"Selama lebih dari setengah abad terakhir, Sheikh Khader al-Aweiwi, 73 tahun, telah mengabdikan dirinya untuk menjadi pelayan di Masjid Al-Aqhsa di Al Quds, tempat suci ketiga oleh umat Islam setelah Mekkah dan Madinah.
Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan Anadolu Agency, al-Aweiwi menceritakan banyak peristiwa sejarah yang telah ia menyaksikan saat bekerja di Al-Aqsha sebagai penjaga, petugas pemadam kebakaran dan muadzin dari tahun 1968-2011.
Dia pertama kali mulai bekerja di kompleks Masjid Al-Aqsha sebagai penjaga pada tahun 1968, satu tahun setelah Israel menduduki Tepi Barat (termasuk Yerusalem/Al Quds), yang sebelumnya telah dikuasai oleh Yordania.
“Saya tidak pernah hanya sekedar menjadi karyawan di Al-Aqsa. Bagi saya, itu bukan hanya pekerjaan, itu adalah cara hidup,” ungkap al-Aweiwi kepada Anadolu Agency sebagaimana juga diberitakan oleh worldbulletin.net, 20 April.
ada tahun 1969, al-Aweiwi menyaksikan pembakaran Masjid Al Aqsha yang mengagetkan dunia, yang dilakukan oleh seorang ekstrimis Kristen Australia. Serangan itu menghancurkan mimbar masjid yang telah berusia 1.000 tahun. Tragedi ini menjadi penyebab pembentukan Organisasi Kerjasama Islam (OKI) setahun kemudian.
“Saya sedang libur saat serangan itu terjadi,” al-Aweiwi mengingat. “Ketika saya mendengar tentang apa yang terjadi, saya mencoba untuk mencapai kompleks masjid meskipun semua hambatan didirikan oleh Israel.”
“Orang-orang Al-Quds terkejut dan marah,” katanya. “Polisi Israel menghentikan pemadam mencapai komplek. Warga Palestina harus membawa air sendiri untuk memadamkan kobaran api.”
Al-Alweiwi juga ingat bagaimana, setelah kejadian itu, pemerintah Israel telah mencoba untuk merekrut pemuda Palestina untuk membantu mengamankan Al Aqsha.
“Mereka [Israel] menawarkan saya gaji tiga kali lipat jika saya bekerja sebagai seorang polisi bagi mereka bukan penjaga masjid,” katanya.
“Tapi saya menolak tawaran itu. Saya mengatakan kepada mereka, ‘Saya tidak akan menggantikan lencana [penjaga Al-Aqsa] dengan Bintang Daud [dari polisi Israel]’.”
Dia menambahkan: “Saya ingin dikenang sebagai seseorang melayani Al-Aqsa, bukan sebagai seseorang yang membantu polisi pendudukan [Israel].”
Banyak Yang Syahid
Serangan terhadap Al Aqsha menginspirasi al-Aweiwi untuk mulai bekerja sebagai petugas pemadam kebakaran di kompleks Al-Aqsha, pekerjaan yang dia jalani selama tiga tahun berikutnya.
“Saya mengambil berbagai kursus pemadam kebakaran, beberapa di antaranya melibatkan latihan berisiko yang membuat takut peserta lain,” katanya.
Al-Aweiwi juga menjelaskan bagaimana dia melihat banyak orang Palestina syahid selama bertahun-tahun di dan sekitar kompleks Al-Aqsha.
“Dalam salah satu pembantaian Israel di tahun 1990-an, saya melihat tentara pendudukan Israel menyeret seorang pria, yang telah menderita luka kepala yang parang – dari Gerbang Singa,” kenangnya.
Dia juga menyaksikan semakin sering serangan oleh pemukim militan Yahudi ke komplek Al Aqsha, meskipun jamaah Muslim selalu menjaganya.
“Sejak Al-Quds diduduki pada tahun 1967, kami telah melihat pemukim Yahudi memaksa masuk ke komplek dengan jumlah yang terus bertambah,” katanya.
“Kami dulu memiliki kekuatan untuk melawan mereka,” tambahnya. “Tapi sekarang mereka datang dalam jumlah besar, biasanya dilindungi oleh polisi Israel.”
Komitmen
Namun, meski seringnya serangan orang-orang Israel, al-Aweiwi mengatakan ia tetap berkomitmen penuh untuk melayani dan membela Masjid Al Aqhsa. Dia juga pernah menjabat sebagai muadzin masjid.
Al-Aweiwi ingat bagaimana pada suatu waktu, seorang perwira Israel memintanya untuk menunda adzan Isya karena festival Yahudi telah berlangsung pada waktu yang sama.
“Saya menolak,” kata al-Aweiwi. “Saya mengatakan kepada petugas dengan tegas bahwa adzan itu suci.”
Selain sebagai muadzin masjid, al-Aweiwi juga dikenal di antara penduduk Palestina karena bacaan Al Quran-nya yang indah.
Pada tahun 2010, ketika Angkatan Laut Israel menyerang armada bantuan Turki menuju Gaza yang menewaskan 10 aktivis Turki di kapal, al-Aweiwi menyampaikan khotbah shubuh di mana ia memuliakan para syuhada relawan di kapal itu dan mengutuk para penyerang.
“Saya segera dipanggil oleh petugas intelijen Israel yang menuduh saya menghasut kekerasan,” katanya.
Al-Aweiwi akhirnya pensiun pada tahun 2011, tapi ini tidak mengakhiri pelayanannya terhadap Al-Aqsha.
“Ketika saya pensiun, saya meminta Awqaf [ Kementerian Waqaf Yordania) yang bertanggung jawab untuk mengurus komplek Al Aqsha untuk mengijinkan saya melakukan adzan setiap kali muadzin baru tidak ada,” katanya.
Permintaannya diterima dan ia terus menyerukan adzan pada berbagai kesempatan, terutama selama bulan puasa Ramadan.
Majd al-Hadmi, yang sekarang bertanggung jawab menjadi muadzin di Al-Aqsa, menjelaskan al-Aweiwi lebih dari sekedar muadzin.
“Dia perpaduan Farouk Hadrawi di Madinah dan Ali Ahmed Mulla di Makkah,” al-Hadmi mengatakan Anadolu Agency, mengacu pada dua dari para muadzin yang paling terkenal di dunia Arab tersebut.
Sejarah peradaban Islam juga mencatat nama
Bushra sebagai tempat yang spesial. Betapa tidak, di kota itulah seorang
pendeta bernama Buhaira mampu melihat tanda-tanda kerasulan pada
seorang anak laki-laki yang bernama Muhammad.
Alkisah, pada saat Muhammad SAW berusia 12 tahun, Abu Thalib hendak melakukan ekspedisi niaga dari Makkah ke Syam (Suriah). Lalu Muhammad berkata, "Paman, mengapa kau tak mengajakku? Aku tidak memiliki pelindung selain dirimu."
Abu Thalib pun tak tega meninggalkan keponakan kesayangannya seorang diri di Makkah. Ia lalu mengangkat tubuh Muhammad dan mendudukkannya di atas hewan tunggangan. Kafilah dagang dari Quraisy pun menempuh perjalanan darat menuju Syam.
Hingga akhirnya, kafilah itu tiba di sebuah tempat pertapaan di Bushra, antara Syam dan Hijaz. Di sana mereka bertemu dengan seorang rahib bernama Buhaira. Sang rahib takjub menyaksikan anak laki-laki yang bernama Muhammad itu.
Betapa tidak, awan selalu bergerak memayungi ke mana pun Muhammad kecil melangkah. Sang rahib pun segera menghampiri calon nabi dan rasul terkakhir itu. Buhaira memeriksa sekujur tubuh Muhammad untuk melihat tanda-tanda kenabian yang diterangkan dalam kitab-kitab suci terdahulu.
Ia akhirnya menemukan tanda kenabian itu di punggung Muhammad, di antara kedua pundaknya, lalu ia mencium tanda itu. Menyaksikan tanda-tanda kenabian itu, sang rahib pun berpesan kepada Abu Thalib agar menjaga keponakannya itu dengan hati-hati, karena dia adalah calon rasul yang dinanti umat manusia.
Prediksi Buhaira dari Kota Bushra itu menjadi kenyataan. Ketika menginjak usia 40 tahun, Muhammad memperoleh wahyu saat menyendiri di Gua Hira. Nabi Muhammad menjadi rasul penutup bagi umat manusia yang hidup di akhir zaman.http://khazanah.republika.co.id
Alkisah, pada saat Muhammad SAW berusia 12 tahun, Abu Thalib hendak melakukan ekspedisi niaga dari Makkah ke Syam (Suriah). Lalu Muhammad berkata, "Paman, mengapa kau tak mengajakku? Aku tidak memiliki pelindung selain dirimu."
Abu Thalib pun tak tega meninggalkan keponakan kesayangannya seorang diri di Makkah. Ia lalu mengangkat tubuh Muhammad dan mendudukkannya di atas hewan tunggangan. Kafilah dagang dari Quraisy pun menempuh perjalanan darat menuju Syam.
Hingga akhirnya, kafilah itu tiba di sebuah tempat pertapaan di Bushra, antara Syam dan Hijaz. Di sana mereka bertemu dengan seorang rahib bernama Buhaira. Sang rahib takjub menyaksikan anak laki-laki yang bernama Muhammad itu.
Betapa tidak, awan selalu bergerak memayungi ke mana pun Muhammad kecil melangkah. Sang rahib pun segera menghampiri calon nabi dan rasul terkakhir itu. Buhaira memeriksa sekujur tubuh Muhammad untuk melihat tanda-tanda kenabian yang diterangkan dalam kitab-kitab suci terdahulu.
Ia akhirnya menemukan tanda kenabian itu di punggung Muhammad, di antara kedua pundaknya, lalu ia mencium tanda itu. Menyaksikan tanda-tanda kenabian itu, sang rahib pun berpesan kepada Abu Thalib agar menjaga keponakannya itu dengan hati-hati, karena dia adalah calon rasul yang dinanti umat manusia.
Prediksi Buhaira dari Kota Bushra itu menjadi kenyataan. Ketika menginjak usia 40 tahun, Muhammad memperoleh wahyu saat menyendiri di Gua Hira. Nabi Muhammad menjadi rasul penutup bagi umat manusia yang hidup di akhir zaman.http://khazanah.republika.co.id
Permusuhan Yahudi terhadap Islam sudah terkenal dan ada sejak dahulu
kala. Dimulai sejak dakwah Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan
mungkin juga sebelumnya bahkan sebelum kelahiran beliau. Hal ini mereka
lakukan karena khawatir dari pengaruh dakwah islam yang akan
menghancurkan impian dan rencana mereka. Namun dewasa ini banyak usaha
menciptakan opini bahwa permusuhan yahudi dan islam hanyalah sekedar
perebutan tanah dan perbatasan Palestina dan wilayah sekitarnya, bukan
permasalahan agama dan sejarah kelam permusuhan yang mengakar dalam diri
mereka terhadap agama yang mulia ini.
