Sekelompok peneliti asal Inggris yang dipimpin
oleh Dr Robert Ballard, beberapa waktu lalu, menemukan sebuah bangunan
tua yang diperkirakan berusia 7.500 tahun lalu (5000 SM) di dasar Laut
Hitam, di dekat pantai Turki. Mereka menemukan struktur bangunan dan
kayu pada kedalaman beberapa ratus kaki dari permukaan laut.
Mereka memperkirakan, bangunan tua itu dahulunya adalah sebuah perkampungan yang tenggelam akibat banjir besar yang terjadi di zaman Nabi Nuh AS. Ini merupakan penemuan yang sangat menakjubkan, kata Dr Ballard di dalam rancangan National Geographic Society bertajuk Research Ship Northern Horizon.
Dr Ballard menyatakan, bangunan yang ada di dasar Laut Hitam itu disebabkan oleh banjir besar yang terjadi ribuan tahun silam. Dalam teorinya, Ballard menjelaskan, apabila zaman es berakhir 12 ribu tahun yang lalu, gletser mulai mencair.
Kawasan timur Mediterania yang terputus dari Laut Hitam telah menyebabkan Laut Hitam tidak tenggelam oleh air walaupun permukaan air laut yang lain telah naik. Hal ini menyebabkan pada sekitar 7.000 tahun yang lalu, genangan awal di Bosphorus telah pecah dan menyebabkan air di Laut Mediterania melimpah ke timur menjadi Laut Hitam yang memang terputus dari laut-laut yang lain. Kekuatan limpahan air tersebut diperkirakan 10.000 kali daripada air terjun Niagara.
Mereka pun menunjukkan bukti ilmiah berupa kulit kerang yang ditemukan di kawasan tersebut dan membandingkannya dengan kerang dari laut lain yang berusia 6.500 tahun.
Banyak kasus yang terjadi apabila air tawar dari sebuah telaga berubah menjadi air asin dan dampak banjir besar tersebut menyebabkan kawasan daratan yang sangat luas berubah menjadi dasar laut, ujarnya.http://www.republika.co.id/
Mereka memperkirakan, bangunan tua itu dahulunya adalah sebuah perkampungan yang tenggelam akibat banjir besar yang terjadi di zaman Nabi Nuh AS. Ini merupakan penemuan yang sangat menakjubkan, kata Dr Ballard di dalam rancangan National Geographic Society bertajuk Research Ship Northern Horizon.
Dr Ballard menyatakan, bangunan yang ada di dasar Laut Hitam itu disebabkan oleh banjir besar yang terjadi ribuan tahun silam. Dalam teorinya, Ballard menjelaskan, apabila zaman es berakhir 12 ribu tahun yang lalu, gletser mulai mencair.
Kawasan timur Mediterania yang terputus dari Laut Hitam telah menyebabkan Laut Hitam tidak tenggelam oleh air walaupun permukaan air laut yang lain telah naik. Hal ini menyebabkan pada sekitar 7.000 tahun yang lalu, genangan awal di Bosphorus telah pecah dan menyebabkan air di Laut Mediterania melimpah ke timur menjadi Laut Hitam yang memang terputus dari laut-laut yang lain. Kekuatan limpahan air tersebut diperkirakan 10.000 kali daripada air terjun Niagara.
Mereka pun menunjukkan bukti ilmiah berupa kulit kerang yang ditemukan di kawasan tersebut dan membandingkannya dengan kerang dari laut lain yang berusia 6.500 tahun.
Banyak kasus yang terjadi apabila air tawar dari sebuah telaga berubah menjadi air asin dan dampak banjir besar tersebut menyebabkan kawasan daratan yang sangat luas berubah menjadi dasar laut, ujarnya.http://www.republika.co.id/
Muslim pertama yang datang ke Korea Selatan (Korsel) adalah tentara Turki yang bertugas sebagai pasukan perdamaian tahun 1955. Mereka memperkenalkan Islam ke warga Seoul, yang tinggal di sekitar barak tentara Turki. Dari itu, Islam menyebar ke sekujur Seoul dan Korea, negeri dengan 50 persen penduduk tak beragama. Lebih satu dekade setelah kedatangan tentara Turki, Yayasan Islam Korea terdaftar di Departemen Kebudayaan dan Olahraga Korsel. Yayasan itu kemudian mengelola madrasah, komite halal, dan ahli hukum Islam. Itaewon, merupakan salah satu kawasan wisata dengan mayoritas Muslim terbesar di Korsel. Kawasan ini tidak hanya terdiri dari toko-toko dan restoran, tapi dilengkapi Masjid Jami Seoul dan Madrasah Pangeran Sultan. Setiap Jumat, Masjid Jami Seoul disesaki jamaah, yang terdiri dari Muslim Korea dan Muslim dari berbagai negara. A Rahman Lee Ju-hwa, imam Masjid Jami Seoul, mengatakan seperti diwartakan Saudi Gazette, Jumat (06/11), ada 35 ribu Muslim Korea penduduk Korea beragama Islam. “Mereka membentuk Federasi Muslim Korea, dan mengelola Masjid Jami Seoul,” katanya. Itu bukan satu-satunya masjid di Korea. Ada 15 masjid dan sekitar 60 mushola di Korsel. Padahal, Islam tiba di Semenanjung Korea usai Perang Korea 1953. Menariknya, orang Korea tidak punya prasangka buruk terhadap Islam, sehingga agama Rasulullah ini punya masa depan di Semenanjung Korea.
sumber : http://www.aldakwah.org/
sumber : http://www.aldakwah.org/
Apakah teman-teman telah mengetahui bahwa bentuk otak kita hampir sama
dengan bentuk orang yang sedang sujud jika dilihat dari samping. Coba
Teman bandingkan dengan gambar yang ada dibawah ini, gambar ini bukan
kebetulan atau rekayasa melainkan ciptaan Tuhan yang telah dirancang
sedemikian rupa sehingga terbentuk seperti ini.
