Maka, apakah mereka merasa aman dari azab Allah? Tiada yang merasa
aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi. (QS al-A'raff:
99).
Seorang mukmin sejati tidak akan pernah merasa aman dari azab Allah.
Sebab, setiap detik dari kehidupannya selalu terpantau oleh Zat Yang
Maha Melihat. Ia takut berbuat maksiat pada pagi maupun petang. Saat
sendiri, apalagi dalam keramaian. Tidak ada satupun yang tersembunyi
dalam pantauan Allah. Hal ini sangat diyakininya.
Saat beramal, ia khawatir amalannya tertolak sia-sia. Dia menjaga
keikhlasan hatinya. Ia buang sifat pamer, pura-pura, dan pencitraan
semu. Untuk apa berlagak baik dan saleh di hadapan khalayak, padahal
aslinya bertolak belakang.
Rasulullah SAW bersabda sebagaimana diriwayatkan dari Tuhannya bahwa
Dia berfirman, Demi kemuliaan dan kebesaran-Ku, Aku tidak mengumpulkan
dua rasa takut dan dua rasa aman pada hamba-Ku. Jika dia takut kepada-Ku
di dunia, maka Aku beri dia rasa aman di akhirat. Dan jika dia merasa
aman dari-Ku di dunia, maka aku beri dia rasa takut di akhirat. (HR Ibnu
Hibban).
Hasan Al-Bashri mengatakan, orang beriman mengamalkan ketaatan kepada
Allah dalam kondisi gentar dan sangat takut. Adapun pelaku maksiat
selalu berbuat ingkar dengan tenang dan merasa aman. Pelaku maksiat
berjalan di muka bumi tanpa takut sekejap pun. Pelaku kejahatan di
sana-sini berbuat jahat tanpa berpikir bahwa keburukan akan dibalas
keburukan.
Pemimpin zalim tertipu dengan kenyamanannya dan ketaatan pengikutnya,
padahal cepat atau lambat dia akan menerima azab atas kezalimannya.
Padahal, lihatlah bagaimana takutnya para pendahulu kita yang mulia.
Diriwayatkan bahwa tatkala Adam Alaihissalam diturunkan ke bumi, beliau
tidak pernah lagi mendongakkan kepalanya ke langit karena malu kepada
Allah.
Nabi Ibrahim Alaihissalam jika mengingat kesalahannya, beliau pun
pingsan dan debaran hatinya terdengar sejauh satu mil. Lalu, ditanya
kepada beliau, Bagaimana bisa Anda seperti itu, sedangkan Anda adalah
kholilurrahman? Beliau pun menjawab, Jika aku mengingat kesalahan yang
aku perbuat, aku pun lupa kedekatanku pada Allah.
Jika seorang Nabi saja demikian takutnya hingga mereka tidak kuasa
melupakan kesalahannya dan terus menerus mengingatnya, lalu sepantasnya
kita sebagai manusia biasa berlaku serupa seperti mereka. Jika seorang
Nabi yang sebenarnya pantas melupakan kesalahannya karena dijamin ampun
baginya, sedangkan kita tidak ada jaminan terampuninya dosa maksiat
kita. Kita malah santai melupakan dosa maksiat yang kemarin sudah di
lakukan, kembali diulangi di hari-hari berikutnya.
Sahabat Umar Ibnu Khattab adalah orang yang sangat takut kepada Allah
SWT sampai tampak di wajahnya dua garis hitam seperti tali sepatu sebab
seringnya menangis. Beliau pernah dalam tilawahnya melewati sebuah ayat
Alquran hingga membuatnya menangis tersedu-sedu. Ayat itu diulanginya
berkali-kali sampai pingsan. Beberapa sahabat menjenguknya seakan-akan
beliau sedang ditimpa sakit yang berat.
Semoga, Allah yang Maha Penuntun, menuntut kita ke jalan-Nya,
menananamkan rasa takut sekaligus harap dalam hati kita, dan menjauhkan
kita dari azab-Nya yang pedih yang datang dengan tiba-tiba.
0 komentar