiratnya. Bukan orang yang lekas marah di waktu harus memaafkan, dan takabbur ketika harus tawadhu'. Bukan orang yang kehilangan taqwa karena labanya, bukan orang yang marah ketika mendengar ia diperkatakan, dan bukan orang yang zuhud pada perkara yang disukainya saja, dan bukan orang yang meminta orang lain mementingkannya. Bukan orang yang lupa akan Allah di tempat taatnya, dan mengingat Allah hanya di waktu hajat kepada-Nya. Bukan pula orang yang mengumpulkan berbagai ilmu mengenal Tuhan tapi lebih mendahulukan hawa nafsunya. Bukan pula orang yang sedikit malunya di hadapan-Nya padahal Allah tetap menutup auratnya, dan bukan orang yang lemah melawan musuhnya (yakni syaithan). Bukan orang yang tak sanggup membuat muru'ah (menjaga martabat dan budi pekerti sehingga tidak janggal atau salah dalam pergaulan) menjadi pakaian, adab menjadi perisai, dan taqwa menjadi perhiasan. Bukan pula orang yang mengambil ilmu pengetahuan hanya untuk berbangga dan menyombongkan diri dalam majelisnya."
Cinta kepada Allah
Dikisahkan pula, suatu hari Dzun-Nun bertemu dengan seorang Rahib. Beliau bertanya pada Rahib itu, "Apa arti cinta menurut pendapat tuan?" – sebab seorang sufi besar tiada akan enggan menerima hikmah dari orang lain, meski berbeda agama. Rahib itu pun menjawab, "Cinta sejati tak mau dibelah dua. Kalau cinta telah tertumpah pada Allah, tidak ada lagi cinta kepada yang lain. Kalau cinta tertumpah pada yang lain, tidaklah mungkin disatukan cinta itu kepada Allah. Sebab itu tafakurlah, selidiki dirimu, siapakah yang lebih engkau cintai!"
Lalu Dzun-Nun meminta pula diterangkan tentang inti sari cinta. Rahib itu menjawab, "Akal pergi, air mata jatuh, mata tak mau tidur, rindu dendam memenuhi jiwa, dan kecintaan berbuat sekehendaknya."
Setelah itu, kata Dzun-Nun pula, "Kami pun berpisah. Beberapa masa kemudian ketika aku menunaikan haji di Mekkah, kulihat Rahib itu sedang thawaf. Kutemui dia, dan tubuhnya tampak lebih kurus dari dahulu. Dia berkata kepadaku, "Hai Abu‘l Faidh! Janji perdamaian telah ditandatangani, pintu pun telah terbuka, dan Dia telah menganugerahiku jalan memilih Islam. Sebab apa yang kukatakan kepadamu tempo hari adalah kata-kata yang rupanya oleh bumi tak terpikul dan oleh langit tak tertahan, bukit pun tak dapat menanggungnya. Hanya laki-laki yang tabah!"
Kesimpulan ajaran Beliau adalah sebuah kunci kehidupan di dunia, yakni berjalan pada garis yang ditentukan dalam Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya, dan menjadi insan yang takut terpaling dari garis ketentuan itu karena menuruti hawa nafsu dan syahwat. Kata Beliau pula, "Alamat cinta kepada Allah adalah mengikuti langkah Muhammad SAW dalam mencintai-Nya, baik dalam budinya atau perbuatannya, menuruti titahnya dan menghentikan apa-apa yang dilarangnya, dalam garis yang ditentukan-Nya."
Taubat dan Ma'rifat
Taubat menurut Beliau ada dua macam: "Taubat orang awam, yakni dari dosa; dan taubat orang khawash (khusus), yaitu dari kelalaian."
Ma'rifat pun ada tiga macam. Ma'rifat mukmin biasa, ma'rifat ahli bicara (mutakallimin) dan hukama (filsuf), dan ma'rifat Waliullah yang dekat kepada Allah dan kenal akan Allah dalam hatinya. Ma'rifat inilah yang setinggi-tinggi martabat.