Itulah hebatnya Tuhan. Otak yang selama ini kita bangga-banggakan ternyata bersujud kepada Tuhan, lantas kenapa kita masih bisa menyombongkan diri dihadapan Tuhan seperti orang-orang atheis yang menolak keberadaan Tuhan.
Setelah membacanya, Jangan lupa Share Yaaa, bantu teman-temanmu agar mengetahui informasi ini !
sumber: http://www.akucintaislami.com/
Itulah hebatnya Tuhan. Otak yang selama ini kita bangga-banggakan ternyata bersujud kepada Tuhan, lantas kenapa kita masih bisa menyombongkan diri dihadapan Tuhan seperti orang-orang atheis yang menolak keberadaan Tuhan.
Setelah membacanya, Jangan lupa Share Yaaa, bantu teman-temanmu agar mengetahui informasi ini !
sumber: http://www.akucintaislami.com/
Pulau Lombok dikenal dengan pulau seribu masjid, merupakan tempat
domisili suku sasak yang mayoritas memeluk agama Islam. Islam dimaksud
disini adalah di dasari aqidah, tauhid, syariat dan akhlak. Islam adalah
ajaran kebenaran yang datangnya dari Allah Sang Pencipta.
Budaya suku sasak unik dan berbeda dibandingkan dengan budaya dari 1.300 budaya suku yang ada di Indonesia. Sebuah pulau yang terletak di sebelah Timur Bali dan sebelah Selatan Sumbawa. Pada bagian Barat, terletak selat Lombok dan pada bagian Timur, terdapat selat Alas.
Di sebelah Utara lombok berbatasan dengan laut Jawa dan disebelah Timur lautan Indonesia di bagian Selatannya.[1]
Sebelum agama Islam datang ke Pulau Lombok, masyarakat khususnya Suku Sasak masih menganut berbagai kepercayaan seperti animisme, dinamisme dan Hindu. Diperkirakan masuknya Hindu ke Pulau Lombok karena hadirnya Majapahit.
Kemudian pada akhir abad 16 banyak para pendatang dari Pulau Jawa yang bermigrasi ke Pulau Lombok sambil menyebarkan agama Islam oleh Sunan Prapen putra Sunan Giri yang berkuasa di Giri Jawa Timur pada waktu itu, sehingga agama masyarakat Sasak berubah yang sebelumnya beragama Hindu menjadi agama Islam.
Sampai saat ini penduduk Pulau Lombok khususnya Suku Sasak memeluk agama Islam. Sebagian pemeluk agama Hindu pada masyarakat Sasak adalah para penduduk keturunan Bali. Selain itu juga terdapat agama lain seperti Kristen dan Budha yang dipeluk oleh masyarakat dari berbagai suku dan etnis yang bermukim dipulau ini.[2]
Pandangan masyarakat tentang kebudayaan bermacam-macam dan pada prinsipnya dapat dikelompokkan menjadi beberapa sesuai dengan lingkungannya, baik lingkungan instansi pemerintahan, lingkungan pedagang, lingkungan agama, lingkungan keluarga dan lain sebagainya.
Lingkungan instansi pemerintahan umpamanya cenderung mengakaitkan istilah kebudayaan tersebut dengan “fungsi kebudayaan” itu sendiri, yaitu untuk menjalin persatuan dan kesatuan bangsa. Sementara, kelompok lingkungan pedagang cenderung menghubungkan istilah kebudayaan dengan masalah “ekonomi” atau masalah mata pencaharian hidup.
Sedangkan lingkungan kelompok agama cenderung untuk berpandangan bahwa kebudayaan itu bertumpu pada masalah nilai-nilai yang terdapat pada Pancasila, khususnya yang berhubungan dengan Ketuhanan Yang Maha Esa. Dengan kata lain, kebudayaan nasional itu tidak boleh bertentangan dengan nilai-nilai serta ajaran agama.
Islam masuk di kalangan masyarakat Sasak diperkirakan kurang lebih sejak abad ke-16 Masehi yang lalu. Di dalamnya telah lahir berbagai kelompok dan varian Islam seperti yang dikenal dengan kelompok Islam Wetu Telu dan kelompok Islam Waktu Lima.
Kepercayaan dari kelompok Islam Wetu Telu merupakan sinkretisme antara ajaran Buddha, Hindu dan Islam. Mereka tidak menjalankan ajaran Islam secara sempurna, akan tetapi sebagian saja.
Sementara itu, kelompok Islam Waktu Lima, yaitu mereka yang berusaha menerapkan ajaran Islam secara lengkap, selama ini telah berkembang di pulau Lombok.