Padahal pertarungan kita dengan Yahudi adalah pertarungan eksistensi, bukan persengkataan perbatasan. Musuh-musuh islam dan para pengikutnya yang bodoh terus berupaya membentuk opini bahwa hakekat pertarungan dengan Yahudi adalah sebatas pertarungan memperebutkan wilayah, persoalan pengungsi dan persoalan air. Dan bahwa persengketaan ini bisa berakhir dengan (diciptakannya suasana) hidup berdampingan secara damai, saling tukar pengungsi, perbaikan tingkat hidup masing-masing, penempatan wilayah tinggal mereka secara terpisah-pisah dan mendirikan sebuah Negara sekuler kecil yang lemah dibawah tekanan ujung-ujung tombak zionisme, yang kesemua itu (justeru) menjadi pagar-pagar pengaman bagi Negara zionis. Mereka semua tidak mengerti bahwa pertarungan kita dengan Yahudi adalah pertarungan lama semenjak berdirinya Negara islam diMadinah dibawah kepemimpinan utusan Allah bagi alam semesta yaitu Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam.
Demikianlah permusuhan dan usaha mereka merusak Islam sejak berdirinya Negara islam bahkan sejak Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam hijrah ke Madinah sampai saat ini dan akan berlanjut terus. Walaupun tidak tertutup kemungkinan mereka punya usaha dan upaya memberantas islam sejak kelahiran beliau n . hal ini dapat dilihat dalam pernyataan pendeta Buhairoh terhadap Abu Thalib dalam perjalanan dagang bersama beliau diwaktu kecil. Allah Ta’ala telah jelas-jelas menerangkan permusuhan Yahudi dalam firmanNya:
Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. (Qs. 5:82)
Melihat demikian panjangnya sejarah dan banyaknya bentuk permusuhan Yahudi terhadap Islam dan Negara Islam, maka kami ringkas dalam 3 marhalah;
Marhalah pertama:
Upaya Yahudi dalam menghalangi dakwah Islam di masa awal perkembangan dakwah islam dan cara mereka dalam hal ini.
Diantara upaya Yahudi dalam menghalangi dakwah Islam di masa-masa awal perkembangannya adalah:
Pemboikotan (embargo) Ekonomi: Kaum muslimin ketika awal perkembangan islam di Madinah sangat lemah perekonomiannya. Kaum muhajirin datang ke Madinah tidak membawa harta mereka dan kaum Anshor yang menolong mereka pun bukanlah pemegang perekonomian Madinah. Oleh karena itu Yahudi menggunakan kesempatan ini untuk menjauhkan kaum muslimin dari agama mereka dan melakukan embargo ekonomi. Para pemimpin Yahudi enggan membantu perekonomian kaum muslimin dan ini terjadi ketika Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam mengutus Abu Bakar menemui para pemimpin Yahudi untuk meminjam dari mereka harta yang digunakan untuk membantu urusan beliau dan berwasiat untuk tidak berkata kasar dan tidak menyakiti mereka bila mereka tidak memberinya. Ketika Abu Bakar masuk Bait Al Midras (tempat ibadah mereka) mendapati mereka sedang berkumpul dipimpin oleh Fanhaash –tokoh besar bani Qainuqa’- yang merupakan salah satu ulama besar mereka didampingi seorang pendeta yahudi bernama Asy-ya’. Setelah Abu Bakar menyampaikan apa yang dibawanya dan memberikan surat Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam kepadanya. Maka ia membaca sampai habis dan berkata: Robb kalian butuh kami bantu! Tidak hanya sampai disini saja, bahkan merekapun enggan menunaikan kewajiban yang harus mereka bayar, seperti hutang, jual beli dan amanah kepada kaum muslimin.
Berdalih bahwa hutang, jual beli dan amanah tersebut adanya sebelum islam dan masuknya mereka dalam islam menghapus itu semua. Oleh karena itu Allah berfirman:Di antara Ahli Kitab ada orang yang yang jika kamu mempercayakan kepadanya harta yang banyak, dikembalikannya kepadamu; dan di antara mereka ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya satu dinar, tidak dikembalikannya kepadamu, kecuali jika kamu selalu menagihnya. Yang demikian itu lantaranmereka mengatakan:”Tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang ummi. Mereka berkata dusta terhadap Allah, padahal mereka mengetahui. (Qs. 3:75)
Membangkitkan fitnah dan kebencian: Yahudi dalam upaya menghalangi dakwah islam menggunakan upaya menciptakan fitnah dan kebencian antar sesama kaum muslimin yang pernah ada di hati penduduk Madinah dari Aus dan Khodzraj pada masa jahiliyah.
Sebagian orang yang baru masuk islam menerima ajakan Yahudi, namun dapat dipadamkan oleh Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam . diantaranya adalah kisah yang dibawakan Ibnu Hisyam dalam Siroh Ibnu Hisyam (2/588) ringkas kisahnya: Seorang Yahudi bernama Syaas bin Qais mengutus seorang pemuda Yahudi untuk duduk dan bermajlis bareng dengan kaum Anshor, kemudian mengingatkan mereka tentang kejadian perang Bu’ats hingga terjadi pertengkaran dan mereka keluar membawa senjata-senjata masing-masing. Lalu hal ini sampai pada Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam. maka beliau shallallahu ’alaihi wa sallam segera berangkat bersama para sahabat muhajirin menemui mereka dan bersabda:يَا مَعْشَر المُسْلِمِيْنَ اللهَ اللهَ أَبِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ وَ أَنَا بَيْنَ أَظْهُرِكُمْ بَعْدَ أَنْ هَدَاكُمُ اللهُ لِلإِسْلاَمِ وَ أَكْرَمَكُمْ بِهِ وَ قَطَعَ بِهِ أَمْرَ الْجَاهِلِيَّةِ وَاسْتَنْقَذَكُمْ بِهِ مِنَ الْكُفْرِ وَ أَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ “Wahai kaum muslimin alangkah keterlaluannya kalian, apakah (kalian mengangkat) dakwah jahiliyah padahal aku ada diantara kalian setelah Allah tunjuki kalian kepada Islam dan muliakan kalian, memutus perkara Jahiliyah dan menyelamatkan kalian dari kekufuran dengan Islam serta menyatukan hati-hati kalian.” Lalu mereka sadar ini adalah godaan syetan dan tipu daya musuh mereka, sehingga mereka mengangis dan saling rangkul antara Aus dan Khodzroj. Lalu mereka pergi bersama Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dengan patuh dan taat yang penuh. Lalu Allah turunkan firmanNya: Katakanlah: ”Hai Ahli Kitab, mengapa kamu ingkari ayat-ayat Allah, padahal Allah Maha Menyaksikan apa yang kamu kerjakan. Katakanlah:”Hai Ahli Kitab, mengapa kamu menghalang-halangi dari jalan Allah orang-orang yang telah beriman, kamu menghendakinya menjadi bengkok, padahal kamu menyaksikan.” Allah sekali-kali tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan. (Qs. 3:99).
Menyebarkan keraguan pada diri kaum muslimin: Orang Yahudi berusaha memasukkan keraguan di hati kaum muslimin yang masih lemah imannya dengan melontarkan syubhat-syubhat yang dapat menggoyahkan kepercayaan mereka terhadap islam. Hal ini dijelaskan Allah dalam firmanNya: Segolongan (lain) dari Ahli Kitab berkata (kepada sesamanya): “Perlihatkanlah (seolah-olah) kamu beriman kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang beriman (sahabat-sahabat Rasul) pada permulaan siang dan ingkarilah ia pada akhirnya, supaya mereka (orang-orang mu’min) kembali (kepada kekafiran). (Qs. 3:72). Ibnu Katsir menjelaskan ayat ini dengan pernyataan: Ini adalah tipu daya yang mereka inginkan untuk merancukan perkara agama islam kepada orang-orang yang lemah imannya. Mereka sepakat menampakkan keimanan di pagi hari (permulaan siang) dan sholat subuh bersama kaum muslimin. Lalu ketika diakhir siang hari (sore hari) mereka murtad dari agama Islam agar orang-orang bodoh menyatakan bahwa mereka keluat tidak lain karena adanya kekurangan dan aib dalam agama kaum muslimin.
Memata-matai kaum Muslimin: Ibnu Hisyam menjelaskan adanya sejumlah orang Yahudi yang memeluk Islam untuk memata-matai kaum muslimin dan menukilkan berita Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan yang ingin beliau lakukan kepada orang Yahudi dan kaum musyrikin, diantaranya: Sa’ad bin Hanief, Zaid bin Al Lishthi, Nu’maan bin Aufa bin Amru dan Utsmaan bin Aufa serta Rafi’ bin Huraimila’. Untuk menghancurkan tipu daya ini Allah berfirman:Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaan orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya. Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata:”Kami beriman”; dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka):”Marilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati. (Qs. 3:118-119).
Usaha memfitnah Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam: Orang Yahudi tidak pernah henti berusaha memfitnah Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, diantaranya adalah kisah yang disampaikan Ibnu Ishaaq bahwa beliau berkata: Ka’ab bin Asad, Ibnu Shaluba, Abdullah bin Shurie dan Syaas bin Qais saling berembuk dan menghasilkan keputusan berangkat menemui Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam untuk memfitnah agama beliau. Lalu mereka menemui Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan berkata: Wahai Muhammad engkau telah tahu kami adalah ulama dan tokoh terhormat serta pemimpin besar Yahudi, Apabila kami mengikutimu maka seluruh Yahudi akan ikut dan tidak akan menyelisihi kami. Sungguh antara kami dan sebagian kaum kami terjadi persengketaan. Apakah boleh kami berhukum kepadamu lalu engkau adili dengan memenangkan kami atas mereka? Maka Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam enggan menerimanya. Lalu turunlah firman Allah: Dan hendaklah kamu memutuskan perkara diantara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kemu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati. hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. (Qs. 5:49)
Semua usaha mereka ini gagal total dihadapan Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan Allah membalas makar mereka ini dengan menimpakan kepada mereka kerendahan dan kehinaan.
Marhalah kedua:
Masa perang senjata antara Yahudi dan Muslimin di zaman Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam.
Orang Yahudi tidak cukup hanya membuat keonaran dan fitnah kepada kaum muslimin semata bahkan merekapun menampakkan diri bergabung dengan kaum musyrikin dengan menyatakan permusuhan yang terang-terangan terhadap islam dan kaum muslimin. Namun Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam tetap menunggu sampai mereka melanggar dan membatalkan perjanjian yang pernah dibuat diMadinah. Ketika mereka melanggar perjanjian tersebut barulah Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam melakukan tindakan militer untuk menghadapi mereka dan mengambil beberapa keputusan untuk memberikan pelajaran kepada mereka.
Diantara keputusan penting tersebut adalah:
Pengusiran Bani Qainuqa’
Pengusiran bani Al Nadhir
Perang Bani Quraidzoh
Penaklukan kota Khaibar
Setelah terjadinya hal tersebut maka orang Yahudi terusir dari jazirah Arab.
Marhalah ketiga:
Tipu daya dan makar mereka terhadap islam setelah wafat Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam.
Orang Yahudi memandang tidak mungkin melawan Islam dan kaum muslimin selama Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam masih hidup. Ketika Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam wafat, orang Yahudi melihat adanya kesempatan untuk membuat makar kembali terhadap Islam dan muslimin. Mereka mulai merencanakan dan menjalankan tipu daya mereka untuk memalingkan kaum muslimin dari agamanya. Namun tentunya mereka lakukan dengan lebih baik dan teliti dibanding sebelumnya.
Sebagian target mereka telah terwujud dengan beberapa sebab diantaranya:
Kaum muslimin kehilangan Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam.
Orang Yahudi dapat mengambil pelajaran dan pengalaman dari usaha-usaha mereka terdahulu sehingga dapat menambah hebat makar dan tipu daya mereka.
