Mengimani Rasulullah SAW adalah bagian dari
rukun iman yang mesti dimiliki oleh setiap mukmin. Keimanan tersebut
salah satunya diwujudkan dalam bentuk kecintaan kita kepada Nabi
Muhammad selaku utusan Allah yang terakhir.
Pertanyaannya,
bagaimana caranya mencintai Rasulullah SAW dengan benar? Persoalan
itulah yang berusaha dijawab oleh Dr Sofyan bin Fuad Baswedan dalam
kajian Islam yang digelar oleh Majelis Taklim Sidra Masjid al-Hidayah
Kompleks Bank Indonesia (BI) Pancoran, Jakarta Selatan, Sabtu (13/5)
lalu.
Dalam kesempatan tersebut, mubaligh asal Surakarta, Jawa
Tengah, itu menuturkan, cinta kepada Rasulullah antara lain dapat
dibuktikan dengan menaati perintah agama, termasuk sunah-sunah yang
dibawakan oleh beliau SAW. Selain itu, kecintaan kepada Rasulullah juga
dapat ditunjukkan dengan cara menjauhi berbagai perkara yang dilarang
oleh agama.
Kendati demikian, kata dia, dalam praktiknya tidak
semua Muslim mampu menjalankan perintah agama secara menyeluruh.
Sebagian dari mereka ada yang masih melalaikan kewajiban yang
diperintahkan oleh Allah SWT dan rasul-Nya. Sebagian dari mereka ada
pula yang melanggar larangan-larangan agama.
"Ketika seseorang
meninggalkan perintah agama yang sifatnya wajib, dia merasa berdosa.
Begitu pula ketika melanggar apa yang dilarang agama, dia merasa
berdosa. Inilah bentuk cinta paling minimal dari seorang Muslim kepada
Nabi Muhammad SAW," ujar Sofyan.
Seseorang yang mengaku
mencintai Rasullah SAW, kata dia, harus meyakini segala perkara gaib
dalam Islam. Beberapa contoh perkara gaib itu antara lain turunnya wahyu
dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW, peristiwa Isra dan Mi'raj,
datangnya hari kiamat, serta keberadaan surga dan neraka.
Dalam beberapa riwayat disebutkan, ketika Rasullah SAW menceritakan
kepada penduduk Makkah tentang peristiwa Isra dan Mi'raj, banyak orang
kafir di kota itu yang mengolok-olok nabi. Tidak hanya itu, di antara
orang-orang yang baru memeluk Islam pada waktu itu bahkan ada yang
menjadi murtad kembali, lantaran tidak percaya dengan mukjizat
Rasulullah SAW tersebut.
Mereka menilai, baik peristiwa Isra
(perjalanan Nabi SAW dari Masjidil Haram ke Baitul Maqdis) maupun Mi'raj
(perjalanan Nabi SAW dari Baitul Maqdis ke Sidratul Muntaha), sangatlah
tidak masuk akal. Pasalnya, jarak dari Masjidil Haram ke Baitul Maqdis
di Palestina mencapai 1.500 kilometer, sehingga perjananan antara
keduanya pada masa itu membutuhkan waktu lebih kurang satu bulan.
Sementara, Rasulullah SAW mampu menuntaskan perjalanan tersebut hanya
dalam waktu satu malam.
Apalagi dengan perjalanan menuju
Sidratul Muntaha yang lokasinya berada di atas langit ketujuh. Kaum
kafir Makkah dan orang-orang yang lemah iman menganggap peristiwa itu
sebagai perkara yang mustahil untuk dicerna logika.
Namun,
ketika kabar tentang Isra dan Mi'raj sampai ke telinga Abu Bakar RA, dia
langsung menyatakan keyakinannya kepada Rasulullah. Tidak sekadar
memercayai, Abu Bakar bahkan juga membenarkan seluruh peristiwa yang
dialami oleh Nabi SAW tersebut, sehingga dia pun diberi gelar
ash-Shiddiq (yang berkata 'benar').
"(Apa yang ditunjukkan oleh
Abu Bakar) itu adalah sikap orang yang betul-betul memahami hakikat
cinta kepada Nabi SAW. Karena konsekuensi dari iman kepada Rasulullah
itu adalah memercayai apa pun yang beliau bawa, termasuk perkara-perkara
gaib yang bahkan sulit dijangkau oleh akal kita sekalipun," kata
Sofyan.
Selanjutnya, cinta kepada Rasulullah dapat diwujudkan
dengan mendahulukan syariat yang dibawa Nabi Muhammad SAW di atas semua
ajaran yang ada di dunia ini. Dengan kata lain, setiap Muslim yang
mengaku mencintai Rasulullah sudah seharusnya menjalankan perintah agama
sesuai dengan sunah atau tuntunan yang beliau SAW ajarkan. Menurut
Sofyan, seseorang yang menyelisihi sunah —atau bahkan merekayasa ritual
peribadatan tertentu di dalam Islam— pada hakikatnya belum mampu
menunjukkan cinta yang sejati kepada Nabi SAW.
Pada hari
kiamat nanti, orang-orang yang melakukan bid'ah dalam urusan agama akan
kecewa berat. Tak hanya itu, Nabi SAW pun akan kecewa berat dengan
mereka. Dalam satu hadis disebutkan, "Sesungguhnya manusia pertama yang
diberi pakaian pada hari kiamat ialah Ibrahim AS. Ingatlah bahwa nanti
akan ada sekelompok umatku yang dihalau ke sebelah kiri. Maka
kutanyakan: 'Yaa Rabbi, bukankah mereka adalah sahabatku?' Akan tetapi
jawabannya adalah: 'Kamu tidak tahu tentang apa yang mereka ada-adakan
sepeninggalmu." (Hadis muttafaq alaih).
Majelis Taklim Sidra
Masjid al-Hidayah Pancoran rutin mengadakan kajian Islam sejak 2016.
Setiap harinya, pemateri atau penceramah yang dihadirkan di majelis itu
selalu berganti-ganti, dengan tema kajian yang cukup variatif. "Mulai
dari fikih, akidah, akhlak, hingga tafsir," ungkap salah satu jamaah MT
Sidra, Fauzan Zaphran Hafiz.
0 komentar