Program Islamisasi yang diterapkan oleh para Tuan Guru yang menjadi tokoh di kalangan masyarakat Lombok, termasuk di kalangan masyarakat Islam Wetu Telu, melalui berbagai cara yang dapat mereka lakukan, telah membawa hasil yang positif, meskipun sedikit atau banyak telah menimbulkan konflik di kalangan masyarakat yang bersangkutan.
Sementara itu, akulturasi nilai-nilai Islam ke dalam elemen-elemen kebudayaan Sasak telah terjadi pula sedemikian rupa.[3]
Golongan Islam Wetu Telu pada umumnya kehidupan mereka masih sederhana baik dalam tindakan maupun perkataannya. Kesetiaan yang tinggi terhadap pemimpin, dan tidak mempunyai pandangan selain dari apa yang telah digariskan oleh pemimpin-pemimpin mereka.
Sedangkan Islam Waktu Lima di tandai oleh ketaatan yang tinggi terhadap ajaran-ajaran Islam. Komitmen tersebut mereka tunjukkan dengan ketaatan yang demikian tinggi dalam beribadah, terlihat dalam kehidupan sehari-hari.
Pelaksanaan rukun Islam yang lima lebih terlihat jelas dalam perilaku ibadah. Rukun Islam yang lima ini adalah syahadatain, sholat, puasa pada bulan ramadhan, zakat dan haji bagi yang mampu.
Ketaatan terhadap rukun Islam yang lima ini kemudian mempengaruhi komitmen mereka terhadap adat istiadat lokal semakin menipis. Bahkan adat yang dianggap bertentangan dengan syariah disingkirkan dan hanya bagian-bagian tertentu saja dari adat istiadat yang masih dipertahankan.
Islam Lima Waktu adalah penganut Islam yang selama ini berusaha menjalankan ajaran agama berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits sebagaimana yang diterapkan oleh umat Islam pada umumnya.
Berbeda dengan penganut Islam Wetu Telu, penganut Islam Waktu Lima adalah mereka yang menerapkan ajaran sholat lima waktu sehari semalam, pelaksanaannya tidak diwakilkan kepada siapapun, termasuk kepada kyai. Demikian juga halnya dengan rukum Islam yang lain, mereka berusaha menjalankannya dan menganggap sebagai suatu kewajiban.[4]
Penganut Islam Waktu Lima di kalangan suku Sasak, dominan bermazhab Syafi’i. Doktrin ini terlihat jelas menjadi ideologi utama bagi organisasi besar yang berkembang di Lombok sampai saat ini, yaitu Nahdlatul Wathan (NW) dan Nahdlatul Ulama (NU).
Mengenai kapan masuknya pengaruh mazhab Syafi’i di kalangan penganut Islam Lima Waktu, menurut Fathurrahman Zakaria, mazhab Syafi’i masuk di Lombok sekitar pertengahan abad ke-19 Masehi.
Perkembangan pesat penganut mazhab Syafi’i dari kalangan masyarakat suku Sasak tidak lepas dari peran yang dimainkan oleh para ulama atau Tuan Guru, terutama sepulang mereka dari belajar di Timur Tengah (Makkah).[5]
Kebudayaan Sasak yang sedang berkembang sekarang ini tampaknya secara evolusi sudah banyak yang berubah mengarah kepada yang Islami, positif dan sejalan dengan ajaran Islam yang dipeluk oleh mayoritas masyarakat Sasak itu sendiri.
Sumber:
[1]Erni Budiwanti, Islam Sasak: Wetu Telu Versus Waktu Lima, (Yogyakarta: LKIS Press, 2000), hlm. 4.
[2]Sven Cederroth, The Spell of the Ancestor and the Power of Makkah: Sasak Community in Lombok (Goteborg: Acta Universities Gothoburgensis, 1981), hlm. 23.
[3]Tito Adonis, Suku Terasing Sasak di Bayan, Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat, (Jakarta: DepDikBud RI, 1989), hlm. 45.
[4]Muhaimin Ali, “Praktek Keberagaman Masyarakat Islam Waktu Telu di Lombok Nusa Tenggara Barat”, Tesis, Jakarta: Universitas Muhammadiyah Jakarta, 1999, hlm 54.
[5]Fathurrahman Zakaria, Mozaik Budaya Orang Mataram, (Mataram: Yayasan Sumur Mas al-Hamidy, 1998), hlm. 16.
https://www.mediadakwah.net/
Budaya suku sasak unik dan berbeda dibandingkan dengan budaya dari 1.300 budaya suku yang ada di Indonesia. Sebuah pulau yang terletak di sebelah Timur Bali dan sebelah Selatan Sumbawa. Pada bagian Barat, terletak selat Lombok dan pada bagian Timur, terdapat selat Alas.
Di sebelah Utara lombok berbatasan dengan laut Jawa dan disebelah Timur lautan Indonesia di bagian Selatannya.[1]
Sebelum agama Islam datang ke Pulau Lombok, masyarakat khususnya Suku Sasak masih menganut berbagai kepercayaan seperti animisme, dinamisme dan Hindu. Diperkirakan masuknya Hindu ke Pulau Lombok karena hadirnya Majapahit.
Kemudian pada akhir abad 16 banyak para pendatang dari Pulau Jawa yang bermigrasi ke Pulau Lombok sambil menyebarkan agama Islam oleh Sunan Prapen putra Sunan Giri yang berkuasa di Giri Jawa Timur pada waktu itu, sehingga agama masyarakat Sasak berubah yang sebelumnya beragama Hindu menjadi agama Islam.