Dalam pembagian ini, jelaslah ketiga jenis ma'rifat itu. Orang mukmin-biasa mengenal Allah karena memang demikianlah ajaran yang diterimanya. Orang filsuf dan mutakallimin mencari Allah dengan perjalanan akalnya. Dan oleh perhitungan akal dan manthik, maka sampailah mereka kepada adanya, tapi belum tentu dirasakan lezatnya. Tapi orang-orang Muqarrabin, mencari Allah dengan pedoman cinta. Yang lebih diutamakan adalah ilham, atau faidh (limpah kurnia Allah), atau kasyaf (dibuka Allah hijab batin dalam alam keruhanian). Di sana, akal tak berjalan lagi, karena sampai di derajat mustawa (bersemayam).
Pernah ditanyakan orang kepada Beliau, "Dengan jalan apa engkau mengenal Tuhanmu?" Beliau menjawab, "Aku mengenal Tuhanku adalah dengan Tuhanku sendiri. Kalau bukan Tuhanku, tidaklah aku mengenal-Nya."
Itulah tauhid yang semurni-murninya.
Beliau pun menambahkan penjelasan tentang cinta, yakni suatu cinta timbal balik antara Khalik dengan makhluk, antara yang mencintai dengan yang dicintai. Dengan cinta seperti inilah si hamba tertarik, lebih dari tarikan besi berani kepada besi biasa, kian lama kian mendekat kepada yang dicintai itu sehingga akhirnya "bersatu", tenggelamlah zatnya ke dalam zat Tuhannya. Ajaran ini hanya dapat dirasakan setelah menempuh tingkatan-tingkatan (maqam) tertentu. Begitulah menurut Beliau, cinta semacam ini hanya dapat dirasakan, dan sia-sia kalau diajarkan – harus dirahasiakan dari orang yang hanya mengenal arti cinta secara maddi (yang disaksikan oleh panca indera).
Pandangan cinta dan pengertian (mahabbah dan ma'rifat) inilah yang meninggalkan jejak yang sangat nyata bagi para tokoh besar tasawuf yang datang kemudian, seperti Tustari (wafat 898 M), Al-Nakhsyabi (wafat 859 M), Ibnu Al-Jalaak dari negeri Syam yang pernah belajar sendiri kepada Beliau, dan Al-Khazzaar (wafat 901 M) salah seorang sahabat Beliau.
Wallahu a’lam. []
Keterangan:Tulisan ini disarikan dan diperkaya dari buku Tasauf: Perkembangan dan Pemurniannya, Bab "Zin-Nun", karya Prof. Dr. Hamka, 1983
Pembahasan tentang makna “dzun-nun” dan huruf nun adalah dari Kitaab Al-Miim, wa Al-Waw, wa Al-Nun karya Ibnu Arabi.
Foto ilustrasi di subtopik "Nama Dzun-Nun" berlisensi Creative Common CC BY 2.0 dan merupakan milik Aieman Khimji. Sumber foto terdapat di tautan ini.
Sumber : http://www.kadisiyah.org/
Tokyo Camii atau Masjid Tokyo
adalah salah satu masjid tertua yang dibangun di 1930an oleh migran
muslim yang datang ke Jepang. Kala itu adalah masa di mana Jepang
kedatangan migran muslim dalam jumlah besar dan masjid pertama mulai
didirikan.
Selain Masjid Tokyo, Jepang juga memiliki dua masjid tua lainnya, yakni Masjid Nagoya dan Masjid Kobe. Masjid Nagoya adalah masjid pertama yang dibangun oleh komunitas muslim di Jepang pada 1931. Sementara Masjid Kobe didirikan pada 1935 oleh migran muslim asal India. Masjid Tokyo dibangun oleh migran muslim Tatar yang melarikan diri saat terjadi revolusi komunis di Rusia pada 1930an. Mereka adalah kelompok migran muslim terbesar di Jepang dan membangun Masjid Tokyo pada 1938.
Saat renovasi pada 2000 selesai, semua dana ditanggung pemerintah Turki. Tidak hanya sebagai pusat keagamaan, Masjid Tokyo juga difungsikan sebagai tempat menyelenggarakan pernikahan, peragaan busana, pertunjukkan, pameran dan konferensi. Remaja masjid juga aktif di dalam Masjid Tokyo. Yuai International School menyelenggarakan kelas-kelas seperti membaca Alquran, mengenal Islam, karate dan kaligrafi. Sekolah tersebut dijalankan oleh Islamic Center of Japan (IJC), sebuah lembaga muslim yang didirikan pada 1966.