Masuknya sebagian orang Yahudi ke dalam Islam dengan tujuan memata-matai kaum muslimin dan merusak mereka dari dalam tubuh kaum muslimin.
Memang berbicara tentang tipu daya dan makar Yahudi kepada kaum Muslimin sejak wafat Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam hingga kini membutuhkan pembahasan yang panjang sekali. Namun rasanya cukup memberikan 3 contoh kejadian besar dalam sejarah Islam untuk mengungkapkan permasalahan ini. Yaitu:
Fitnah pembunuhan khalifah UtsmanIni adalah awal keberhasilan Yahudi dalam menyusup dan merusak Islam dan kaum muslimin. Tokoh yahudi yang bertanggung jawab terjadinya peristiwa ini adalah Abdullah bin Saba’ yang dikenal dengan Ibnu Sauda’. Kisahnya cukup masyhur dan ditulis dalam kitab-kitab sejarah Islam.
Fitnah Maimun Al Qadaah dan perkembangan sekte Bathiniyah. Keberhasilan Abdullah bin Saba’ membuat fitnah di kalangan kaum Muslimin dan mengajarkan saba’isme membuat orang Yahudi semakin berani. Sehingga belum habis fitnah Sabaiyah mereka sudah memunculkan tipu daya baru yang dipimpin seorang Yahudi bernama Maimun bin Dieshaan Al Qadaah dengan membuat sekte Batiniyah di Kufah tahun 276 H.
Imam Al Baghdadi menceritakan: Diatara orang yang membangun sekte Bathiniyah adalah Maimun bin Dieshaan yang dikenal dengan Al Qadaah seorang maula bagi Ja’far bin Muhammad Al Shodiq yang berasal dari daerah Al Ahwaaz dan Muhammad bin Al Husein yang dikenal dengan Dandaan. Mereka berkumpul bersama Maimun Al Qadah di penjara Iraaq lalu membangun sekte Bathiniyah.Tipu daya Yahudi ini terus berjalan dalam bentuk yang beraneka ragam sehingga sekte ini berkembang menjadi banyak sekali sektenya dalam kaum muslimin, sampai-sampai menghalalkan pernikahan sesama mahrom dan hilangnya kewajiban syariat pada seseorang.
Penghancuran kekhilafahan Turki Utsmani ditangan gerakan Masoniyah dan akibat yang ditimbulkan berupa perpecahan kaum muslimin.Orang Yahudi mengetahui sumber kekuatan kaum muslimin adaalh bersatunya mereka dibawah satu kepemimpinan dalam naungan kekhilafahan Islamiyah. Oleh karena mereka segera berusaha keras meruntuhkan kekhilafahan yang ada sejak zaman Khulafa’ Rasyidin sampai berhasil menghapus dan meruntuhkan negara Turki Utsmaniyah. Orang Yahudi memulai konspirasinya dalam meruntuhkan Negara Turki Utsmaniyah pada masa sultan Murad kedua (tahun 834-855H) dan setelah beliau pada masa sultan Muhammad Al Faatih (tahun 855-886H) yang meningal diracun oleh Thobib beliau seorang Yahudi bernama Ya’qub Basya. Demikian juga berhasil membunuh Sultan Sulaiman Al Qanuni (tahun 926-974H) dan para cucunya yang diatur oleh seorang Yahudi bernama Nurbaanu. Konspirasi Yahudi ini terus berlangsung di masa kekhilafahan Utsmaniyah lebih dari 400 tahunan hingga runtuhnya di tangan Mushthofa Ataturk.
Orang Yahudi dalam menjalankan rencana tipu daya mereka menggunakan kekuatan berikut ini:
Yahudi Al Dunamah. Diantara tokohnya adalah Madhaat Basya dan Mushthofa Kamal Ataturk yang memiliki peran besar dan penting dalam penghancuran kekhilafahan Utsmaniyah.
Salibis Eropa yang sangat membenci islam dan kaum muslimin dengan melakukan perjanjian kerjasama dengan beberapa Negara eropa yaitu Bulgaria, Rumania, Namsa, Prancis, Rusia, Yunani dan Italia.
Organisasi bawah tanah/rahasia, khususnya Masoniyah yang terus berusaha merealisasikan tujuan dan target Zionis.
Usaha-usaha Musthofa Kamal Basya Ataturk dalam menghancurkan kekhilafahan setelah berhasil menyingkirkan sultan Abdulhamid kedua adalah:
Pada awal November 1922 M ia menghapus kesultanan dan membiarkan kekhilafahan
Pada tanggal 18 November 1922M ia mencopot Wahieduddin Muhammad keenam dari kekhilafahan.
Pada Agustus 1923 M ia mendirikan Hizb Al Sya’b Al Jumhuriah (Partai Rakyat Republik) dengan tokoh-tokoh pentingnya kebanyakan dari Yahudi Al Dunamah dan Masoniyah.
Pada tanggal 20 oktober 1923 M Republik Turki diresmikan dan Al Jum’iyah Al Wathoniyah (Organisasi nasional) memilih Musthofa Kamal sebagai presiden Turki.
Pada tanggal 2 Maret 1924 M Kekhilafahan dihapus total.
Demikianlah sempurna sudah keinginan orang-orang Yahudi untuk menjadikan kekhilafahan sebagai Negara sekuler yang dipimpin seorang Yahudi yang berkedok muslim.
Mudah-mudahan ringkas sejarah permusuhan Yahudi ini dapat bermanfaat bagi kita semua dan dapat menjadi pelajaran bagi kaum muslimin.
Dari artikel Permusuhan Yahudi Terhadap Islam Dalam Sejarah.http://amwofficial.blogspot.co.id/
Padahal pertarungan kita dengan Yahudi adalah pertarungan eksistensi, bukan persengkataan perbatasan. Musuh-musuh islam dan para pengikutnya yang bodoh terus berupaya membentuk opini bahwa hakekat pertarungan dengan Yahudi adalah sebatas pertarungan memperebutkan wilayah, persoalan pengungsi dan persoalan air. Dan bahwa persengketaan ini bisa berakhir dengan (diciptakannya suasana) hidup berdampingan secara damai, saling tukar pengungsi, perbaikan tingkat hidup masing-masing, penempatan wilayah tinggal mereka secara terpisah-pisah dan mendirikan sebuah Negara sekuler kecil yang lemah dibawah tekanan ujung-ujung tombak zionisme, yang kesemua itu (justeru) menjadi pagar-pagar pengaman bagi Negara zionis. Mereka semua tidak mengerti bahwa pertarungan kita dengan Yahudi adalah pertarungan lama semenjak berdirinya Negara islam diMadinah dibawah kepemimpinan utusan Allah bagi alam semesta yaitu Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam.
Demikianlah permusuhan dan usaha mereka merusak Islam sejak berdirinya Negara islam bahkan sejak Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam hijrah ke Madinah sampai saat ini dan akan berlanjut terus. Walaupun tidak tertutup kemungkinan mereka punya usaha dan upaya memberantas islam sejak kelahiran beliau n . hal ini dapat dilihat dalam pernyataan pendeta Buhairoh terhadap Abu Thalib dalam perjalanan dagang bersama beliau diwaktu kecil. Allah Ta’ala telah jelas-jelas menerangkan permusuhan Yahudi dalam firmanNya:
Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. (Qs. 5:82)
Melihat demikian panjangnya sejarah dan banyaknya bentuk permusuhan Yahudi terhadap Islam dan Negara Islam, maka kami ringkas dalam 3 marhalah;
Marhalah pertama:
Upaya Yahudi dalam menghalangi dakwah Islam di masa awal perkembangan dakwah islam dan cara mereka dalam hal ini.
Diantara upaya Yahudi dalam menghalangi dakwah Islam di masa-masa awal perkembangannya adalah:
Pemboikotan (embargo) Ekonomi: Kaum muslimin ketika awal perkembangan islam di Madinah sangat lemah perekonomiannya. Kaum muhajirin datang ke Madinah tidak membawa harta mereka dan kaum Anshor yang menolong mereka pun bukanlah pemegang perekonomian Madinah. Oleh karena itu Yahudi menggunakan kesempatan ini untuk menjauhkan kaum muslimin dari agama mereka dan melakukan embargo ekonomi. Para pemimpin Yahudi enggan membantu perekonomian kaum muslimin dan ini terjadi ketika Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam mengutus Abu Bakar menemui para pemimpin Yahudi untuk meminjam dari mereka harta yang digunakan untuk membantu urusan beliau dan berwasiat untuk tidak berkata kasar dan tidak menyakiti mereka bila mereka tidak memberinya. Ketika Abu Bakar masuk Bait Al Midras (tempat ibadah mereka) mendapati mereka sedang berkumpul dipimpin oleh Fanhaash –tokoh besar bani Qainuqa’- yang merupakan salah satu ulama besar mereka didampingi seorang pendeta yahudi bernama Asy-ya’. Setelah Abu Bakar menyampaikan apa yang dibawanya dan memberikan surat Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam kepadanya. Maka ia membaca sampai habis dan berkata: Robb kalian butuh kami bantu! Tidak hanya sampai disini saja, bahkan merekapun enggan menunaikan kewajiban yang harus mereka bayar, seperti hutang, jual beli dan amanah kepada kaum muslimin.
Berdalih bahwa hutang, jual beli dan amanah tersebut adanya sebelum islam dan masuknya mereka dalam islam menghapus itu semua. Oleh karena itu Allah berfirman:Di antara Ahli Kitab ada orang yang yang jika kamu mempercayakan kepadanya harta yang banyak, dikembalikannya kepadamu; dan di antara mereka ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya satu dinar, tidak dikembalikannya kepadamu, kecuali jika kamu selalu menagihnya. Yang demikian itu lantaranmereka mengatakan:”Tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang ummi. Mereka berkata dusta terhadap Allah, padahal mereka mengetahui. (Qs. 3:75)
Membangkitkan fitnah dan kebencian: Yahudi dalam upaya menghalangi dakwah islam menggunakan upaya menciptakan fitnah dan kebencian antar sesama kaum muslimin yang pernah ada di hati penduduk Madinah dari Aus dan Khodzraj pada masa jahiliyah.
Sebagian orang yang baru masuk islam menerima ajakan Yahudi, namun dapat dipadamkan oleh Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam . diantaranya adalah kisah yang dibawakan Ibnu Hisyam dalam Siroh Ibnu Hisyam (2/588) ringkas kisahnya: Seorang Yahudi bernama Syaas bin Qais mengutus seorang pemuda Yahudi untuk duduk dan bermajlis bareng dengan kaum Anshor, kemudian mengingatkan mereka tentang kejadian perang Bu’ats hingga terjadi pertengkaran dan mereka keluar membawa senjata-senjata masing-masing. Lalu hal ini sampai pada Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam. maka beliau shallallahu ’alaihi wa sallam segera berangkat bersama para sahabat muhajirin menemui mereka dan bersabda:يَا مَعْشَر المُسْلِمِيْنَ اللهَ اللهَ أَبِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ وَ أَنَا بَيْنَ أَظْهُرِكُمْ بَعْدَ أَنْ هَدَاكُمُ اللهُ لِلإِسْلاَمِ وَ أَكْرَمَكُمْ بِهِ وَ قَطَعَ بِهِ أَمْرَ الْجَاهِلِيَّةِ وَاسْتَنْقَذَكُمْ بِهِ مِنَ الْكُفْرِ وَ أَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ “Wahai kaum muslimin alangkah keterlaluannya kalian, apakah (kalian mengangkat) dakwah jahiliyah padahal aku ada diantara kalian setelah Allah tunjuki kalian kepada Islam dan muliakan kalian, memutus perkara Jahiliyah dan menyelamatkan kalian dari kekufuran dengan Islam serta menyatukan hati-hati kalian.” Lalu mereka sadar ini adalah godaan syetan dan tipu daya musuh mereka, sehingga mereka mengangis dan saling rangkul antara Aus dan Khodzroj. Lalu mereka pergi bersama Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dengan patuh dan taat yang penuh. Lalu Allah turunkan firmanNya: Katakanlah: ”Hai Ahli Kitab, mengapa kamu ingkari ayat-ayat Allah, padahal Allah Maha Menyaksikan apa yang kamu kerjakan. Katakanlah:”Hai Ahli Kitab, mengapa kamu menghalang-halangi dari jalan Allah orang-orang yang telah beriman, kamu menghendakinya menjadi bengkok, padahal kamu menyaksikan.” Allah sekali-kali tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan. (Qs. 3:99).