Sampai saat ini penduduk Pulau Lombok khususnya Suku Sasak memeluk agama Islam. Sebagian pemeluk agama Hindu pada masyarakat Sasak adalah para penduduk keturunan Bali. Selain itu juga terdapat agama lain seperti Kristen dan Budha yang dipeluk oleh masyarakat dari berbagai suku dan etnis yang bermukim dipulau ini.[2]
Pandangan masyarakat tentang kebudayaan bermacam-macam dan pada prinsipnya dapat dikelompokkan menjadi beberapa sesuai dengan lingkungannya, baik lingkungan instansi pemerintahan, lingkungan pedagang, lingkungan agama, lingkungan keluarga dan lain sebagainya.
Lingkungan instansi pemerintahan umpamanya cenderung mengakaitkan istilah kebudayaan tersebut dengan “fungsi kebudayaan” itu sendiri, yaitu untuk menjalin persatuan dan kesatuan bangsa. Sementara, kelompok lingkungan pedagang cenderung menghubungkan istilah kebudayaan dengan masalah “ekonomi” atau masalah mata pencaharian hidup.
Sedangkan lingkungan kelompok agama cenderung untuk berpandangan bahwa kebudayaan itu bertumpu pada masalah nilai-nilai yang terdapat pada Pancasila, khususnya yang berhubungan dengan Ketuhanan Yang Maha Esa. Dengan kata lain, kebudayaan nasional itu tidak boleh bertentangan dengan nilai-nilai serta ajaran agama.
Islam masuk di kalangan masyarakat Sasak diperkirakan kurang lebih sejak abad ke-16 Masehi yang lalu. Di dalamnya telah lahir berbagai kelompok dan varian Islam seperti yang dikenal dengan kelompok Islam Wetu Telu dan kelompok Islam Waktu Lima.
Kepercayaan dari kelompok Islam Wetu Telu merupakan sinkretisme antara ajaran Buddha, Hindu dan Islam. Mereka tidak menjalankan ajaran Islam secara sempurna, akan tetapi sebagian saja.
Sementara itu, kelompok Islam Waktu Lima, yaitu mereka yang berusaha menerapkan ajaran Islam secara lengkap, selama ini telah berkembang di pulau Lombok.
Program Islamisasi yang diterapkan oleh para Tuan Guru yang menjadi tokoh di kalangan masyarakat Lombok, termasuk di kalangan masyarakat Islam Wetu Telu, melalui berbagai cara yang dapat mereka lakukan, telah membawa hasil yang positif, meskipun sedikit atau banyak telah menimbulkan konflik di kalangan masyarakat yang bersangkutan.
Sementara itu, akulturasi nilai-nilai Islam ke dalam elemen-elemen kebudayaan Sasak telah terjadi pula sedemikian rupa.[3]
Golongan Islam Wetu Telu pada umumnya kehidupan mereka masih sederhana baik dalam tindakan maupun perkataannya. Kesetiaan yang tinggi terhadap pemimpin, dan tidak mempunyai pandangan selain dari apa yang telah digariskan oleh pemimpin-pemimpin mereka.
Sedangkan Islam Waktu Lima di tandai oleh ketaatan yang tinggi terhadap ajaran-ajaran Islam. Komitmen tersebut mereka tunjukkan dengan ketaatan yang demikian tinggi dalam beribadah, terlihat dalam kehidupan sehari-hari.
Pelaksanaan rukun Islam yang lima lebih terlihat jelas dalam perilaku ibadah. Rukun Islam yang lima ini adalah syahadatain, sholat, puasa pada bulan ramadhan, zakat dan haji bagi yang mampu.
Ketaatan terhadap rukun Islam yang lima ini kemudian mempengaruhi komitmen mereka terhadap adat istiadat lokal semakin menipis. Bahkan adat yang dianggap bertentangan dengan syariah disingkirkan dan hanya bagian-bagian tertentu saja dari adat istiadat yang masih dipertahankan.
Islam Lima Waktu adalah penganut Islam yang selama ini berusaha menjalankan ajaran agama berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits sebagaimana yang diterapkan oleh umat Islam pada umumnya.
Berbeda dengan penganut Islam Wetu Telu, penganut Islam Waktu Lima adalah mereka yang menerapkan ajaran sholat lima waktu sehari semalam, pelaksanaannya tidak diwakilkan kepada siapapun, termasuk kepada kyai. Demikian juga halnya dengan rukum Islam yang lain, mereka berusaha menjalankannya dan menganggap sebagai suatu kewajiban.[4]
Penganut Islam Waktu Lima di kalangan suku Sasak, dominan bermazhab Syafi’i. Doktrin ini terlihat jelas menjadi ideologi utama bagi organisasi besar yang berkembang di Lombok sampai saat ini, yaitu Nahdlatul Wathan (NW) dan Nahdlatul Ulama (NU).
Mengenai kapan masuknya pengaruh mazhab Syafi’i di kalangan penganut Islam Lima Waktu, menurut Fathurrahman Zakaria, mazhab Syafi’i masuk di Lombok sekitar pertengahan abad ke-19 Masehi.