Jumlah muslim di Jepang belum diketahui dengan pasti. Namun menurut catatan tak resmi, terdapat 70 ribu hingga 120 ribu muslim tinggal di Jepang dan 10 persen di antaranya adalah orang Jepang asli. Komite Hak Asasi Manusia untuk PBB mencatat Jepang melakukan pengawasan secara sistematis terhadap warga muslim dan masjid-masjid. Pengenalan terhadap Islam dimulai pada awal periode Meiji (1868-1890), saat misi perdagangan dan pertukaran informasi dilakukan dengan Kekaisaran Ottoman dan Timur Tengah. Muslim masuk ke Jepang untuk pertama kalinya saat pedagang dan pelaut muslim India dan Melayu bersandar di kota-kota pelabuhan Jepang seperti Yokohama dan Kobe. Uniknya, Masjid Tokyo tidak mengandalkan bantuan dana pemerintah Jepang dalam pengoperasian dan pemeliharaannya.
Sebagai seorang muslim, berkeliling di Jepang tentu berbeda dengan Indonesia. Saat di Indonesia, mungkin tak sulit menemukan masjid karena memang mayoritas masyarakatnya adalah Muslim. Sedangkan di Jepang, muslim menjadi minoritas sehingga sulit menemukan masjid di sana.
Ternyata, meski merupakan lingkungan minoritas muslim, ada sebuah masjid mewah yang berdiri kokoh di di Oyama-cho, Shibuya-ku, Tokyo. Masjid itu bernama Camii Mosque, masjid terbesar yang ada di Tokyo, Jepang.Jangan bayangkan besarnya masjid ini sama dengan masjid besar yang ada di Indonesia. Nyatanya Masjid Camii berukuran kecil yang terdesak di antara bangunan padat di Tokyo. Letaknya bersebelahan bahkan nyaris berdempetan dengan bangunan kanan-kirinya. Bangunan ini didominasi dengan lapisan ubin marmer.
Meski kecil, bangunan masjid ini memiliki gaya arsitektur megah ala Turki Tengah yang cantik. Saat memasuki ruangan masjid, hawa sejuk, tenang dan rasa penuh damai menyelimuti seluruh hati. Pilar-pilar besar memberi kesan megah dan kokoh bangunan bernuansa putih itu.Masjid Camii memiliki kubah yang besar dan terlihat jelas dari kejauhan. Ada juga menara tinggi yang menjadi pertanda bagi para pengunjung yang ingin mencari Camii Masque ini.
Berjalan ke samping masjid, sebuah tangga tampak menghubungkan bagian bawah dengan atas masjid. Tangga ini mengantarkan wisatawan menuju ruang salat. Ruang salat terbagi dua lantai. Khusus untuk wanita yang tak mengenakan pakaian muslim, sebelum masuk ke dalam masjid disediakan jilbab untuk dikenakan.Lantai bawah ditujukan sebagai tempat salat pria, sedangkan lantai atas ditujukan untuk tempat salat wanita. Untuk wudu, turis bisa datang ke ruangan yang ada di bagian bawah.
Masjid ini juga disebut masjid Turki, karena gaya arsitekturnya mirip dengan masjid-masjid Turki. Berbagai interior juga bernuansa Turki. Bahkan, Alquran di dalam masjid juga berasal dari Turki.Karena menjadi satu-satunya masjid di wilayah ini, jamaah yang shalat tak hanya orang Jepang. Jamaah yang ikut shalat di masjid ini berasal dari beragam negara, ada yang dari Timur Tengah, Indonesia, atau negara-negara Asia lainnya
Sumber : http://satupedang.blogspot.com
Selain Masjid Tokyo, Jepang juga memiliki dua masjid tua lainnya, yakni Masjid Nagoya dan Masjid Kobe. Masjid Nagoya adalah masjid pertama yang dibangun oleh komunitas muslim di Jepang pada 1931. Sementara Masjid Kobe didirikan pada 1935 oleh migran muslim asal India. Masjid Tokyo dibangun oleh migran muslim Tatar yang melarikan diri saat terjadi revolusi komunis di Rusia pada 1930an. Mereka adalah kelompok migran muslim terbesar di Jepang dan membangun Masjid Tokyo pada 1938.