Menyebarkan keraguan pada diri kaum muslimin: Orang Yahudi berusaha memasukkan keraguan di hati kaum muslimin yang masih lemah imannya dengan melontarkan syubhat-syubhat yang dapat menggoyahkan kepercayaan mereka terhadap islam. Hal ini dijelaskan Allah dalam firmanNya: Segolongan (lain) dari Ahli Kitab berkata (kepada sesamanya): “Perlihatkanlah (seolah-olah) kamu beriman kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang beriman (sahabat-sahabat Rasul) pada permulaan siang dan ingkarilah ia pada akhirnya, supaya mereka (orang-orang mu’min) kembali (kepada kekafiran). (Qs. 3:72). Ibnu Katsir menjelaskan ayat ini dengan pernyataan: Ini adalah tipu daya yang mereka inginkan untuk merancukan perkara agama islam kepada orang-orang yang lemah imannya. Mereka sepakat menampakkan keimanan di pagi hari (permulaan siang) dan sholat subuh bersama kaum muslimin. Lalu ketika diakhir siang hari (sore hari) mereka murtad dari agama Islam agar orang-orang bodoh menyatakan bahwa mereka keluat tidak lain karena adanya kekurangan dan aib dalam agama kaum muslimin.
Memata-matai kaum Muslimin: Ibnu Hisyam menjelaskan adanya sejumlah orang Yahudi yang memeluk Islam untuk memata-matai kaum muslimin dan menukilkan berita Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan yang ingin beliau lakukan kepada orang Yahudi dan kaum musyrikin, diantaranya: Sa’ad bin Hanief, Zaid bin Al Lishthi, Nu’maan bin Aufa bin Amru dan Utsmaan bin Aufa serta Rafi’ bin Huraimila’. Untuk menghancurkan tipu daya ini Allah berfirman:Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaan orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya. Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata:”Kami beriman”; dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka):”Marilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati. (Qs. 3:118-119).
Usaha memfitnah Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam: Orang Yahudi tidak pernah henti berusaha memfitnah Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, diantaranya adalah kisah yang disampaikan Ibnu Ishaaq bahwa beliau berkata: Ka’ab bin Asad, Ibnu Shaluba, Abdullah bin Shurie dan Syaas bin Qais saling berembuk dan menghasilkan keputusan berangkat menemui Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam untuk memfitnah agama beliau. Lalu mereka menemui Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan berkata: Wahai Muhammad engkau telah tahu kami adalah ulama dan tokoh terhormat serta pemimpin besar Yahudi, Apabila kami mengikutimu maka seluruh Yahudi akan ikut dan tidak akan menyelisihi kami. Sungguh antara kami dan sebagian kaum kami terjadi persengketaan. Apakah boleh kami berhukum kepadamu lalu engkau adili dengan memenangkan kami atas mereka? Maka Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam enggan menerimanya. Lalu turunlah firman Allah: Dan hendaklah kamu memutuskan perkara diantara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kemu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati. hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. (Qs. 5:49)
Semua usaha mereka ini gagal total dihadapan Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan Allah membalas makar mereka ini dengan menimpakan kepada mereka kerendahan dan kehinaan.
Marhalah kedua:
Masa perang senjata antara Yahudi dan Muslimin di zaman Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam.
Orang Yahudi tidak cukup hanya membuat keonaran dan fitnah kepada kaum muslimin semata bahkan merekapun menampakkan diri bergabung dengan kaum musyrikin dengan menyatakan permusuhan yang terang-terangan terhadap islam dan kaum muslimin. Namun Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam tetap menunggu sampai mereka melanggar dan membatalkan perjanjian yang pernah dibuat diMadinah. Ketika mereka melanggar perjanjian tersebut barulah Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam melakukan tindakan militer untuk menghadapi mereka dan mengambil beberapa keputusan untuk memberikan pelajaran kepada mereka.
Diantara keputusan penting tersebut adalah:
Pengusiran Bani Qainuqa’
Pengusiran bani Al Nadhir
Perang Bani Quraidzoh
Penaklukan kota Khaibar
Setelah terjadinya hal tersebut maka orang Yahudi terusir dari jazirah Arab.
Marhalah ketiga:
Tipu daya dan makar mereka terhadap islam setelah wafat Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam.
Orang Yahudi memandang tidak mungkin melawan Islam dan kaum muslimin selama Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam masih hidup. Ketika Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam wafat, orang Yahudi melihat adanya kesempatan untuk membuat makar kembali terhadap Islam dan muslimin. Mereka mulai merencanakan dan menjalankan tipu daya mereka untuk memalingkan kaum muslimin dari agamanya. Namun tentunya mereka lakukan dengan lebih baik dan teliti dibanding sebelumnya.
Sebagian target mereka telah terwujud dengan beberapa sebab diantaranya:
Kaum muslimin kehilangan Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam.
Orang Yahudi dapat mengambil pelajaran dan pengalaman dari usaha-usaha mereka terdahulu sehingga dapat menambah hebat makar dan tipu daya mereka.
Masuknya sebagian orang Yahudi ke dalam Islam dengan tujuan memata-matai kaum muslimin dan merusak mereka dari dalam tubuh kaum muslimin.
Memang berbicara tentang tipu daya dan makar Yahudi kepada kaum Muslimin sejak wafat Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam hingga kini membutuhkan pembahasan yang panjang sekali. Namun rasanya cukup memberikan 3 contoh kejadian besar dalam sejarah Islam untuk mengungkapkan permasalahan ini. Yaitu:
Fitnah pembunuhan khalifah UtsmanIni adalah awal keberhasilan Yahudi dalam menyusup dan merusak Islam dan kaum muslimin. Tokoh yahudi yang bertanggung jawab terjadinya peristiwa ini adalah Abdullah bin Saba’ yang dikenal dengan Ibnu Sauda’. Kisahnya cukup masyhur dan ditulis dalam kitab-kitab sejarah Islam.
Fitnah Maimun Al Qadaah dan perkembangan sekte Bathiniyah. Keberhasilan Abdullah bin Saba’ membuat fitnah di kalangan kaum Muslimin dan mengajarkan saba’isme membuat orang Yahudi semakin berani. Sehingga belum habis fitnah Sabaiyah mereka sudah memunculkan tipu daya baru yang dipimpin seorang Yahudi bernama Maimun bin Dieshaan Al Qadaah dengan membuat sekte Batiniyah di Kufah tahun 276 H.
Imam Al Baghdadi menceritakan: Diatara orang yang membangun sekte Bathiniyah adalah Maimun bin Dieshaan yang dikenal dengan Al Qadaah seorang maula bagi Ja’far bin Muhammad Al Shodiq yang berasal dari daerah Al Ahwaaz dan Muhammad bin Al Husein yang dikenal dengan Dandaan. Mereka berkumpul bersama Maimun Al Qadah di penjara Iraaq lalu membangun sekte Bathiniyah.Tipu daya Yahudi ini terus berjalan dalam bentuk yang beraneka ragam sehingga sekte ini berkembang menjadi banyak sekali sektenya dalam kaum muslimin, sampai-sampai menghalalkan pernikahan sesama mahrom dan hilangnya kewajiban syariat pada seseorang.
Penghancuran kekhilafahan Turki Utsmani ditangan gerakan Masoniyah dan akibat yang ditimbulkan berupa perpecahan kaum muslimin.Orang Yahudi mengetahui sumber kekuatan kaum muslimin adaalh bersatunya mereka dibawah satu kepemimpinan dalam naungan kekhilafahan Islamiyah. Oleh karena mereka segera berusaha keras meruntuhkan kekhilafahan yang ada sejak zaman Khulafa’ Rasyidin sampai berhasil menghapus dan meruntuhkan negara Turki Utsmaniyah. Orang Yahudi memulai konspirasinya dalam meruntuhkan Negara Turki Utsmaniyah pada masa sultan Murad kedua (tahun 834-855H) dan setelah beliau pada masa sultan Muhammad Al Faatih (tahun 855-886H) yang meningal diracun oleh Thobib beliau seorang Yahudi bernama Ya’qub Basya. Demikian juga berhasil membunuh Sultan Sulaiman Al Qanuni (tahun 926-974H) dan para cucunya yang diatur oleh seorang Yahudi bernama Nurbaanu. Konspirasi Yahudi ini terus berlangsung di masa kekhilafahan Utsmaniyah lebih dari 400 tahunan hingga runtuhnya di tangan Mushthofa Ataturk.
Orang Yahudi dalam menjalankan rencana tipu daya mereka menggunakan kekuatan berikut ini:
Yahudi Al Dunamah. Diantara tokohnya adalah Madhaat Basya dan Mushthofa Kamal Ataturk yang memiliki peran besar dan penting dalam penghancuran kekhilafahan Utsmaniyah.
Salibis Eropa yang sangat membenci islam dan kaum muslimin dengan melakukan perjanjian kerjasama dengan beberapa Negara eropa yaitu Bulgaria, Rumania, Namsa, Prancis, Rusia, Yunani dan Italia.
Organisasi bawah tanah/rahasia, khususnya Masoniyah yang terus berusaha merealisasikan tujuan dan target Zionis.
Usaha-usaha Musthofa Kamal Basya Ataturk dalam menghancurkan kekhilafahan setelah berhasil menyingkirkan sultan Abdulhamid kedua adalah:
Pada awal November 1922 M ia menghapus kesultanan dan membiarkan kekhilafahan
Pada tanggal 18 November 1922M ia mencopot Wahieduddin Muhammad keenam dari kekhilafahan.
Pada Agustus 1923 M ia mendirikan Hizb Al Sya’b Al Jumhuriah (Partai Rakyat Republik) dengan tokoh-tokoh pentingnya kebanyakan dari Yahudi Al Dunamah dan Masoniyah.
Pada tanggal 20 oktober 1923 M Republik Turki diresmikan dan Al Jum’iyah Al Wathoniyah (Organisasi nasional) memilih Musthofa Kamal sebagai presiden Turki.
Pada tanggal 2 Maret 1924 M Kekhilafahan dihapus total.
Demikianlah sempurna sudah keinginan orang-orang Yahudi untuk menjadikan kekhilafahan sebagai Negara sekuler yang dipimpin seorang Yahudi yang berkedok muslim.
Mudah-mudahan ringkas sejarah permusuhan Yahudi ini dapat bermanfaat bagi kita semua dan dapat menjadi pelajaran bagi kaum muslimin.