Perkembangan pesat penganut mazhab Syafi’i dari kalangan masyarakat suku Sasak tidak lepas dari peran yang dimainkan oleh para ulama atau Tuan Guru, terutama sepulang mereka dari belajar di Timur Tengah (Makkah).[5]
Kebudayaan Sasak yang sedang berkembang sekarang ini tampaknya secara evolusi sudah banyak yang berubah mengarah kepada yang Islami, positif dan sejalan dengan ajaran Islam yang dipeluk oleh mayoritas masyarakat Sasak itu sendiri.
Sumber:
[1]Erni Budiwanti, Islam Sasak: Wetu Telu Versus Waktu Lima, (Yogyakarta: LKIS Press, 2000), hlm. 4.
[2]Sven Cederroth, The Spell of the Ancestor and the Power of Makkah: Sasak Community in Lombok (Goteborg: Acta Universities Gothoburgensis, 1981), hlm. 23.
[3]Tito Adonis, Suku Terasing Sasak di Bayan, Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat, (Jakarta: DepDikBud RI, 1989), hlm. 45.
[4]Muhaimin Ali, “Praktek Keberagaman Masyarakat Islam Waktu Telu di Lombok Nusa Tenggara Barat”, Tesis, Jakarta: Universitas Muhammadiyah Jakarta, 1999, hlm 54.
[5]Fathurrahman Zakaria, Mozaik Budaya Orang Mataram, (Mataram: Yayasan Sumur Mas al-Hamidy, 1998), hlm. 16.
https://www.mediadakwah.net/
Saat awal era Renaissance Jepang, yang dikenal sebagai era Meiji,
dimulai pada tahun 1868, hanya dua negara di Asia yang menikmati
kemerdekaan, yaitu Kekhalifahan Ottoman dan Jepang.
Karena keduanya berada di bawah tekanan dari negara-negara Barat, mereka memutuskan untuk membangun hubungan persahabatan di antara mereka dan kemudian mereka mulai bertukar kunjungan. Yang paling penting dari kunjungan ini adalah misi yang dikirim oleh Abdul Hamid II (memerintah 1876-1909) ke Jepang dengan kapal laut Ertugrul yang mengangkut lebih dari enam ratus perwira dan tentara yang dipimpin oleh laksamana Uthman Pasha pada tahun 1890.
Di perjalanan pulang, setelah misi itu berhasil mencapai Jepang dan bertemu Kaisar Jepang, badai menerjang kapal saat masih di perairan Jepang, menyebabkan kematian lebih dari 550 orang termasuk adik Sultan.
Bencana tersebut membuat kedua pihak begitu bersedih dan awak kapal yang diangkur dengan dua kapal Jepang ke Istanbul. Para korban dimakamkan di lokasi kecelakaan dan sebuah museum didirikan tidak jauh dari lokasi kecelakaan. Turki Jepang dan masih memperingati kejadian ini sampai hari ini di tempat yang sama dari kecelakaan setiap lima tahun meskipun pemerintah yang berkuasa selalu berubah.
Seiring dengan kedatangan kapal dari Jepang dan tentara Turki yang selamat, seorang wartawan muda Jepang dengan nama Torajiro Noda ikut bersama rombongan dan membawa sumbangan dari Jepang untuk keluarga tentara Turki yang meninggal. Ia datang ke Istanbul, menyerahkan sumbangan tersebut kepada pemerintah Turki dan bahkan bertemu Sultan Abdul Hamid II, yang memintanya untuk tinggal di Istanbul dan mengajarkan bahasa Jepang kepada para pegawai Khalifah Turki Utsmaniyah.
Selama tinggal di Istanbul, dia bertemu Abdullah Guillaume, seorang Muslim Inggris dari Liverpool, Inggris yang memperkenalkan Noda kepada Islam. Cukup yakin setelah diskusi panjang bahwa Islam adalah kebenaran, Noda memeluk Islam dan memilih untuk berganti nama menjadi Abdul Haleem, sebuah pamflet dokumen Turki menunjukkan hal ini.
Bahkan, Abdul Haleem Noda bisa dianggap sebagai Muslim Jepang pertama. Segera setelah itu, seorang lain dari Jepang bernama Yamada pergi ke Istanbul pada tahun 1893 untuk memberikan donasi yang telah dikumpulkannya untuk keluarga tentara Turki yang meninggal di Jepang. Selanjutnya Yamada mempelajari Islam dan kemudian memeluk Islam, menjadi orang Jepang kedua memeluk Islam, ia mengganti namanya menjadi Khaleel, atau mungkin Abdul Khaleel. Dia tinggal di Istanbul beberapa tahun untuk berdagang dan terus melakukan hubungan persahabatan dengan Turki setelah pulang ke Jepang sampai kematiannya.
Orang Jepang ketiga untuk memeluk Islam adalah seorang pedagang Kristen dengan nama Ahmad Ariga. Ia mengunjungi Bombay, India pada tahun 1900. Pemandangan yang indah dari Masjid di sana menarik perhatiannya, ia pergi ke masjid dan menyatakan masuk Islam. Selama periode ini, sejumlah pedagang Muslim India tinggal di Tokyo, Yokohama, dan Kobe, mereka dianggap komunitas Muslim pertama di Jepang.
Sumber: Worldbulletin.net ,http://www.muslimdaily.net/
Karena keduanya berada di bawah tekanan dari negara-negara Barat, mereka memutuskan untuk membangun hubungan persahabatan di antara mereka dan kemudian mereka mulai bertukar kunjungan. Yang paling penting dari kunjungan ini adalah misi yang dikirim oleh Abdul Hamid II (memerintah 1876-1909) ke Jepang dengan kapal laut Ertugrul yang mengangkut lebih dari enam ratus perwira dan tentara yang dipimpin oleh laksamana Uthman Pasha pada tahun 1890.