Saat renovasi pada 2000 selesai, semua dana ditanggung pemerintah Turki. Tidak hanya sebagai pusat keagamaan, Masjid Tokyo juga difungsikan sebagai tempat menyelenggarakan pernikahan, peragaan busana, pertunjukkan, pameran dan konferensi. Remaja masjid juga aktif di dalam Masjid Tokyo. Yuai International School menyelenggarakan kelas-kelas seperti membaca Alquran, mengenal Islam, karate dan kaligrafi. Sekolah tersebut dijalankan oleh Islamic Center of Japan (IJC), sebuah lembaga muslim yang didirikan pada 1966.
Jumlah muslim di Jepang belum diketahui dengan pasti. Namun menurut catatan tak resmi, terdapat 70 ribu hingga 120 ribu muslim tinggal di Jepang dan 10 persen di antaranya adalah orang Jepang asli. Komite Hak Asasi Manusia untuk PBB mencatat Jepang melakukan pengawasan secara sistematis terhadap warga muslim dan masjid-masjid. Pengenalan terhadap Islam dimulai pada awal periode Meiji (1868-1890), saat misi perdagangan dan pertukaran informasi dilakukan dengan Kekaisaran Ottoman dan Timur Tengah. Muslim masuk ke Jepang untuk pertama kalinya saat pedagang dan pelaut muslim India dan Melayu bersandar di kota-kota pelabuhan Jepang seperti Yokohama dan Kobe. Uniknya, Masjid Tokyo tidak mengandalkan bantuan dana pemerintah Jepang dalam pengoperasian dan pemeliharaannya.
Sebagai seorang muslim, berkeliling di Jepang tentu berbeda dengan Indonesia. Saat di Indonesia, mungkin tak sulit menemukan masjid karena memang mayoritas masyarakatnya adalah Muslim. Sedangkan di Jepang, muslim menjadi minoritas sehingga sulit menemukan masjid di sana.
Ternyata, meski merupakan lingkungan minoritas muslim, ada sebuah masjid mewah yang berdiri kokoh di di Oyama-cho, Shibuya-ku, Tokyo. Masjid itu bernama Camii Mosque, masjid terbesar yang ada di Tokyo, Jepang.Jangan bayangkan besarnya masjid ini sama dengan masjid besar yang ada di Indonesia. Nyatanya Masjid Camii berukuran kecil yang terdesak di antara bangunan padat di Tokyo. Letaknya bersebelahan bahkan nyaris berdempetan dengan bangunan kanan-kirinya. Bangunan ini didominasi dengan lapisan ubin marmer.
Meski kecil, bangunan masjid ini memiliki gaya arsitektur megah ala Turki Tengah yang cantik. Saat memasuki ruangan masjid, hawa sejuk, tenang dan rasa penuh damai menyelimuti seluruh hati. Pilar-pilar besar memberi kesan megah dan kokoh bangunan bernuansa putih itu.Masjid Camii memiliki kubah yang besar dan terlihat jelas dari kejauhan. Ada juga menara tinggi yang menjadi pertanda bagi para pengunjung yang ingin mencari Camii Masque ini.
Berjalan ke samping masjid, sebuah tangga tampak menghubungkan bagian bawah dengan atas masjid. Tangga ini mengantarkan wisatawan menuju ruang salat. Ruang salat terbagi dua lantai. Khusus untuk wanita yang tak mengenakan pakaian muslim, sebelum masuk ke dalam masjid disediakan jilbab untuk dikenakan.Lantai bawah ditujukan sebagai tempat salat pria, sedangkan lantai atas ditujukan untuk tempat salat wanita. Untuk wudu, turis bisa datang ke ruangan yang ada di bagian bawah.