Dari artikel Permusuhan Yahudi Terhadap Islam Dalam Sejarah.http://amwofficial.blogspot.co.id/
Nama lengkap beliau adalah Utsman bin Affan bin Abdisy Syams bin Abdi Manaf bin Aushi bin Kilab. Gelar beliau Abu Amr. Biasa dijuluki sebagai dzun nurain (pemilik dua cahaya) karena beliau menikahi dua putrid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu Ruqayyah dan Ummu Kultsum.
Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu masuk Islam pada usia 23 tahun, termasuk golongan orang-orang yang pertama masuk Islam dan termasuk dalam 10 sahabat yang diberi kabar gembira mendapat jaminan masuk surga Keimanan dan ketaqwaan yang ada pada beliau menjadi sebab jaminan masuk surga.
Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu masuk Islam karena diajak oleh Abu Bakar Ash Shiddiq. Ketika itu, ada beberapa orang mendatangi Abu Bakar Ash Shiddiq yaitu Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, Zubair bin Awwam, Thalhah bin Ubaidillah, Sa’ad bin Abi Waqqash dan Abdurrahman bin Auf.
Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu menyeru mereka untuk mengikuti agama yang dapat menyelamatkan mereka di dunia dan akhirat yaitu dengan masuk Islam. Merekapun menyambutnya dan semuanya masuk Islam.
Setelah mereka menyatakan Islam dihadapan Abu Bakar Ash Shiddiq, mereka segera pergi mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam disertai Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu.
Utsman bin Affan menghiasi dirinya dengan akhlak yang mulia sehingga beliau mencapai derajat yang mulia di sisi Allah ta’ala.
**
Disarikan dari kitab Nubdzah Mukhtasharah fi Tarikhil Khulafairrasyidin karya Syaikh Sa’id bin Abdullah Al Ghomidi dan Syaikh Khalid bin Sulaiman Al Husainan
http://wanitasalihah.com/
Ketika menempuh padang pasir yang panas bagai menyala dalam
perjalanan hijrah dari Mekah ke Madinah yang terkenal itu, ia masih merupakan
janin dalam rahim ibunya. Demikianlah telah menjadi taqdir bagi Abdullah bin
Zubeir melakukan hijrah bersama Kaum Muhajirin selagi belum muncul ke alam
dunia, masih tersimpan dalam perut ibunya ….
Ibunya Asma, semoga Allah ridla kepadanya dan ia jadi
ridla kepada Allah setibanya di Quba, suatu dusun di luar kota Madinah,
datanglah saat melahirkan, dan jabang bayi yang muhajir itu pun masuklah ke
bumi Madinah bersamaan waktunya dengan masuknya muhajirin lainnya dari
shahabat- shahabat Rasulullah . . . !
Bayi yang pertama kali lahir pada saat hijrah itu, dibawa kepada
Rasulullah saw. di rumahnya di Madinah, maka diciumnya kedua pipinya dan
dikecupnya mulutnya, hingga yang pertama masuk ke rongga perut Abdullah
bin Zubeir itu ialah air selera Rasulullah yang mulia.
Kaum Muslimin berkumpul dan beramai-ramai membawa bayi yang
dalam gendongan itu berkeliling kota sambil membaca tahlil dan takbir. Latar
belakangnya ialah karena tatkala Rasulullah dan para shahabatnya tinggal
menetap di Madinah, orangorang Yahudi merasa terpukul dan iri hati, lalu
melakukan perang urat saraf terhadap Kaum Muslimin. Mereka sebarkan berita
bahwa dukun-dukun mereka telah menyihir Kaum Muslimin dan membuat mereka jadi
mandul, hingga di Madinah tak seorang pun akan mempunyai bayi dari kalangan
mereka . . . !
Maka tatkala Abdullah bin Zubeir muncul dari alam gaib, hal itu
merupakan suatu kenyataan yang digunakan taqdir untuk menolak kebohongan
orang-orang Yahudi di Madinah dan mematahkan tipu muslihat mereka … !
Di masa hidup Rasulullah, Abdullah belum mencapai usia dewasa.
Tetapi lingkungan hidup dan hubungannya yang akrab dengan Rasulullah, telah
membentuk kerangka kepahlawanan dan prinsip hidupnya, sehingga darma baktinya
dalam menempuh kehidupan di dunia ini menjadi buah bibir orang dan tercatat
dalam sejarah dunia.
Anak kecil itu tumbuh dengan amat cepatnya dan menunjukkan
hal-hal yang luar biasa dalam kegairahan, kecerdasan dan keteguhan pendirian.
Masa mudanya dilaluinya tanpa noda, seorang yang suci, tekun beribadat, hidup
sederhana dan perwira tidak terkira ….
Demikianlah hari-hari dan peruntungan itu dijalaninya dengan
tabi’atnya yang tidak berubah dan semangat yang tak pernah kendor. la
benar-benar seorang laki-laki yang mengenal tujuannya dan menempuhnya dengan
kemauan yang keras membaja dan keimanan teguh luar biasa ….
Sewaktu pembebasan Afrika, Andalusia dan Konstantinopel, ia yang
waktu itu belum melebihi usia tujuh belas tahun, tampil sebagai salah seorang
pahlawan yang namanya terlukis sepanjang masa . . .
Dalam pertempuran di Afrika sendiri, Kaum Muslimin yang
jumlahnya hanya duapuluh ribu oang tentara, pernah menghadapi musuh yang
berkekuatan sebanyak seratus duapuluh ribu orang.
Pertempuran berkecamuk, dan pihak Islam terancam bahaya besar!
Abdullah bin Zubeir melayangkan pandangannya meninjau kekuatan musuh hingga
segeralah diketahuinya di mana letak kekuatan mereka. Sumber kekuatan itu tidak
lain dari raja Barbar yang menjadi panglima tentaranya sendiri. Tak putus
putusnya raja itu berseru terhadap tentaranya dan membangkitkan semangat
mereka dengan cara iatimewa yang mendorong mereka untuk menerjuni maut tanpa
rasa takut ….
Abdullah maklum bahwa pasukan yang gagah perkasa ini tak mungkin
ditaklukkan kecuali dengan jatuhnya panglima yang menakutkan ini. Tetapi
bagaimana caranya untuk menemuinya, padahal untuk sampai kepadanya terhalang
oleh tembok kukuh dari tentara musuh yang bertempur laksana angin puyuh . . .
!
Tetapi semangat dan keberanian Ibnu Zubeir tak perlu diragukan
lagi untuk selama-lamanya … ! Dipanggilnya sebagian kawan-kawannya, lalu
katanya: “Lindungi punggungku dan mari menyerbu bersamaku . . . !” Dan
tak ubah bagai anak panah lepas dari busurnya, dibelahnya barisan yang berlapis
itu menuju raja musuh, dan demi sampai di hadapannya, dipukulnya sekali pukul,
hingga raja itu jatuh tersungkur. Kemudian secepatnya bersama kawan-kawannya ia
mengepung tentara yang berada di sekeliling raja dan menghancurkan mereka ….
lalu dikumandangkannya Allahu Akbar . . . !
Demi Kaum Muslimin melihat bendera mereka berkibar di sana,
yakni di tempat panglima Barbar berdiri menyampaikan perintah dan mengatur
siasat, tahulah mereka bahwa kemenangan telah tercapai. Maka seolah-olah satu
orang jua, mereka menyerbu ke muka, dan segala sesuatu pun berakhir dengan
keuntungan di pihak Muslimin … !
Abdullah bin Abi Sarah, panglima tentara Islam, mengetahui
peranan penting yang telah dilakukan oleh Ibnu Zubeir. Maka sebagai imbalannya
disuruhnya ia menyampaikan sendiri berita kemenangan itu ke Madinah terutama
kepada khalifah Utsman bin Affan ….
Hanya kepahlawanannya dalam medan perang bagaimana juga unggul
dan luar biasanya, tetapi itu tersembunyi di balik ketekunannya dalam beribadah
. . .. Maka orang yang mempunyai tidak hanya satu dua alasan untuk berbangga
dan menyombongkan dirinya ini akan menakjubkan kita karena selalu ditemukan
dalam lingkungan orang-orang shaleh dan rajin beribadat.
Maka baik derajat maupun kemudaannya, kedudukan atau harta
bendanya, keberanian atau kekuatannya, semua itu tidak mampu untuk menghalangi
Abdullah bin Zubeir untuk menjadi seorang laki-laki ‘abid yang berpuasa di
siang hari, bangun malam beribadat kepada Allah dengan hati yang khusuk niat
yang suci.
Pada suatu hari Umar bin Abdul Aziz mengatakan kepada Ibnu Abi
Mulaikah: “Cobalah ceritakan kepada kami kepribadian Abdullah bin
Zubeir!” Maka ujarnya: “Demi Allah! Tak pernah kulihat jiwa yang tersusun
dalam rongga tubuhnya itu seperti jiwanya! Ia tekun melakukan shalat, dan
mengakhiri segala sesuatu dengannya . . . . Ia ruku’ dan sujud sedemikian rupa,
hingga karena amat lamanya, maka burung-burung gereja yang bertengger di atas
bahunya atau punggungnya, menyangkanya dinding tembok atau kain yang
tergantung. Dan pernah peluru meriam batu lewat antara janggut dan dadanya
sementara ia shalat, tetapi demi Allah, ia tidak peduli dan tidak goncang,
tidak pula memutus bacaan atau mempercepat waktu rukuk nya . . . !”
Memang, berita-berita sebenarnya yang diceritakan orang tentang
ibadat Ibnu Zubeir, hampir merupakan dongeng. Maka di dalam shaum dan shalat,
dalam menunaikan haji dan serta zakat, ketinggian cita serta kemuliaan diri . .
. , dalam bertenggang di waktu malam sepanjang hidupnya untuk
bersujud dan beribadat …. dalam menahan lapar di waktu siang, juga sepanjang
usianya untuk shaum dan jihadun nafs . . . , dan dalam keimanannya yang teguh
kepada Allah … dalam semua itu ia adalah tokoh satu-satunya tak ada duanya . .
. !
Pada suatu kali, Ibnu Abbas ditanyai orang mengenai Ibnu Zubeir.
Maka walaupun di antara kedua orang ini terdapat perselisihan paham, Ibnu
Abbas berkata: “Ia adalah seorang pembaca Kitabullah, dan pengikut sunnah
Rasul-Nya, tekun beribadat kepada-Nya dan shaum di siang hari karena takut
kepada-Nya . . . . Seorang putera dari pembela Rasulullah, dan ibunya ialah
Asma puteri Shiddiq, sementara bibinya ialah Khadijah iatri dari Rasulullah . .
. . Maka tak ada seorang pun yang tak mengakui keutamaannya, kecuali orang yang
dibutakan matanya oleh Allah … !”
Dalam keteguhan dan kekuatan wataknya, Abdullah bin Zubeir
seolah-olah menandingi gunung layaknya . . . ! Terbuka jelas . . . . mulia . .
. , tangguh .. , dan siap sedia selalu untuk mengurbankan nyawanya sebagai tebusan keterusterangan dan
lurusnya jalan yang akan ditempuhnya ….
Sewaktu perseliaihan dan peperangannya dengan Mu’awiyah, ia
dikunjungi oleh Hushain bin Numeir, yakni panglima tentara yang dikirim oleh
Yazid untuk memadamkan pemberontakan Ibnu Zubeir.