Di perjalanan pulang, setelah misi itu berhasil mencapai Jepang dan bertemu Kaisar Jepang, badai menerjang kapal saat masih di perairan Jepang, menyebabkan kematian lebih dari 550 orang termasuk adik Sultan.
Bencana tersebut membuat kedua pihak begitu bersedih dan awak kapal yang diangkur dengan dua kapal Jepang ke Istanbul. Para korban dimakamkan di lokasi kecelakaan dan sebuah museum didirikan tidak jauh dari lokasi kecelakaan. Turki Jepang dan masih memperingati kejadian ini sampai hari ini di tempat yang sama dari kecelakaan setiap lima tahun meskipun pemerintah yang berkuasa selalu berubah.
Seiring dengan kedatangan kapal dari Jepang dan tentara Turki yang selamat, seorang wartawan muda Jepang dengan nama Torajiro Noda ikut bersama rombongan dan membawa sumbangan dari Jepang untuk keluarga tentara Turki yang meninggal. Ia datang ke Istanbul, menyerahkan sumbangan tersebut kepada pemerintah Turki dan bahkan bertemu Sultan Abdul Hamid II, yang memintanya untuk tinggal di Istanbul dan mengajarkan bahasa Jepang kepada para pegawai Khalifah Turki Utsmaniyah.
Selama tinggal di Istanbul, dia bertemu Abdullah Guillaume, seorang Muslim Inggris dari Liverpool, Inggris yang memperkenalkan Noda kepada Islam. Cukup yakin setelah diskusi panjang bahwa Islam adalah kebenaran, Noda memeluk Islam dan memilih untuk berganti nama menjadi Abdul Haleem, sebuah pamflet dokumen Turki menunjukkan hal ini.
Bahkan, Abdul Haleem Noda bisa dianggap sebagai Muslim Jepang pertama. Segera setelah itu, seorang lain dari Jepang bernama Yamada pergi ke Istanbul pada tahun 1893 untuk memberikan donasi yang telah dikumpulkannya untuk keluarga tentara Turki yang meninggal di Jepang. Selanjutnya Yamada mempelajari Islam dan kemudian memeluk Islam, menjadi orang Jepang kedua memeluk Islam, ia mengganti namanya menjadi Khaleel, atau mungkin Abdul Khaleel. Dia tinggal di Istanbul beberapa tahun untuk berdagang dan terus melakukan hubungan persahabatan dengan Turki setelah pulang ke Jepang sampai kematiannya.
Orang Jepang ketiga untuk memeluk Islam adalah seorang pedagang Kristen dengan nama Ahmad Ariga. Ia mengunjungi Bombay, India pada tahun 1900. Pemandangan yang indah dari Masjid di sana menarik perhatiannya, ia pergi ke masjid dan menyatakan masuk Islam. Selama periode ini, sejumlah pedagang Muslim India tinggal di Tokyo, Yokohama, dan Kobe, mereka dianggap komunitas Muslim pertama di Jepang.
Sumber: Worldbulletin.net ,http://www.muslimdaily.net/
SEORANG akhwat aktivis dakwah di akun Facebook-nya
mengeluhkan ada seorang laki-laki tak dikenal mengirim pesan singkat
berisi kata-kata yang kurang berkenan di hatinya ke nomor HP (handphone)
nya. Padahal, katanya, dia tidak pernah memberikan nomor HP sembarangan
kepada laki-laki. Jika akunnya dilihat, dia suka mengupdate akunnya
dengan tulisan dan foto-foto selain yang berkaitan dengan hal-hal yang
penting seperti dakwah dan ilmu, juga hal-hal yang remeh-temeh seperti aktivitas makan, makanan yang disukai dan jalan-jalan.
Seorang istri dari ustadz kaliber internasional juga mengeluhkan di status Facebook-nya
ada laki-laki yang mengomentari dengan kata-kata yang kurang berkenan
di hatinya. JIka dilihat, di akunnya dia suka dan sering mengupdate
statusnya dengan tulisan dan foto-foto aktivitas-aktivitas pribadi dan
keluarga seperti jalan-jalan dan rekreasi.
Seorang Muslimah yang berkarier sebagai guru dan sudah bersuami, di Facebook dan di BBM (Blackberry Message), bukan hanya suka mengupdate dengan foto-foto close up,
tulisan dan foto-foto tentang aktivitas pribadinya di rumah dan di
sekolah dan aktivitas keluarga, tapi juga bahkan dengan kata-kata manja
yang hanya pantas ditujukan kepada suaminya seperti kata-kata “I miss u all” dan “Kalau kangen sama aku ping aku di BBM, PIN ku….”.
Seorang Muslimah lain yang berkarier sebagai PNS dan juga sudah bersuami di akun Facebook-nya selain sering meng—update-nya dengan foto-foto close-up juga dengan kata-kata yang menggambarkan suasana rumah seperti yang lagi sepi dan suasana hatinya seperti merasa kesepian.