Masjid ini juga disebut masjid Turki, karena gaya arsitekturnya mirip dengan masjid-masjid Turki. Berbagai interior juga bernuansa Turki. Bahkan, Alquran di dalam masjid juga berasal dari Turki.Karena menjadi satu-satunya masjid di wilayah ini, jamaah yang shalat tak hanya orang Jepang. Jamaah yang ikut shalat di masjid ini berasal dari beragam negara, ada yang dari Timur Tengah, Indonesia, atau negara-negara Asia lainnya
Sumber : http://satupedang.blogspot.com
"Kemegahan Tokyo Camii atau Masjid Tokyo menjadi
salah satu pemandangan yang cukup unik di ibu kota Jepang. Meski
dirancang dengan gaya arsitektur khas Turki, keberadaan bangunan ibadah
itu tampak sedikit tersuruk di antara belantara gedung pencakar langit
dan blok-blok apartemen yang tenang di kawasan Yoyogi Uehara, Tokyo.
Pemugaran Tokyo Camii secara resmi rampung pada 2000. Namun demikian,
pembangunan awal masjid itu sesungguhnya mempunyai sejarah yang
panjang.Berawal pada dekade 1930-an, ketika populasi Muslim di Jepang
mengalami peningkatan yang signifikan, beberapa masjid mulai didirikan
di Negeri Sakura untuk pertama kalinya. Di antaranya adalah Masjid
Nagoya yang dibangun pada 1931, lalu disusul Masjid Kobe empat tahun
berikutnya. Kedua masjid tersebut dibangun oleh komunitas Muslim
pendatang asal India.
Selanjutnya, para imigran Tatar yang
melarikan diri dari Revolusi Bolshevik Rusia membentuk kelompok etnis
Muslim terbesar di Jepang. Mereka lalu mendirikan Masjid Tokyo dalam
bentuk aslinya pada 1938. Inilah titik awal dari pembangunan Tokyo Camii
yang ada sekarang.
Salah seorang guru besar studi Jepang dari
Universitas Heidelberg, Hans Martin Kramer, menganggap pendirian Tokyo
Camii sebagai simbol keterbukaan Jepang terhadap Islam ketika itu.
Sebagai bukti, pembangunan awal masjid itu tidak hanya didukung oleh
pemerintah Jepang, tetapi juga didanai oleh perusahaan-perusahaan swasta
di Negeri Matahari Terbit, terutama Mitsubishi.
"Bahkan,
upacara pembukaannya dihadiri pula oleh sejumlah pejabat dan diplomat
dari Jepang dan Dunia Islam," kata Kramer, seperti dikutip majalah
bulanan Muslim Ink dalam artikel From Two Mosques to 200: Growth of
Islam in Japan.
Pengelola Islamic Center of Japan (ICJ) Dr Musa
Omer menuturkan, hingga 1970 hanya ada dua bangunan masjid di Tokyo.
Kini, di kota itu terdapat 200 masjid, mushala, dan tempat-tempat
lainnya yang secara temporer dapat digunakan sebagai tempat shalat.
"Jumlah bangunan ibadah ini terus meningkat seiring bertambahnya jumlah
umat Islam di Tokyo," ujarnya.
Omer berpendapat, pernikahan
termasuk faktor penyumbang peningkatan populasi Muslim di Jepang.
Seperti yang terjadi pada November tahun lalu, misalnya, ketika Omer
dipercaya membantu menyelenggarakan pernikahan seorang pria Muslim asal
Arab Saudi dengan perempuan asli Jepang. "Si pengantin wanita akhirnya
memilih untuk masuk Islam setelah dua tahun menjalin hubungan dengan
laki-laki tersebut," imbuhnya.
Saat ini, kata Omer, jumlah
warga Muslim yang tinggal di Jepang diperkirakan mencapai 120 ribu jiwa.
Sekitar sepuluh persen dari mereka adalah orang Jepang asli. Angka
tersebut memang masih relatif kecil jika dibandingkan dengan total
penduduk Jepang yang sekarang berjumlah 127 juta jiwa.
Arus
kedatangan masyarakat Muslim di Jepang dalam jumlah yang signifikan
terjadi selama akhir era 1980-an. Kala itu, banyak kalangan Muslim muda
dari Pakistan dan Indonesia mencari pekerjaan di negeri Shogun tersebut.