Hushain berkunjung kepadanya tidak lama setelah sampainya berita
ke Mekah tentang Kematian Yazid. Ia menawarkan kepada Ibnu Zubeir untuk ikut
pergi bersamanya ke Syria, dan ia akan menggunakan pengaruhnya yang besar di
sana agar bai’at dapat diberikan kepadanya … !
Abdullah menolak kesempatan emas ini karena menurut keyakinannya
terhadap Syria harus dijalankan hukum qishash sebagai balasan atas dosa-dosanya
dan kekejaman mereka terhadap kota Madinah, kota Rasulullah saw. demi memenuhi
kehendak orang-orang Bani Umaiyah ….
Sungguh, kita berbeda pendapat dengan Abdullah mengenai
pendiriannya ini, dan kita berharap kiranya ia lebih mementingkan perdamaian
dan ketenteraman, serta menggunakan kesempatan langka yang ditawarkan Hushain,
panglima Yazid ini… !
Tetapi pendirian seorang laki-laki, laki-laki mana juga yang
berdasarkan keyakinan dan kepercayaannya, dan penolakannya untuk bersifat
bohong dan munafiq, merupakan suatu hal yang patut mendapat penghargaan dan
kekaguman … !
Dan tatkala ia diserang oleh Hajjaj dengan bala tentaranya yang
diiringi kepungan ketat terhadap dirinya dan anak buahnya, maka di antara anak
buahnya itu terdapat segolongan besar orang-orang Habsyi yang selalu hidup di
medan perang dan para pemanah yang mahir.
Ibnu Zubeir mendengar mereka sedang membicarakan khalifah yang
telah pergi berlalu bernama Utsman bin Affan r.a., tanpa mengindahkan
tata-tertib kesopanan dan tidak didasari oleh kesadaran, mereka dicelanya,
katanya: “Demi Allah, aku tak sudi meminta bantuan dalam menghadapi musuhku
kepada orang-orang yang membenci Utsman !” Pada saat itu ia sangat
memerlukan bantuan, tak ubah bagai seorang yang tenggelam membutuhkan
pertolongan, tetap uluran tangan orang tersebut ditolaknya … !
Keterbukaannya terhadap diri pribadi serta kesetiaannya terhadap
aqidah dan prinsipnya, menyebabkannya tidak peduli kehilangan duaratus orang
pemanah termahir yang Agama mereka tidak dipercayai dan berkenan di hatinya!
Padahal waktu itu ia sedang berada dalam peperangan yang akan menentukan hidup
matinya, dan kemungkinan besar akan berubah arah, seandainya pemanah-pemanah
ahli itu tetap berada di sampingnya.
Kemudian pembangkangannya terhadap Mu’awiyah dan puteranya Yazid
sungguh-sungguh merupakan kepahlawanan! Menurut pandangannya, Yazid bin
Mu’awiyah bin Abi Sufyan itu adalah laki-laki yang terakhir kali dapat menjadi
khalifah Muslimin, seandainya memang dapat . . . ! Pandangannya ini memang
beralasan, karena dalam soal apa pun juga, Yazid tidak becus! Tidak satu pun kebaikan dapat menghapus
dosa-dosanya yang diceritakan sejarah kepada kita, maka bagaimana Ibnu Zubeir
akan mau bai’at kepadanya … ?
Kata-kata penolakannya terhadap Mu’awiyah selagi ia masih hidup
amat keras dan tegas. Dan apa pula katanya kepada Yazid yang telah naik menjadi
khalifah dan mengirim utusannya kepada Ibnu Zubeir mengancamnya dengan nasib
jelek apabila ia tidak mau bai’at pada Yazid … ? Ketika itu Ibnu Zubeir
memberikan jawabannya: “Kapan pun, aku tidak akan bai’at kepada si pemabok … kemudian
katanya berpantun : “Terhadap
hal bathil tiada tempat berlunak lembut kecuali bila geraham, dapat mengunyah
batu menjadi lembut “.
Ibnu Zubeir tetap menjadi Amirul Mu’minin dengan mengambil Mekah al-Mukarramah sebagai ibu kota pemerintahan dan membentangkan
kekuasaannya terhadap Hejaz, Yaman, Bashrah, Kufah, Khurasan dan seluruh Syria
kecuali Damsyik, setelah ia mendapat bai’at dari seluruh warga kota-kota daerah
tersebut di atas.
Tetapi orang-orang Banu Umaiyah tidak senang diam dan berhati
puas sebelum menjatuhkannya, maka mereka melancarkan serangan yang
bertubi-tubi, yang sebagian besar di antaranya berakhir dengan kekalahan dan
kegagalan.
Hingga akhirnya datanglah masa pemerintahan Abdul Malik bin
Marwan yang untuk menyerang Abdullah di Mekah itu memilih salah seorang anak
manusia yang paling celaka dan paling merajalela dengan kekejaman dan
kebuasannya … ! Itulah dia Hajjaj ats-Tsaqafi, yang mengenai pribadinya Umar
bin Abdul Aziz, Imam yang adil itu pernah berkata: “Andainya setiap ummat
datang dengan membawa kesalahan masing-masing, sedang kami hanya datang dengan
kesalahan Hajjaj seorang saja, maka akan lebih berat lagi kesalahan kami dari
mereka semua … ! “
Dengan mengerahkan anak buah dan orang-orang upahannya, Hajjaj
datang memerangi Mekah ibukota Ibnu Zubeir. Dikepungnya kota itu serta
penduduknya, selama lebih kurang enam bulan dan dihalanginya mereka mendapat
makanan dan air, dengan harapan agar mereka meninggalkan Ibnu Zubeir sebatang
kara, tanpa tentara dan sanak saudara.
Dan karena tekanan bahaya kelaparan itu banyaklah yang
menyerahkan diri, hingga Ibnu Zubeir mendapatkan dirinya tidak berteman atau kira-kira
demikian . . . . Dan walaupun kesempatan untuk meloloskan diri dan
menyelamatkan nyawanya masih terbuka, tetapi Ibnu Zubeir memutuskan akan memikul
tanggung jawabnya sampai titik terakhir. Maka ia terus menghadapi serangan
tentara Hajjaj itu dengan keberanian yang tak dapat dilukiskan, padahal ketika
itu usianya telah mencapai tujuh puluh tahun … !
Dan tidaklah dapat kita melihat gambaran sesungguhnya dari
pendirian yang luar biasa ini, kecuali jika kita mendengar percakapan yang
berlangsung antara Abdullah dengan ibunya yang agung dan mulia itu, Asma’ binti
Abu Bakar, yakni di saat-saat yang akhir dari kehidupannya.
Ditemuinya ibunya itu dan dipaparkannya di hadapannya suasana
ketika itu secara terperinci, begitupun mengenai akhir kesudahan yang sudah
nyata tak dapat dielakkan lagi ….
Kata ‘Asma’ kepadanya:
“Anakku, engkau tentu lebih tahu tentang dirimu! Apabila menurut
keyakinanmu, engkau berada di jalan yang benar dan berseru untuk mencapai
kebenaran itu, shabar dan tawakallah dalam melaksanakan tugas itu sampai titik
darah penghabiaan. Tiada kata menyerah dalam kamus perjuangan melawan kebuasan
budak-budak Bani Umaiyah … ! Tetapi kalau menurut pikiranmu, engkau hanya
mengharapkan dunia, maka engkau adalah seburuk-buruk hamba, engkau celakakan
dirimu sendiri serta orang-orang yang tewas bersamamu!”
Ujar Abdullah:
“Demi Allah, wahai bunda! Tidaklah ananda mengharapkan dunia atau ingin hendak mendapatkannya! Dan sekali kali tidaklah anakanda berlaku aniaya dalam hukum Allah, berbuat curang atau melanggar batas …
“Demi Allah, wahai bunda! Tidaklah ananda mengharapkan dunia atau ingin hendak mendapatkannya! Dan sekali kali tidaklah anakanda berlaku aniaya dalam hukum Allah, berbuat curang atau melanggar batas …
Kata Asma’ Pula:
Aku memohon kepada Allah semoga ketabahan hatiku menjadi kebaikan bagi dirimu, baik engkau mendahuluiku menghadap Allah maupun aku. Ya Allah, semoga ibadahnya sepanjang malam, shaum sepanjang siang dan bakti kepada kedua orang tuanya, Engkau terima disertai cucuran Rahmat-Mu. Ya Allah, aku serahkan segala sesuatu tentang dirinya kepada kekuasaanMu, dan aku rela menerima keputusan-Mu. Ya Allah berilah aku pahala atas segala perbuatan Abdullah bin Zubeir ini, pahalanya orang-orang yang shabar dan bersyukur …
Kemudian mereka pun berpelukan menyatakan perpisahan dan selamat tinggal.
Aku memohon kepada Allah semoga ketabahan hatiku menjadi kebaikan bagi dirimu, baik engkau mendahuluiku menghadap Allah maupun aku. Ya Allah, semoga ibadahnya sepanjang malam, shaum sepanjang siang dan bakti kepada kedua orang tuanya, Engkau terima disertai cucuran Rahmat-Mu. Ya Allah, aku serahkan segala sesuatu tentang dirinya kepada kekuasaanMu, dan aku rela menerima keputusan-Mu. Ya Allah berilah aku pahala atas segala perbuatan Abdullah bin Zubeir ini, pahalanya orang-orang yang shabar dan bersyukur …
Kemudian mereka pun berpelukan menyatakan perpisahan dan selamat tinggal.
Dan beberapa kemudian, Abdullah bin Zubeir terlibat dalam
pertempuran sengit yang tak seimbang, hingga syahid agung itu akhirnya menerima
pukulan maut yang menewaskannya. Periatiwa itu menjadikan Hajjaj kuasa
Abdul Malik bin Marwan berkesempatan melaksanakan kebuasan dan dendam
kesumatnya, hingga tak ada jenis kebiadaban yang lebih keji kecuali dengan
menyalib tubuh syahid suci yang telah beku dan kaku itu.http://vivatranews2.blogspot.co.id/
Bundanya, wanita tua yang ketika itu telah berusia sembilan puluh
tujuh tahun, berdiri memperhatikan puteranya yang disalib. Dan bagaikan sebuah
gunung yang tinggi, ia tegak menghadap ke arahnya tanpa bergerak. Sementara
itu Hajjaj datang menghampirinya dengan lemah lembut dan berhina diri, katanya:
“Wahai ibu, Amirul Mu’minin Abdulmalik bin Marwan memberiku wasiat agar
memperlakukan ibu dengan baik … !” “Maka adakah kiranya keperluan ibu … ?’
Bagaikan berteriak dengan suara berwibawa wanita itu berkata:
“Aku ini bukanlah ibumu . . . ! Aku adalah ibu dari orang yang disalib pada
tiang karapan … !
Tiada sesuatu pun yang kuperlukan daripadamu. Hanya
aku akan menyampaikan kepadamu sebuah Hadits yang kudengar dari Rasulullah saw.
sabdanya:
“Akan muncul dari Tsaqif seorang pembohong dan seorang
durjana Adapun si pembohong telah sama-sama kita ketahui. Adapun si durjana,
sepengetahuanku hanyalah kamu … ! “
Abdullah bin Umar r.a. datang menghiburnya dan mengajaknya
bershabar. Maka jawabnya: “Kenapa pula aku tidak akan shabar, padahal
kepada Yahya bin Zakaria sendiri telah diserahkan kepada salah seorang durjana
dari durjana-durjana Bani Iarail . . . !”