Dalam akun keempat wanita tersebut, setiap
teman mereka, tidak terbatas yang wanita saja, tapi juga yang laki-laki
bisa mengikuti dan mengomentari setiap status mereka. Dengan alasan
media sosial adalah dunia maya yang bebas, ada saja laki-laki yang
memang suka iseng atau yang lagi ingin iseng memberikan
komentar-komentar yang “nakal” seperti “Aku juga kangen” “Wah, bu guru
cantik sekali” dan “Mbak secantik bunga di samping mbak”.
Kita berbaik sangka, mereka adalah wanita-wanita yang beriman. Kita berbaik sangka, mereka tidak berniat caper dari laki-laki ajnaby
(asing yakni bukan suami dan muhrimnya). Yang menjadi masalah adalah,
berniat caper ataupun tidak, segala ekspresi wanita dalam bentuk tulisan
dan foto akan bisa menarik perhatian laki-laki untuk membaca tulisan,
melihat foto dan memberkan komentar termasuk yang “nakal”. Dengan
demikian, meskipun mereka tidak berniat caper, perbuatan mereka bisa
dikategorikan sebagai perilaku jahiliyah karena bisa menimbulkan fitnah.
Lain halnya dengan wanita-wanita jahiliyah
modern, yakni wanita-wanita kafir di masa kini. Mereka memang tidak
tahu dan tidak ingin tahu akan batas-batas dan tidak peduli akan akibat
dari pelanggaran batas. Karena kejahiliyahannya, mereka dengan sengaja
memposting apa saja untuk caper dari laki-laki.
Media sosial memang dunia maya, bukan
dunia nyata, dimana setiap orang bisa mengekspresikan diri dengan
sebebas-bebasnya. Dan memang yang ada di dalam media sosial sekadar foto
dan tulisan. Tapi meskipun begitu setiap kata dan gambar pasti ada
pengaruhnya dalam jiwa, hati dan pikiran siapa saja, baik pemilik akun
maupun teman-temannya. Bohong jika pemilik akun mengatakan tidak merasa
senang dan puas setelah setiap mengekspresikan diri di akunnya, apalagi
jika dikomentari dengan kata-kata yang menunjukkan perhatian. Siapa juga
bisa terkena penyakit jiwa berupa ketagihan, ingin selalu
mengekspresikan diri dan ingin selalu mendapatkan perhatian dari orang
lain, baik perempuan maupun laki-laki.
Ketagihan adalah satu dampak negatif media sosial. Satu dampak negatif lainnya yang lebih berat mudharatnya
adalah timbulnya fitnah pada diri pribadi, keluarga hingga negara. Satu
fitnah yang sudah kerap terjadi di jaman ini pada diri pribadi wanita
adalah pelecehan seksual mulai dari kata-kata melalui tulisan dan lisan
hingga “aksi nyata”. Di lingkup keluarga adalah rusaknya keharmonisan
antar anggota keluarga, antara suami dan istri, serta antara anak dan
orangtua. Di lingkup negara, termasuk di negara kita adalah dari tahun
ke tahun makin meningkat jumlah kasus perceraian.
Ajakan dan Harapan
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ
أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ
إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى
جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ
آَبَائِهِنَّ أَوْ آَبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ
أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ
أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ
أَيْمَانُهُنََ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ
الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ
النِّسَاءِ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ
مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا
الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Artinya: Katakanlah kepada wanita
yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara
kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang
(biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung
ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada
suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra
mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki
mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra
saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak
yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai
keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang
aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui
perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu sekalian kepada
Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An-Nuur [24]:31)
Dalam ayat di atas, Allah Subhanahu
Wata’ala memberikan beberapa perintah dan larangan untuk ditaati
wanita-wanita beriman yang hidup pada masa diturunkannya ayat di atas,
pada masa kini hingga akhir jaman. Salah satu larangan Allah Subhanahu
Wata’ala adalah meniru perbuatan wanita-wanita jahiliyah di masa
Rasulullah saw, berupa memukulkan atau menghentakkan kaki di tanah
ketika berjalan agar diketahui gelang yang mereka pasang di pergelangan
kaki.
Para wanita jahiliyiah di masa itu
mempunyai kesukaan caper dari laki-laki. Cara-caranya belum secanggih,
semasif dan seinstan jaman ini. Cara-caranya masih sangat sederhana. Ada
beragama cara, salah satunya adalah dengan membunyikan suara
gemerincingan gelang di kaki mereka dengan menghentakkan kaki ketika
berjalan.
Wahai saudariku, kau adalah wanita
Mukminah. Isi akun-akunmu menunjukkan isi hati dan otak kalian,
kedangkalan atau kedalaman ilmu agamamu, tingkat kesholehanmu, kualitas
amal ibadahmu, bagus-buruknya akhlaqmu, serta tingkat ketaqwaanmu.
Luruskan niat dan tujuanmu dalam
menggunakannya karena Allah. Mulailah dengan nama Allah dengan ucapan
Basmalah ketika akan menggunakannya. Sertakan Allah ketika
menggunakannya. Pujilah Allah dan bersyukurlah kepada Allah dengan
ucapan Hamdalah setelah menggunakannya.. Itulah sebagian amaliyah yang
mesti kau lakukan agar kau tidak mengikuti langkah-langkah setan modern
berupa wanita-wanita jahiliyah yang hidup di masa modern ini yang suka
caper baik di dunia maya maupun di dunia nyata. Agar kau bebas dari
segala penyakit hati seperti riya’ dan sum’ah. Agar kau mengisinya hanya
dengan hal-hal yang halal, yang tidak remeh-temeh, yang baik
dan bermanfaat bagi diri dan umat. Serta agar kau tidak mementingkan dan
memerlukan perhatian dari laki-laki ajnaby karena memang itu tidaklah
penting dan kau perlukan demi kebahagiaan sejati di dunia, terlebih di
akhirat.
