Syekh Maulana Muhammad Asnawi Al-Karim (Embrio Penyebar Islam di Tanah Kebumen)

6/16/2017

Syekh Maulana Muhammad Asnawi Al-Karim (Embrio Penyebar Islam di Tanah Kebumen)

"Kebumen merupakan salah
 satu daerah disekian banyak Kabupaten dan Kota di Provinsi Jawa Tengah.
 Kota yang mempunyai slogan “Beriman” (Bersih, Indah, Manfaat, Aman dan
Nyaman) ini tidak terlepas dari hakikat maupun seluk-beluk kesejarahan
yang ada dalam kota ini. Sebagai pusat islamisasi di Jawa khususnya di
daerah bagian Pesisir Selatan atau Laut Selatan, Kebumen pantas mendapat
 slogan “Beriman”. Jika di Pantai Utara Jawa satu kota atau Kabupaten
yang mendapat gelar “Beriman” adalah kota Gresik. Maka di bagian Pantai
Selatan, gelar itu tertancap pada Kabupaten Kebumen. Sebab, tidak dapat
dipungkiri kalau kedua kota ini memang pada faktanya banyak mencetak
wali-wali Allah. Hampir disetiap Kecamatan, Desa maupun Dusun, di
Kebumen umumnya terdapat orang penting pada masa lalunya. Khususnya
ketika Walisongo mulai menjelajahi daerah ini (abad ke-XIII/XIV-an).
Oleh karena itu, Kebumen pantas mendapat title baru sebagai Kota “Seribu
 Wali”.
Islam boleh jadi sudah tersebar kepada seluruh masyarakat Kebumen bagian
 Selatan, terutama pada abad ke-XVI. Teori ini bisa dibuktikan dengan
adanya makam-makam para penyebar agama Islam yang sangat berpengaruh
kala itu. Salah satu makam yang dapat dijadikan barang bukti ini adalah
makam Mbah Asnawi. Nama lengkapnya adalah Syekh Maulana Muhammad Asnawi

Syekh Maulana Muhammad Asnawi Al-Karim (Embrio Penyebar Islam di Tanah Kebumen)