Oh, alangkah agungnya anda, wahai puteri Abu Bakar Shiddiq .. ..
! Memang, adakah lagi kata-kata yang lebih tepat diucapkan selain itu kepada
orang-orang yang telah memisahkan kepala Ibnu Zubeir dari tubuhnya sebelum
mereka menyalibnya . . .
Tidak salah! Seandainya kepala Ibnu Zubeir telah diberikan
sebagai hadiah bagi Hajjaj, dan Abdul Malik, maka kepala Nabi yang mulia yakni
Yahya a.s., dulu juga telah diberikan sebagai hadiah bagi Salome, seorang
wanita yang durjana dan hina dari Bani Israil .’ . . ! ‘Sungguh, suatu tamsil yang
tepat dan kata-kata yang jitu … !
Kemudian mungkinkah kiranya bagi Abdullah bin Zubeir akan
melanjutkan hidupnya di bawah tingkat yang amat tinggi dari keluhuran,
keutamaan dan kepahlawanan ini, sedang yang menyusukannya ialah wanita yang
demikian corak bentuknya. . ?
Salam kiranya terlimpah atas Abdullah …Dan kiranya terlimpah pula atas Asma’ . . .!
Salam bagi kedua mereka di lingkungan syuhada yang tidak pernah fana … !
Dan di lingkungan orang-orang utama lagi bertaqwa …
Semua keberhasilan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dalam
Perang Badar dan merebut hati kaum Anshar di Madinah membuat hati
Abdullah bin Ubay berubah semakin sesak karena dengki.
“Jika ini dibiarkan, lenyap sudah impianku untuk menjadi pemimpin Madinah lagi seperti dulu!” demikian pikirnya. “Aku harus mencari jalan untuk menjauhkan Muhammad dari umatnya.”
Abdullah bin Ubay mulai menebarkan desas-desus, “Mengapa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam memberi bagian harta rampasan kepada Utsman bin Affan? Padahal, Utsman tidak ikut ke Perang Badar! Ini pasti karena Utsman lebih dicintai dari kita semua!”
Tanpa curiga, Bunda Aisyah yang masih muda pun menerimanya dengan riang.
Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mendengar berita ini, beliau segera pulang dan mendapati ibunda Aisyah sedang duduk-duduk di atas permadani yang mahal itu. Wajah bunda Aisyah berseri-seri memiliki perabotan seindah itu.
“Aisyah,apa ini?” tanya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam
“Seorang wanita Anshar datang ke sini dan melihat tikarmu,” jawab Bunda Aisyah. “Ia kemudian mengutus orang agar menyampaikan permadani ini kepadaku.”
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam menyuruh Bunda Aisyah mengembalikan permadani itu. Kemudian beliau tidur di atas tikarnya yang biasa.
Abdullah bin Ubay walaupun telah menyatakan diri sebagai Muslim dia tetap bersikap keras kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam yang menganggap Rasulullah tidak adil karena dianggap perampas kekuasaannya akan dipegangnya sebelum Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam datang ke Madinah. Abdullah bin Ubay pun selalu berusaha memalingkan manusia dari ajaran Islam.
Umar Bin Khathab bergegas mendatangi rumah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Ia ingin membuktikan bahwa desas-desus yang disebarkan orang tentang Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam yang memiliki perabot mewah itu sama sekali tidak benar.
Ketika Umar sampai di rumah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, sama sekali tidak dilihatnya perabot-perabot mewah yang didesas desuskan itu. Rumah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam tetap seperti dulu, tidak ada sama sekali yang berubah. Mengetahui Umar Bin Khattab datang, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bangun dari atas tikarnya. Seketika itu, Umar melihat bekas-bekas tikar yang kasar menempel pada tubuh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Tidak kuat menahan haru akhirnya Umar menangis.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam berpaling heran lalu beliau bertanya lembut, “Ya Umar, Apa yang menyebabkan kau menangis?”
“Bagaimana aku tidak akan melahirkan air mata jika aku melihat bekas-bekas tikar itu melekat pada tulang rusukmu. Hanya inilah harta kekayaanmu yang aku tahu. Sedangkan Kaisar Romawi dan Persia hidup dalam gelimangan harta benda.”
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam merasakan betul kesedihan Umar. Beliau lalu menghibur Umar dengan memberikan pelajaran bahwa nilai seseorang tidaklah ditentukan oleh harta kekayaan yang dimilikinya, tetapi tergantung pada kemampuannya untuk menyebarkan kebahagiaan kepadanya orang lain. Kebajikan akan membuat seseorang menjadi kekal. Orang yang terus-menerus melakukan kebaikan akan menghasilkan buah kebaikan pula untuk selama-lamanya.
Dengarlah sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam agar kita selalu bersyukur. “Apabila diantara kamu sekalian melihat orang yang dianugerahi harta dan rupa maka hendaklah ia melihat orang yang lebih rendah daripada mereka karena hal itu lebih pantas agar kamu tidak merasa kekurangan nikmat yang Allah berikan kepadamu.” (w)
kisah diambil dari berbagai sumber siroh nabawiyah “Syaikh Shafiyyur Rahman al Mubarakfurry” (wagroup onedayonesiroh) https://www.chanelmuslim.com/
“Jika ini dibiarkan, lenyap sudah impianku untuk menjadi pemimpin Madinah lagi seperti dulu!” demikian pikirnya. “Aku harus mencari jalan untuk menjauhkan Muhammad dari umatnya.”
Abdullah bin Ubay mulai menebarkan desas-desus, “Mengapa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam memberi bagian harta rampasan kepada Utsman bin Affan? Padahal, Utsman tidak ikut ke Perang Badar! Ini pasti karena Utsman lebih dicintai dari kita semua!”
Namun para sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam segera
mendatangi Abdullah bin Ubay dan memberinya peringatan agar tidak
menyebarkan desas-desus. “Utsman sudah berkeras ingin pergi, tetapi
Rasullullah Shallallahu Alaihi Wasallam memerintahkan agar tinggal di
rumah dan merawat Rukoyah, putrinya yang sedang sakit! Jadi, sebenarnya
Utsman juga berhak atas rampasan perang!” demikian kata beberapa
sahabat.
Abdullah bin Ubay terdiam, tetapi ia pun mencari jalan lain. Kemudian disebarkannya desas-desus “Muhammad itu mengajarkan agar kita berpaling dari harta dunia, tapi sebenarnya harta tebusan yang banyak itu ia gunakan untuk makan dan minum enak serta memiliki perabotan rumah yang mewah layaknya Kaisar Persia!”
Sambil menebarkan desas desus itu Abdullah bin Ubay diam-diam mendatangi seorang wanita Anshar dan menyuruhnya memberikan permadani yang indah dan sangat mahal kepada Bunda Aisyah.
Abdullah bin Ubay terdiam, tetapi ia pun mencari jalan lain. Kemudian disebarkannya desas-desus “Muhammad itu mengajarkan agar kita berpaling dari harta dunia, tapi sebenarnya harta tebusan yang banyak itu ia gunakan untuk makan dan minum enak serta memiliki perabotan rumah yang mewah layaknya Kaisar Persia!”
Sambil menebarkan desas desus itu Abdullah bin Ubay diam-diam mendatangi seorang wanita Anshar dan menyuruhnya memberikan permadani yang indah dan sangat mahal kepada Bunda Aisyah.
Tanpa curiga, Bunda Aisyah yang masih muda pun menerimanya dengan riang.
Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mendengar berita ini, beliau segera pulang dan mendapati ibunda Aisyah sedang duduk-duduk di atas permadani yang mahal itu. Wajah bunda Aisyah berseri-seri memiliki perabotan seindah itu.
“Aisyah,apa ini?” tanya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam
“Seorang wanita Anshar datang ke sini dan melihat tikarmu,” jawab Bunda Aisyah. “Ia kemudian mengutus orang agar menyampaikan permadani ini kepadaku.”
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam menyuruh Bunda Aisyah mengembalikan permadani itu. Kemudian beliau tidur di atas tikarnya yang biasa.
Abdullah bin Ubay walaupun telah menyatakan diri sebagai Muslim dia tetap bersikap keras kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam yang menganggap Rasulullah tidak adil karena dianggap perampas kekuasaannya akan dipegangnya sebelum Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam datang ke Madinah. Abdullah bin Ubay pun selalu berusaha memalingkan manusia dari ajaran Islam.
Umar Bin Khathab bergegas mendatangi rumah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Ia ingin membuktikan bahwa desas-desus yang disebarkan orang tentang Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam yang memiliki perabot mewah itu sama sekali tidak benar.
Ketika Umar sampai di rumah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, sama sekali tidak dilihatnya perabot-perabot mewah yang didesas desuskan itu. Rumah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam tetap seperti dulu, tidak ada sama sekali yang berubah. Mengetahui Umar Bin Khattab datang, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bangun dari atas tikarnya. Seketika itu, Umar melihat bekas-bekas tikar yang kasar menempel pada tubuh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Tidak kuat menahan haru akhirnya Umar menangis.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam berpaling heran lalu beliau bertanya lembut, “Ya Umar, Apa yang menyebabkan kau menangis?”
“Bagaimana aku tidak akan melahirkan air mata jika aku melihat bekas-bekas tikar itu melekat pada tulang rusukmu. Hanya inilah harta kekayaanmu yang aku tahu. Sedangkan Kaisar Romawi dan Persia hidup dalam gelimangan harta benda.”
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam merasakan betul kesedihan Umar. Beliau lalu menghibur Umar dengan memberikan pelajaran bahwa nilai seseorang tidaklah ditentukan oleh harta kekayaan yang dimilikinya, tetapi tergantung pada kemampuannya untuk menyebarkan kebahagiaan kepadanya orang lain. Kebajikan akan membuat seseorang menjadi kekal. Orang yang terus-menerus melakukan kebaikan akan menghasilkan buah kebaikan pula untuk selama-lamanya.
Dengarlah sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam agar kita selalu bersyukur. “Apabila diantara kamu sekalian melihat orang yang dianugerahi harta dan rupa maka hendaklah ia melihat orang yang lebih rendah daripada mereka karena hal itu lebih pantas agar kamu tidak merasa kekurangan nikmat yang Allah berikan kepadamu.” (w)
kisah diambil dari berbagai sumber siroh nabawiyah “Syaikh Shafiyyur Rahman al Mubarakfurry” (wagroup onedayonesiroh) https://www.chanelmuslim.com/
Di tahun perang Khaibarlah ia datang kepada Rasulullah saw.
untuk bai’at …. Dan semenjak ia menaruh tangan kanannya di tangan kanan Rasul,
maka tangan kanannya itu mendapat penghormatan besar, hingga bersumpahlah ia
pada dirinya tidak akan menggunakannya kecuali untuk perbuatan utama dan mulia
….
Ini pertanda merupakan suatu bukti jelas bahwa pemiliknya mempunyai
perasaan yang amat halus ….
‘Imran bin Hushain r.a. merupakan gambaran yang tepat bagi
kejujuran, sifat zuhud dan keshalehan serta mati-matian dalam mencintai Allah
dan mentaati-Nya. Walaupun ia mendapat taufik dan petunjuk Allah yang tidak
terkira, tetapi ia sering menangis mencucurkan air mata, ratapnya:
“Wahai, kenapa aku tidak menjadi debu yang diterbangkan angin saja … !”