Wahai saudaraku, lihat dan beri penilaian isi akun-akun istri, anak-anak dan saudari-saudarimu!
Jika terdapat hal-hal yang syubhat,
makruh, apalagi haram, nasehatilah mereka dengan baik-baik, dengan cara
dan kata-kata yang baik. Jangan biarkan mereka. Jika kau biarkan mereka,
maka rasakanlah juga pada dirimu sendiri akibatnya di dunia dan
akhirat.
Ingat dan amalkan ayat berikut;
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا
أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ
عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا
أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
“Artinya: Hai orang-orang yang
beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan
bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang
kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang
diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang
diperintahkan.” (QS: At-Tahrim [66]:6). Wallahu a’lam. [Sumber Tulisan: HIDAYATULLAH.com]
SEORANG pastor di Nigeria, Adekunle Afolabi, memeluk Islam dan mengubah gerejanya menjadi masjid. Ia pun mengubah namanya menjadi Abu Bakar Afolabi.
Pendiri dan pemimpin Gereja Apata Adura Cherubim and Seraphim, di Ekute, Ado-Ekiti, negara bagian Ekiti, ini sebelum masuk Islam mengaku bermimpi didatangi oleh seorang pria berbaju putih.
"Ketika itu saya sedang menyiapkan ulang tahun, saat itulah saya mulai didatangi mimpi-mimpi aneh dan membuat saya memutuskan untuk pindah agama," ujar Adekunle Afolabi seperti dikutip Dailypost Nigeria, Kamis (6/8/2015).
Pada awal mimpi itu ia mengatakan melihat jamaah sedang duduk di lantai. Namun beberapa dari mereka menutup kepalanya.
"Kemudian saya juga melihat beberapa orang yang masuk gereja dengan mencuci tangan dan kaki mereka. Hal ini jelas sekali seperti apa yang dilakukan oleh umat muslim ketika hendak melakukan ibadah," jelasnya.
Menurutnya, pria berjubah putih di dalam mimpinya menunjukkan bahwa Islam merupakan satu-satunya petunjuk yang membantunya menemukan surga.
"Saat ini banyak sekali umat Islam yang beribadah. Saya bahkan tidak dapat menghitung jumlahnya," ujarnya.
Keputusannya masuk Islam mendapatkan reaksi yang berbeda-beda dari keluarga dan teman-temannya.
"Mereka paham, selama ini saya tidak pernah berbohong. Jadi, ketika saya memutuskan untuk masuk Islam, mereka menghormati keputusan ini," ujarnya.
Muslim di Nigeria merupakan penduduk mayoritas, yakni sekitar 55 persen dari 140 juta total penduduk. Umat kristiani berjumlah 40 persen. Mayoritas Muslim tinggal di bagian utara dan warga Kristen di bagian selatan. Keduanya hidup rukun dan damai selama berabad-abad hingga kini.*
sumber: http://www.news.risalahislam.com/
You're reading Pastor di Nigeria Masuk Islam dan Ubah Gereja Jadi Masjid. Please share...!
Pendiri dan pemimpin Gereja Apata Adura Cherubim and Seraphim, di Ekute, Ado-Ekiti, negara bagian Ekiti, ini sebelum masuk Islam mengaku bermimpi didatangi oleh seorang pria berbaju putih.
"Ketika itu saya sedang menyiapkan ulang tahun, saat itulah saya mulai didatangi mimpi-mimpi aneh dan membuat saya memutuskan untuk pindah agama," ujar Adekunle Afolabi seperti dikutip Dailypost Nigeria, Kamis (6/8/2015).
Pada awal mimpi itu ia mengatakan melihat jamaah sedang duduk di lantai. Namun beberapa dari mereka menutup kepalanya.
"Kemudian saya juga melihat beberapa orang yang masuk gereja dengan mencuci tangan dan kaki mereka. Hal ini jelas sekali seperti apa yang dilakukan oleh umat muslim ketika hendak melakukan ibadah," jelasnya.
Menurutnya, pria berjubah putih di dalam mimpinya menunjukkan bahwa Islam merupakan satu-satunya petunjuk yang membantunya menemukan surga.
"Saat ini banyak sekali umat Islam yang beribadah. Saya bahkan tidak dapat menghitung jumlahnya," ujarnya.
Keputusannya masuk Islam mendapatkan reaksi yang berbeda-beda dari keluarga dan teman-temannya.
"Mereka paham, selama ini saya tidak pernah berbohong. Jadi, ketika saya memutuskan untuk masuk Islam, mereka menghormati keputusan ini," ujarnya.
Muslim di Nigeria merupakan penduduk mayoritas, yakni sekitar 55 persen dari 140 juta total penduduk. Umat kristiani berjumlah 40 persen. Mayoritas Muslim tinggal di bagian utara dan warga Kristen di bagian selatan. Keduanya hidup rukun dan damai selama berabad-abad hingga kini.*
sumber: http://www.news.risalahislam.com/