Al-Karim. Seorang da’i yang juga sekaligus pedagang kain dari Purworejo.
Makam yang sepi akan pengunjung ini terletak di Dukun Pandean Desa
Jogomertan RT 03 RW 01, Kecamatan Petanahan, Kabupaten Kebumen. Menurut
Kyai Durjani (80), salah seorang keturunan (buyut) dari Syekh Asnawi
menuturkan bahwa, makam tersebut sudah ada sejak sekitar tahun 1600-an.
Sebagai salah satu tokoh masa awal penyebar Islam di Kebumen bagian
selatan tepatnya di Jogomertan, Syekh Asnawi sudah sepatutnya mendapat
apresiasi yang tinggi. Andaikan beliau saja masih hidup pasti saya akan
memberikan penghargaan kepadanya sebagai khalifatullah fi al-Jawi.
Artinya seorang yang mendapat amanat oleh Allah SWT untuk menyebarkan
agama-Nya di tanah Jawa. Ini bukan berarti saya menyamakannya dengan
seorang Nabi, namun pada hakikatnya semua manusia adalah orang yang
diamanatkan Allah untuk berbuat kebaikan di bumi, sebagai pemimpin di
bumi (khalifatullah fi al-ardhi).
Diriwayatkan dari Sufiah (87) dan Mahmud (83), dua orang murid Kyai
Kijam, dari Kyai Kijam dari Abdullah Alwi bin Asnawi bahwa, “sebelum
matahari terbit Syekh Asnawi sudah berangkat ke Jogomertan dari
Purworejo. Kemudian sesampainya di Jogomertan, beliau berjualan
sandangan atau celana pendek yang biasa digunakan masyarakat untuk
memanjat pohon kelapa (nderes). Beliau belum akan pulang kalau belum
berhasil mengislamkan (berdakwah) kepada masyarakat disana. Walau hanya
satu orang sehari yang masuk Islam, itu sudah sangat menenangkan hati
beliau”. Sungguh mulia niat dan tujuan beliau, berdagang sembari
berdakwah. Tidak salah jika beliau mendapat julukan al-Karim, karena
perjuangannya yang mulia tersebut.
Makam Syekh Asnawi biasanya diziarahi oleh para keturunan beliau sendiri
 yang tinggal di Desa Jogosimo. Warga Jogomertan sendiri juga jarang
yang mengunjungi makam beliau. Mungkin mereka belum tahu kalau makam
yang biasa mereka lewati secara cuma-cuma itu sebenarnya makam
waliyullah yang mulia, seorang embrio penyebar Islam di Kebumen Selatan
(Petanahan dan Klirong). Kenapa saya menyebutkan dua kecamatan tersebut?
 Kalau diruntut jalan ceritanya begini, jadi Syekh Asnawi mempunyai
putra bernama Abdullah Alwi. Abdullah Alwi kemudian mempunyai empat
putra, Hasan Musthofa (dikenal dengan sebutan Kyai Topo), Husein
Abdullah (dikenal dengan Kyai Kusen), Mohammad Ishaq (dikenal dengan
Kyai Skaq) dan Samhudi (Kyai Kijam). Nah, dari empat saudara ini
kemudian dakwah Islamiyah semakin berkembang maju di wilayah Jogomertan
dan sekitarnya.
Pembagian wilayah teritorial dakwah pun dilakukan oleh keempat serangkai
 ini. Mulai dari Kyai Husein Abdullah yang juga seorang anggota AOI,
berdakwah dibagian Jogomertan Utara. Kyai Kijam, yang menurut riwayat
lisan masyarakat Jogomertan merupakan seorang ‘alim. Bisa dikatakan
paling pandai akan hal ilmu agamanya dibandingan ketiga saudaranya. Ia
berdakwah sekaligus mendirikan padepokan disana. Menurut cerita murid
Kyai Kijam, Mohammad Mahmud (83) menuturkan bahwa, “sekitar abad ke-XX
tepatnya tahun 40-an, orang-orang yang mengaji kepada Kyai Kijam tak
bisa disebutkan dari mana saja asalnya. karena memang sangat banyak.
Hampir seluruh orang yang berasal dari desa di Kecamatan Petanahan dan
Klirong ada yang mengaji kepada belia. Dan mungkin karena keberkahan
ngajinya itu, mereka para santri dapat menjadi orang yang berpengaruh di
 desanya masing-masing sekaligus melahirkan keturunan yang juga disegani
 masyarakat.” Jika melihat apa yang dikemukakan oleh salah satu murid
Kyai Kijam tadi, memang ada benarnya. Satu bukti yang dapat
membenarkannya adalah terbuangnya bungkus-bungkus dinamisme dan animisme
 yang ada dalam masyarakat Jogomertan dan sekitarnya (Jogosimo, Tambak
Progaten, Gebangsari, Ampelsari dan lain sebagainya).
Ini tidak lain juga disebabkan karena dakwah dari Kyai Hasan Musthofa