Orang-orang itu takut kepada Allah bukanlah karena banyak
melakukan dosa, tidak! Setelah menganut Islam, boleh dikata sedikit sekali dosa
mereka! Mereka takut dan cemas karena menilai keagungan dan kebesaran-Nya,
bagaimanapun mereka beribadat ruku’ dan sujud, tetapi ibadatnya, dan syukurnya
itu belumlah memadai ni’mat yang mereka telah terima.
Pernah suatu saat beberapa orang shahabat menanyakan pada
Rasulullah saw.:
“Ya Rasulullah, kenapa kami ini … ?
Bila kami sedang berada di sisimu, hati kami menjadi lunak
hingga tidak menginginkan dunia lagi dan seolah-olah akhirat itu kami lihat
dengan mata kepala … !
Tetapi demi kami meninggalkanmu dan kami berada di lingkungan
keluarga, anak-anak dan dunia kami, maka kami pun telah lupa diri …
Ujar Rasulullah saw.:
“Demi Allah, Yang nyawaku berada dalam tangan-Nya! Seandainya
kalian selalu berada dalam suasana seperti di sisiku, tentulah malaikat akan
menampakkan dirinya
menyalami kamu .. . ! Tetapi, yah yang demikian itu hanya
sewaktu-waktu … !”
Pembicaraan itu kedengaran oleh ‘Imran bin Hushain, maka
timbullah keinginannya, dan seolah-olah ia bersumpah pada dirinya tidak akan
berbenti dan tinggal diam, sebelum mencapai tujuan mulia tersebut, bahkan walau
terpaksa menebusnya dengan nyawanya sekalipun!
Dan seolah-olah ia tidak puas dengan kehidupan sewaktu-waktu
itu, tetapi ia menginginkan suatu kehidupan yang utuh dan padu, terus-menerus
dan tiada henti-hentinya, memusatkan perhatian dan berhubungan selalu dengan
Allah Robbul’alamin … !
Di masa pemerintahan Amirul Mu’minin Umar bin Khatthab, ‘Imran
dikirim oleh khalifah ke Bashrah untuk mengajari penduduk dan membimbing
mereka mendalami Agama. Demikianlah di Bashrah ia melabuhkan tirainya, maka
demi dikenal oleh penduduk, mereka pun berdatanganlah mengambil berkah dan
meniru teladan ketaqwaannya.
Berkata Hasan Basri dan Ibnu Sirin: “Tidak seorang pun di
antara shahabat-shahabat Rasul saw. yang datang ke Bashrah, lebih utama dari
‘Imran bin Hushain … !”
Dalam beribadat dan hubungannya dengan Allah, ‘Imran tak sudi
diganggu oleh sesuatu pun. la menghabiskan waktu dan seolah-olah tenggelam
dalam ibadat, hingga seakan-akan ia bukan penduduk bumi yang didiaminya ini
lagi … ! Sungguh, seolah-olah ia adalah Malaikat, yang hidup di lingkungan
Malaikat, bergaul dan berbicara dengannya, bertemu muka dan bersalaman
dengannya … .
Dan tatkala terjadi pertentangan tajam di antara Kaum Muslimin,
yaitu antara golongan Ali dan Mu’awiyah, tidak saja ‘Imran bersikap tidak
memihak, bahkan juga ia meneriakkan kepada ummat agar tidak campur tangan dalam
perang tersebut, dan agar membela serta mempertahankan ajaran Islam dengan
sebaik-baiknya. Katanya pada mereka: “Aku lebih suka menjadi pengembala rusa di
puncak bukit sampai aku meninggal, daripada melepas anak panah ke salah satu
pihak, biar meleset atau tidak … !”
Dan kepada orang-orang Islam yang ditemuinya, diamanatkannya:
“Tetaplah tinggal di mesjidmu … Dan jika ada yang memasuki mesjidmu, tinggallah
di rumahmu … ! Dan jika ada lagi yang masuk hendak merampas harta atau nyawamu,
maka bunuhlah dia … !”
Keimanan Imran bin Hushain membuktikan hasil gemilang. Ketika ia
mengidap suatu penyakit yang selalu mengganggunya selama 30 tahun, tak pernah
ia merasa kecewa atau mengeluh. Bahkan tak henti-hentinya ia beribadat
kepada-Nya, baik di waktu berdiri, di waktu duduk dan berbaring . .
.
Dan ketika para shahabatnya dan orang-orang yang menjenguknya
datang dan menghibur hatinya terhadap penyakitnya itu, ia tersenyum sambil
ujarnya: “Sesungguhnya barang yang paling kusukai, ialah apa yang paling
disukai Allah … !” Dan sewaktu ia hendak meninggal, wasiatnya kepada kaum
kerabatnya dan para shahabatnya, ialah: “Jika kalian telah kembali dari
pemakamanku, maka sembelihlah hewan dan adakanlah jamuan … !”
Memang, sepatutnyalah mereka menyembelih hewan dan mengadakan
jamuan! Karena kematian seorang Mu’min seperti ‘Imran bin Hushain bukanlah
merupakan kematian yang sesungguhnya! Itu tidak lain dari pesta besar dan
mulia, di mana suatu ruh yang tinggi yang ridla dan diridlai-Nya diarak ke
dalam surga, yang besarnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi
orang-orang yang taqwa ….
https://catatan-primata.blogspot.co.id/Mauritania atau Syinqith adalah sebuah negara yang terletak di bagian barat laut Afrika. Pesisirnya menghadap ke Samudra Atlantik, di antara Sahara Barat di sebelah utara dan Senegal di selatan. Mauritania dan Madagaskar merupakan kedua negara yang tidak menggunakan sistem baku angka desimal. Ibu kota sekaligus kota terbesarnya ialah Nouakchott yang terletak di pesisir Atlantik.
Dari sisi ekonomi mungkin bisa dibilang bahwa Mauritania adalah Negara miskin karena Sebagian besar orang berpendapatan satu atau dua dolar per hari. Negara ini sangat bergantung pada bantuan asing. Mauritania juga harus mengimpor banyak makanan. Ekonominya secara tradisional didasarkan pada ternak dan sedikit tanaman pangan, contohnya kurma, millet, sorgum, beras, dan jagung. Ikan dan produk ikan juga penting sebagai sumber pendapatan ekspor. Kekeringan panjang di tahun 1970-an menyapu bersih banyak ternak sapi, sebuah bencana ekonomi Mauritania yang belum pulih sampai sekarang. Di selatan, ancaman penghancuran tanaman berasal dari banjir dan belalang.
Pemasukan dari sektor jasa, beserta hasil usaha pemerintah, menyumbang sekitar 45 persen dari perekonomian. Mineral Mauritania yang paling penting adalah bijih besi. Bijih besi menyumbang sekitar 40 persen dari seluruh ekspor. Negara ini juga memiliki cadangan gypsum, tembaga, fosfat, berlian, emas, dan minyak.
Namun lepas dari itu semua, Mauritania adalah sebuah negara yang sangat disegani oleh masyayikh (tokoh agama) dari negara islam manapun bahkan mungkin ummat islam seluruh dunia. karena kekayaan ilmu yang dimilikinya beserta sistem pendidikannya yang luar biasa sehingga bisa mencetak para ulama yang dikenal dengan Syanaqithah (ulama-ulama Syinqithi) atau Mauritania. kebiasaan mereka dalam menuntut 'ilmu memang sangat luar biasa yang diterapkan mulai sejak lahir dari kandungan seorang ibu. Jika ada seorang anak kecil disana berumur 7 tahun belum hafal Al- Qur'an itu akan sangat memalukan bagi kedua orangtuanya. Bahkan 7 dari 13 doktor di Mediu berasal dari Mauritaniyyah. Mereka itu mendapatkan pendidikan Al- Qur'an bukan hanya sejak kecil, tapi sejak bayi.
Ketika ada seorang ibu hamil, dia tidak akan menghabiskan waktu hanya tidur di kasur. ibu tersebut akan menyibukkan diri untuk muroja'ah (mengulang) hafalannya hingga ibu itu terasa letih karenanya.
Setelah bayi itu lahir, keluarga yang akan muroja'ah. Misalkan seorang anak akan muroja'ah kepada bapak atau ibunya, maka diwajibkan untuk dia muroja'ah (mengulang) di depan adiknya yang masih bayi pula. Jadi ketika ibunya sedang menggendong bayi tersebut, kakaknya muroja'ah hafalan kepada ibunya supaya disimak. Kalaupun suara tangis bayi mengganggu kakaknya itu akan menjadi tantangan bagi anak tersebut.
ketika mereka berusia 7 tahun ke atas, mereka akan pergi kepada seorang syaikh atau guru untuk belajar agama. Mereka tidak belajar di dalam kelas. Para syaikkh setempat membuat tenda di tengah gurun, dan di dalam tenda itulah proses belajar mengajar dilakukan. Mungkin dalam fikiran kita menyakitkan karena pancaran panasnya terik matahari. namun rasa itu terkalahkan oleh semangat mereka dalam mencari ilmu dan rasa ingin tau yang tinggi.
Ketika syaikh tersebut berkata, "istami' (dengarkan)!", maka semuanya menatap syaikh tersebut dan menyimak dengan seksama. Tidak ada yang berani menulis bahkan bermain pulpen, karena akan dimarahi. Setelah syaikh menerangkan panjang lebar barulah mereka menulis dari apa yang yang telah disampaikan syaikh dari awal sampai akhir. Mereka menulispun juga bukan di selembar kertas karena itu larangan. Mereka menulis di batu, daun, kulit pohon atau sejenisnya yang mereka bawa dari rumah. Kemudian tulisan tersebut akan diserahkan kepada syaikh untuk dikoreksi. Dari sinilah daya ingatan mereka diuji. Ketika ada kesalahan maka akan dikembalikan untuk dibetulkan hingga semua santrinya menuliskan semua yang diucapkan syaikh. Selain menguji daya ingat sang murid hal ini juga menunjukkan bahwa syaikh tersebut hafal semua apa yang telah diucapkan.
Ketika semua murid telah menuliskan dengan benar mereka diperintah untuk menghapus tulisan tersebut. ketika semuanya sudah benar berarti itu menunjukkan pelajaran yang disampaikan sudah hafal di luar kepala. Jadi sekarang catatan mereka bukanlah terletak dalam batu atau kulit sebagai media mereka untuk menulis namun catatan mereka adalah apa yang ada dalam ingatan. Setelah semuanya benar dan telah dihapus, maka syaikh baru melanjutkan pelajaran berikutnya. Begitu seterusnya sampai pelajaran di hari itu habis. Setelah mereka pulang ke rumah, barulah apa yang mereka ingat mereka tulis ulang dalam buku-buku mereka.
Dan tidak hanya itu saja, di Mauritania tersimpan manuskrip Islam yang sebagian bersifat unik dan tidak ada copy-nya ditempat lain di negara manapun di seluruh dunia. Lebih dari 40 ribu naskah/manuskrip Islam klasik yang disimpan di lebih dari 300 perpustakaan umum maupun pribadi. Karena kekayaannya ini, orang Timur Tengah menyebutnya dengan negeri naskah.
Jadi kita sebagai sesama muslim sudah seharusnya meniru system pembelajaran yang diterapkan oleh suku Mauritania. Bukan hanya segan, mengagumi, dan takjub akan hafalan mereka, daya ingat mereka, atau hasil dari sistem pembelajaran yang mereka terapkan.
http://ppalanwar.com