Beberapa dari mereka kemudian ada yang menikah dengan warga Jepang dan
menjadi penduduk tetap di sana. Mereka lalu mulai mengumpulkan dana
untuk membeli dan mengalihfungsikan rumah-rumah biasa menjadi masjid
ataupun pusat komunitas Islam.
"Saya telah menyaksikan sendiri
sekitar 600 warga Jepang asli masuk Islam selama tiga dekade ini," tutur
ulama Mesir yang kini menetap di Osaka, Mohsen Bayoumy, seperti dikutip
The Japan Time, beberapa waktu lalu.
Artikel terkait : Sejarah tokyo camii
http://khazanah.republika.co.id/"Perbanyak Istighfar dan Doa di Bulan Ramadhan
Amiril Mukminin Ali bin Abi tholib as berpesan,
عَلَيكُم في شَهرِ رَمَضانَ بِكَثرَةِ الاِستِغفارِ وَالدُّعاءِ ؛ فَأَمَّا الدُّعاءُ فَيُدفَعُ بِهِ عَنكُمُ البَلاءُ ، وأمَّا الاِستِغفارُ فَيَمحى ذُنوبَكُم .
“Hendaknya kalian perbanyak Istighfar dan doa di bulan Ramadhan. Karena doa itu menahan bala’ dari kalian sedangkan Istighfar akan menghapus dosa-dosa kalian.”
"Princess Nourah University adalah sebuah universitas di Arab Saudi yang merupakan universitas khusus wanita terbesar di dunia. Universitas ini terdiri dari 32 kampus di wilayah Riyadh dan sebuah perpustakaan yang memuat 4,5 juta jilid buku. Universitas ini awalnya didirikan sebagai Universitas Wanita Riyadh pada tahun 1970. Raja Abdullah bin Abdul Aziz meresmikan gedung institusi pendidikan tinggi untuk wanita yang paling besar dan paling mutakhir di dunia ini di dalam kota yang memuat pendidikan tinggi mandiri. Sebuah kampus baru didirikan pada Mei 2011 yang dapat menampung 40.000 mahasiswi dan 12.000 karyawati, juga memiliki 700 dipan pelatihan rumah sakit dan pusat penelitian untuk Nanoteknologi, Teknologi Informasi, dan Bioscience.
http://generasiislam17.blogspot.co.id/Rasulullah shallallahu 'alaihi wassalam mempunyai anak berjumlah tujuh orang. Tiga laki-laki dan empat perempuan. Semua lahir dari rahim Khadijah radhiallahu 'anha, kecuali Ibrahim yang lahir dari Mariah Al-Qibthiyyah. Anak pertama beliau adalah Qasim. Dari nama inilah beliau bernama kunyah Abu Qasim. Qasim lahir pada masa sebelum kenabian. Kemudian lahir Zainab, Ruqayyah, baru Ummu Kultsum, dan Fathimah. Setelah menjadi nabi, beliau dikaruniai Abdullah. Disebut juga At-Thayyib Ath-Thahhir, karena dilahirkan dalam Islam. Ada riwayat menyebutkan namanya Thahhir bukan Thayyib dan ini dibenarkan oleh sebagian ulama. Kemudian Ibrahim. Ia dilahirkan di Kota Madinah tahun ke-8. Ibrahim wafat setelah berumur satu tahun sepuluh bulan. Oleh sebab itu, Nabi shallallahu 'alaihi wassalam bersabda, " Akan ada wanita yang menyusuinya di Jannah." (Al Bukhari : 1382, Muslim : 2316).
Semua anak beliau meninggal dunia sebelum beliau, kecuali Fathimah radhiallahu 'anha. Ada riwayat yang mengatakan enam bulan sepuluh hari, ada juga riwayat yang menyebutkan delapan bulan, dan ada juga riwayat yang menyebutkan selain itu.
Sekian semoga bermanfaat dan menambah pengetahuan juga menambah kecintaan kita kepada Allah Ta'ala dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wassalam
.......
Sumber : Sejarah Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wassalam karya Ibnu Katsir