(Kyai Topo) dan Mohammad Ishaq (Kyai Skaq) kepada masyarakat Jogosimo
dan sekitarnya. Kalau Kyai Topo yang bertugas membimbing masyarakat,
maka lain dengan Kyai Skaq yang lebih menggunakan politik atau kekuasaan
 sebagai kendaraan dakwahnya. Kedua saudara dari empat saudara ini,
kerja sama antara kekuasaan dengan ulama. Karena menurut riwayat yang
ada, Kyai Skaq merupakan salah satu lurah generasi awal di Desa
Jogosimo. Kolaborasi antara Kyai Skaq dengan Kyai Topo ini ternyata
menghasilkan buah yang manis dalam penyebaran dan perkembangan Islam di
wilayah Pesisir Selatan Kebumen, terutama di Kecamatan Petanahan dan
Klirong.
Ketika Kyai Topo berdakwah langsung kepada masyarakat Jogosimo dan
sekitarnya yang waktu itu masih abangan, ia disambut dengan gembira oleh
 masyarakat disana. Karena selain ke-’alim-annya, ia juga seorang yang
sopan, menghargai adat dan kebiasaan masyarakat. Kalau ada orang yang
sakit, dengan izin Allah SWT Kyai Topo dapat menyembuhkannya. Dengan
melihat karomah dan akhlak Kyai Topo yang demikian, akhirnya masyarakat
sepenuhnya memeluk Islam dengan benar, jauh dari praktik kesyirikan.
Sepeninggalnya Kyai Topo pada tahun 1954, dakwah Islam tidak stagnan
begitu saja. Namun, anak keturunan beliau seperti KH. Abu Sufyan
Musthofa dan KH. Abu Darin Musthofa adalah penerus perjuangan dakwah
Kyai Topo. Jika pembaca berasal dari Kebumen, mungkin akan lebih
mengenal atau minimal pernah mendengar nama dua tokoh ulama yang sangat
urgen tersebut. Jasa-jasa kedua tokoh ulama akhir abad XI ini sangat
signifikan. Dibangunnya Pondok Pesantren dan Madrasah bernama “Al-Huda”
di Jogosimo merupakan salah satu kontribusi KH. Abu Sufyan untuk
masyarakat Kebumen pada umumnya. KH. Abu Darin sebagai seorang tokoh
spiritual yang juga disegani oleh masyarakat Kebumen, yang konon dapat
berkomunikasi dengan Nyai Loro Kidul.
Sehingga ketika ada orang yang tenggelam di Laut Selatan, maka
keluarganya pasti akan sowan ke beliau untuk berkonsultasi tentang
korban yang hanyut terbawa ombak ganas Pantai Selatan. Mereka percaya
melalui Kyai Abu Darin, Allah SWT akan menunjukkan serta mengembalikan
keluarga mereka yang meninggal akibat terbawa ombak tadi. Dan akhirnya,
memang Allah melalui KH. Abu Darin menunjukkan dan mengembalikkan korban
 tenggelam, walaupun sudah meninggal. Karena mereka umumnya masih
percaya kalau ada seseorang yang meninggal hanyut terbawa ombak Pantai
Selatan, itu berkaitan erat dengan penguasa atau Ratu Pantai Selatan.
Maka, dengan ini Kyai Abu Darin menjadi andalan mereka untuk mengetahui
seseorang yang bermasalah dengan Pantai Selatan. Namun walaupun demikia,
 masyarakat tetap berkeyakinan kalau dari Allah-lah semata-mata suatu
masalah dapat diketahui dan diselesaikan. Kyai Abu Darin hanyalah
seorang yang diberi kelebihan oleh Allah SWT untuk membantu masyarakat
menyelesaikan permasalahan yang terjadi.
Ya, memang dari sinilah saya ingin menunjukkan kepada pembaca semuanya
bahwa berkembangnya Islam sedamai dan seramai saat ini tidak terlepas
dari adanya sosok Syekh Maulana Muhammad Asnawi Al-Karim. Secara syariat
 atau fisik, masyarakat Jogomertan, Jogosimo, Tambakprogaten, Ampelsari,
 Petanahan, Klirong hingga Kebumen tidak akan memeluk ajaran Islam kalau
 tidak ada Syekh Asnawi. Namun, Tuhan telah berkata demikian. Dia telah
menakdirkan dan telah mengirimkan ratu adil kepada masyarakat tersebut
sebagai khalifatullah fi al-jawi. Sehingga Islam di Kebumen bagian
Selatan dapat berkembang baik sesuai dengan yang di inginkan agama

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

pesan di sini ...

Nama

Email *

Pesan *

Kata mutiara

Allah Masih Memberiku Waktu " Hari ini aku masih terbangun karena Allah masih memberiku waktu di dunia, memberiku waktu untuk hidup agar aku dapat menghapuskan dosa-dosaku dengan melakukan kebaikan"